"Num, pernah kamu bilang padaku suatu hal." Aku flash back ingatan ku. Memutar memori masa lalu. Mengingatkan pada malam itu.
"Engangement, Akang. Adek sudah menyiapkan semuanya dan menyusun jadwal hingga hari pernikahan." Dia memegang tanganku erat. Bola matanya bersinar. Berharap penuh padaku.
"Ya Tuhan... Apakah ini sebuah nikmat dariMu, ataukah ujian kebahagiaan yg selama ini aku rindukan." Desisku dalam hati.
"Aku lupa Num. Aku benar-benar lupa kali ini. Sungguh. Hatiku serasa melayang jauh. Inginku pinang dirimu. Tapi ada satu hal yg menjadi pemberat." Ucapku kemudian.
"Apa Akang? Katakan secepatnya. Aku tak butuh alasan lagi. Setelah sampeyan meninggalkan ku 3 tahun yg lalu. Sakit..."
Mukanya merah padam. Bahkan aku tak sanggup melihatnya. Oh iya, 3 tahun lalu itu adalah perpisahan terindah. Aku mengikuti pendidikan penerbangan di Eropa sana sebagai salah satu kapten pilot terbaik negeri. Mengejar prestasi adalah impian terbesar dalam hidupku. Kemudian mendapatkan relasi yg sungguh luar biasa. Bisnis, hukum, ketatanegaraan bahkan politik itu, aku dapatkan semua dalam relasi. "Aku benar-benar lupa Num. Maaf." Ucapku lirih.
"Besok, Akang langsung ke auditorium taman kota mengenakan pakaian yg telah aku siapkan." Perintahnya tegas.
"Tapi Num, aku belum selesai mengungkapkan isi hatiku..." Aku mengelak.
"Sudah. Cukup. Semua alasan sudah jelas. Aku tak mau mendengar cerita panjangmu itu." Mukanya tambah merah padam. Marah besar.
"Baiklah," aku menutup pembicaraan.
