Kejadian

40 2 9
                                        

Aku tak pernah menyangka akan begini jadinya. Sebelumnya aku sudah diingatkan agar tak melupakan satu hal pun yang penting. Tapi memang dasarnya aku ceroboh! Saking buru-burunya aku lupa membawa dompet. Sialnya lagi, ponsel lupa tidak aku isi daya baterainya.

Ah, kakiku pegal sekali rasanya. Apalagi aku memakai high heels sejak tadi pagi dan sekarang aku harus menempuh jarak satu kilometer. Satu kilometer!

Jalanan sudah mulai sepi. Aku sebenarnya cukup was-was dengan keadaanku sekarang. Bagaimana tidak, seorang perempuan berjalan sendirian di malam hari, jalanan sepi, dengan dandanan yang cukup masih lumayan rapi. Mangsa yang empuk sekali bukan?

Apalagi beberapa hari lalu ada pembegalan tidak jauh dari jalan yang ku lewati ini. Katanya ada seorang tukang ojek yang dibegal beberapa orang. Karena ngeyel, akhirnya nyawanya malah dihabisi oleh para begal. Keadaannya cukup mengenaskan. Aku sempat melihat fotonya dari ponsel tetanggaku. Kepalanya pecah kena bacokan, bajunya robek hingga terlihat daging merah yang juga robek. Duh, jadi ngeri sendiri mengingat hal itu.

Samar-samar aku mendengar suara motor di belakang. Aku menengok. Benar saja, lampu depan motor itu menyorot jalan di depan. Aku panik karena takut itu adalah begal. Aku menyeruak ke dalam semak tak jauh dari situ. Untung saja lampu motor itu belum sempat menyorot ke arahku.

Aku benar-benar deg-degan. Aku menahan napas ketika motor itu lewat di depanku. Ku kira motor itu akan lewat begitu saja. Dugaanku salah besar!

Seseorang menurunkan dirinya dari motor dan mulai berjalan ke arah tempatku bersembunyi. Langkah beratnya makin dekat. Badannya yang sempoyongan berjalan dengan menyeret sebelah kakinya. Entah kenapa kepalanya diteleng-telengkan. Aku makin panik. Dadaku begitu sesak karena aku mati-matian menahan napas. Tapi tetap saja usahaku sia-sia. Orang itu sudah ada di hadapanku.

Aku yang panik reflek mengangkat kepala menatap orang itu. Dia membuka helmnya. Sekarang terlihat jelas kepala pecah yang beberapa hari lalu hanya kulihat di foto. Aku menjerit histeris sampai akhirnya aku pingsan.

-[]-

"Wi..mbak dewi...mbak. Bangun mbak!"

Aku terkesiap duduk. Aku langsung menjerit begitu saja. Orang di depanku mencoba menenangkanku. Setelah menenangkan diriku. Aku melihat sekeliling. Kulihat aku ada di sebuah pos ronda. Kalau tak salah ingat, ini adalah pos ronda dekat rumahku.

"Mbak dewi ngapain tidur disini?"

Romi, anak tetanggaku, menanyaiku hal itu. Aku pun bingung menjawab apa. Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Romi dan seorang lagi yang aku tak tahu siapa hanya memandangiku heran. Aku merasa sedikit pusing. Aku memegang kepalaku sambil memikirkan kejadian tadi. Kenapa aku bisa sampai disini? Aku diantar siapa?

Tak Terduga #DiantarSiapaDes histoires addictives. Découvrez maintenant