Perjalanan Melelahkan

15 1 0
                                        

William

Tidak terasa dua tahun berlalu begitu cepat. Dan sekarang aku sudah pulang ke Indonesia dengan gelar magister Hukum. Namun ada satu hal yang membuat aku merasa terbebani. Semalam selesai aku merayakan pesta karena berhasil di wisuda papa menelpon ku untuk segera pulang. Alasannya hanya satu. Papa sakit-sakitan dan kantor harus di alih tangan kepadaku. Ini sangat menyebalkan bukan? Aku terpaksa pulang dan meninggalkan gadisku di london sendirian.

Oke sebelum lebih jauh. Perkenalkan Namaku William, berusia 25 tahun. Banyak yang mengatakan aku tampan. Dan memang iya,  aku mengakuinya. Ibuku asli indonesia dan papa asli london. Aku punya mata biru menawan yang diwarisi oleh papa. Bulu mata lentik dan alis tebal. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa aku banyak di gemari oleh lawan jenis karena tubuhku yang putih dan tinggi. Jelas saja banyak sekali wanita yang menyatakan cintanya terlebih dahulu kepadaku ketika aku berhasil menjuarai basket terbaik waktu masih SMA. Hah. Menggelikan!

Salah satu alasan kenapa aku juga meneruskan S2 di london karena nenekku yang ada disana meminta untuk aku melanjutkan sekolah disana. Lalu tanpa pikir panjang kedua orang tuaku menyetujuinya.

Setibanya di bandara aku langsung melesat menuju rumah di jakarta selatan. Menelepon mama terlebih dahulu untuk memberi tahu bahwa anak tampannya sudah di perjalanan menuju kesana.

Tapi setelah sampai disana aku dibuat kaget oleh penuturan papa dan mama bahwa aku harus segera menikah. Dan satu hal yang membuat aku tak habis pikir. Mereka telah menentukan calon istri.

"Ga bisa gitu dong, pa. William masih ingin fokus sama pekerjaan kantornya papa. Lagian nikah muda pada zaman sekarang itu sudah tidak berlaku, pa."

"Papa tidak mau mendengar alasan apapun dari kamu! Pokoknya pernikahan ini akan tetap dilangsungkan secepat mungkin. Papa tidak ingin melihat anak papa menyandang perusahaan dengan status single. Ingat itu!"

"Tidak bisa, pa. Will tidak cinta pada gadis itu pa! Wil juga tidak tahu gadis itu siapa!?"

Mama yang sedari tadi hanya menyimak pun mulai angkat bicara. Dan aku tambah muak dengan ini.

"Tapi, Ma...  William tid__"

"William, kamu sudah dewasa nak. Sudah seharusnya kamu menikah. Dan satu lagi. Pilihan mama sama papa tidak akan salah. Percayalah... Dia tumbuh menjadi gadis baik dan sangat cantik. Suatu hari nanti kau pasti akan mencintainya. Mama yakin. Ayolah... Lagian kami sangat ingin menggendong cucu."

Mama memberikan teh sembari berlalu.

Aku merasa frustasi  kali ini. Aku menyesal! Menyesal telah sudi mengikuti perintah papa untuk pulang ke Indonesia.

Argh...

Good FightWhere stories live. Discover now