O1. I Can't Help Falling In Love With You

2.3K 174 10
                                        

Take my hand
Take my whole life too
I can't help, falling in love
With you. —Elvis Presley

"Kevin, kemari sebentar" ujar coach kepada seorang laki-laki yang sedang sibuk berlatih bersama atlet lain.

"Iya coach." jawab Kevin sembari berjalan ke arah coachnya. Ia mengernyit heran melihat coachnya membawa seseorang yang tidak asing lagi bagi para atlet.

"Mulai saat ini kamu akan bermain ganda putra dengannya. —Tidak ada penolakan ataupun protes, Kevin" ucap coach ketika ia melihat Kevin membuka mulut ingin protes.

"Baik coach."

Sepersekian detik setelah coach meninggalkan mereka Kevin memperkenalkan dirinya kepada partner barunya.

"Kevin, Kevin Sanjaya Sukamuljo. Marcus Fernaldi Gideon, ya kan?" ucapnya sambil menjabat tangan partner barunya. Ya, moodnya benar benar jelek. Dia kan ingin jadi single player. Kenapa malah dipasangkan dengan Marcus? Dia benar-benar tidak tau jalan pikiran coachnya itu.

"Iya, Marcus Fernaldi Gideon. Panggil saja Sinyo," jawabnya sambil balas menjabat tangan Kevin. Ya dia Marcus Gideon, mantan partner ganda putra dari Markis Kido. Atlet legendaris itu. "Kita pernah beberapa kali bertemu di lapangan kan, Vin?" sambungnya lagi sembari tersenyum secerah matahari. Dia tidak menyadari betapa buruknya mood Kevin saat ini.

"Ya, ko. Kita pernah beberapa kali bertemu." jawabnya sambil tersenyum—senyum terpaksa tepatnya. "Kita mulai latihan besok ya ko, gue mau istirahat dulu. Lagi ga enak badan. Misi ko." sambil bersungut sungut Kevin mulai membereskan raket raketnya dan membawa tasnya kembali ke kamar.

๑๑๑

Sudah hampir 3 bulan Kevin dan Marcus dipasangkan. Kevin mulai agak menerima kenyataan dia menjadi pemain ganda putra. Dia pikir tidak buruk juga bermain ganda putra. Namun, walaupun begitu dia masih tidak akrab dengan Marcus. Entahlah padahal biasanya dia yang paling mudah berteman karena sifatnya yang tengil itu.

"Vin! Temenin ke depan yuk beli cemilan buat ntar malem," sebuah suara menyapa gendang telinga Kevin, membuyarkan lamunannya.

"Ntar malem mau ngapain lo, Jom?"

"Mau maraton film sama a' Fajar. Mumpung besok libur kan?" Rian—orang yang mengajak Kevin berbicara— atau biasa dipanggil Jombang itu menyahut.

"Lah? Trus ntar gue tidur sama sapa dong kalo lo sama bang Fajar? Sendirian gitu? Wegah cuk!" ucap Kevin bersungut sungut dengan aksen medhok-nya yang sangat kentara itu.

"Ya ga sendiri juga Pin, lo ntar sama Komar aja yo. Sewengi thok wae, Vin. Ya ya?"

"Yowis lah sakarepmu bae."

"Hehe Kevin cakep deh kalo gini. Yaudah kuy temenin gue ke depan." Rian menggamit lengan Kevin dan menariknya keluar dari ruang latihan. Sedangkan Kevin yang hanya pasrah saja ditarik Rian diam diam mengumpat dalam hati karena roommate-nya ini memutuskan hal seenaknya sendiri.

Disaat yang sama di pojok ruang latihan diam diam Marcus memperhatikan reaksi Kevin tadi. Ia terkekeh geli melihat betapa lucunya Kevin yang nesu-nesu terhadap Rian.

"Ko, ketawa ketawa sendiri kek gitu. Kesambet lo?" muncul sesosok eh seorang laki laki yang lumayan tinggi dengan aura jahil mendominasi, yap Fajar Alfian.

"Mbahmu kesambet. Gausah ngomong aneh aneh Jar." sahut Marcus sambil tetap terkekeh geli.

'Lah kesambet beneran nih aki aki. Hii' ini inner Fajar yang berbicara.

We LovedWhere stories live. Discover now