Tidak ada yang beda dari kesehariannya, pria yang terkenal karena kejahatannya itu berpatroli di sekitar Yokohama tanpa melakukan aksi apapun. Yang dia lakukan itu lebih tepatnya disebut sekedar berkeliling kota. Apapun yang lewat di depan matanya masa bodoh baginya. Entah dari mana Ia mendapatkan gelar Sersan itu, namun segala yang Ia lakukan memang lebih jahat ketimbang seorang iblis. Atau mungkin Ia mendapatkannya karena sifatnya yang begitu berhati beku dan terkenal sangat sadis dalam melakukan tugasnya sebagai seorang polisi. "Lebih ditakuti dari yakuza." itu yang mereka katakan.
Hari ini, seperti biasanya Ia membuat suatu kejahatan yang sudah dianggap biasa di antara teman-temannya itu. Dia membebaskan seorang yakuza yang nampaknya baru tertangkap tadi. Samatoki? Kalau aku tidak salah lihat, itu tadi jelas si Aohitsugi yang sangat ditakuti di distrik ini. Sudah berapa kali Ia membebaskan Samatoki itu.. Aku kalah hitung. Memang tidak mengherankan, toh, sudah banyak kabar burung yang mengatakan sang bad cop itu seringkali melakukan berbagai negosiasi gelap bersama para yakuza, tentu terutama dengan Samatoki.
Aku pun tidak jauh berbeda dari biasanya. Bersamaan dengan istirahatnya sang mentari, aku hanya bisa duduk di bangku taman tempat aku bermain sekitar 10 tahun lalu. Hanya hawa dingin dan kebisingan segala kendaraan yang melintaslah yang seakan menemaniku setiap malam, namun tidak untuk malam ini.
Ya, tidak ada yang berbeda dariku hari ini. Yang berbeda hanyalah di sekelilingku ini. Pria itu datang begitu saja dan duduk di sampingku, tanpa mengatakan sepatah katapun, di bangku taman yang sama denganku. Aku terdiam, memang kelihatannya tidak ada satupun hal yang harus aku katakan atau tanyakan kepadanya. Aku hanya sedikit meliriknya dan kembali melihat ke arah jalan raya yang masih ramai itu sebagai tanda aku mengakui keberadaannya di sini. Ia akhirnya mengeluarkan sepuntung rokok dari saku bagian dalam jasnya, tidak lupa dengan korek api kesayangannya itu. "Menurut berita pagi tadi, malam ini dan seterusnya akan lebih dingin dari kemarin." Ia memulai percakapan sambil menghisap rokoknya itu tanpa melihat ataupun melirik sedikitpun ke arahku.
Aku akhirnya menengokkan kepalaku ke arahnya dan di situ lah aku melihat seseorang yang beberapa bulan lalu pernah menyelamatkanku. Rasanya ingatanku masih tertinggal pada malam dimana kami pertamakali bertemu, di tempat yang tidak begitu mengenakkan. Aku hidup sendiri setelah kakakku sudah menikah dengan seorang wanita kaya dan menelantarkanku begitu saja, sama seperti yang ayahku lakukan kepada ibuku. Beruntunglah aku karena masih ada seseorang yang baik hati meminjamkanku sedikit uang yang akhirnya aku pakai untuk menyewa sebuah apartemen kecil. Mencari pekerjaan tentu tidak mudah bagi seorang lulusan SMA, namun sekali lagi, aku beruntung masih mendapatkan pekerjaan walau bayarannya tentu sangat berat untuk menutup biaya keseharianku.
Putus asa, itu yang kupikirkan saat aku berdiri di depan swalayan dekat apartemenku sambil memegang pistol di kantong jaketku dengan tanganku yang mulai berkeringat. Aku kira semuanya akan berjalan lancar karena malam itu sangat sunyi, namun tentu aku salah karena terlalu gegabah. Juto, orang yang saat itu menggagalkan rencanaku dan orang yang membawaku ke kantor polisi. Selama di perjalanan aku ingat Ia hanya mengatakan satu kalimat kepadaku, "Kau sudah mengambil resiko, tentu kau akan mendapat balasannya."
Mendengar perkataannya, tentu rasa takutku makin menjadi. Mobil patroli yang kini hanya terisi oleh aku di bangku belakang dan Juto di bangku kemudi entah kenapa terasa sangat panas dan sempit untukku. Aku bahkan tidak mampu lagi membayangkan kehidupanku setelah mobil ini sampai di tempatnya. Tidak mungkin aku bisa membayar uang jaminan, tidak mungkin aku bisa membayar pengacara, tidak mungkin aku bisa lolos dari jeratan besi sel penjara.
Akhirnya dengan pasrah aku meninggalkan mobil ini. Juto yang saat itu masih memegangi lengan bagian atasku dengan sedikit menariknya agar aku berjalan ke arah yang dia mau, melaporkan kejahatanku ke salah satu polisi yang bertugas di situ dan dia mengatakan untuk membawaku ke salah satu ruangan. Aku merasakan hawa yang sangat mencekam yang jelas datang dari pria di sampingku ini. Bahkan seakan-akan semua orang di sekitar kami pun merasa tidak nyaman atas keberadaannya.
YOU ARE READING
Lonely Rabbit [Juto x Reader]
RomanceLagi-lagi polisi nakal itu berulah, namun kali ini bukan seorang yakuza dengan kekuasaan besar yang pria itu tolong, namun seorang wanita sebatangkara yang tidak sengaja berurusan dengannya A/N Judulnya terlalu mainstream? Sebenernya ini karna saya...
![Lonely Rabbit [Juto x Reader]](https://img.wattpad.com/cover/165485702-64-k422030.jpg)