Hidup memang selalu berputar layaknya roda. Terkadang kita di atas, ada kalanya juga kita di bawah, seperti yang saat ini terjadi pada Heru. Beberapa bulan lalu dia diPHK. Sudah pontang-panting melamar pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lain, tapi belum ada hasil. Biaya hidup semakin mahal, belum lagi Thalia, anak semata wayang nya akan mulai bersekolah yang juga perlu biaya. Jadi atas persetujuan Mila --istrinya-- mereka terpaksa menjual rumah dan pindah ke kontrakan kecil.
Sudah beberapa minggu mereka menempati rumah kontrakan. Sederhana tapi cukup nyaman, lingkungannya bersih, tetangga juga ramah. Hanya saja tidak banyak anak kecil seumuran Thalia, dia hanya bermain dengan teman khayalannya, Jessi. Mila sebenarnya khawatir dan tidak nyaman ketika Thalia asyik mengobrol padahal dia sedang sendiri. Tapi dia sadar bahwa itu hal yang wajar bagi seorang anak kecil seumuran Thalia untuk memiliki teman khayalan. Saat kanak-kanak dia juga seperti itu. Jadi biarkan saja Thalia berimajinasi selama itu tidak membahayakan dirinya.
Biasanya Thalia hanya akan berkata dengan suara khasnya. "Jessi punya salon ya, Thalia mau potong rambut."
"Jessi mau makan sup lagi?"
Atau terkadang. "Mama, Thalia mandi sama Jessi ya."
Yah, seperti itulah cara anak 5 tahun bermain.
Pagi ini, Mila sedang belanja di tukang sayur langganan nya. Thalia menghampiri Heru yang sedang sibuk mencari lowongan pekerjaan di koran.
"Pa, Thalia pinjam gunting ya."
"Itu bahaya Sayang, main masak-masakan saja ya?" Tentu saja Heru tidak memberikannya.
"Ah yasudah deh Jessi mau mi, Thalia pinjam benang ya."
Setelah memberikan apa yang gadis kecil nya minta, Heru kembali menyibukkan diri dengan koran di teras depan dan sesekali mendengarkan istrinya dan ibu-ibu lain yang sedang menggosip.
"Bu Mila, betah ga tinggal di sini?" tanya salah seorang dari mereka.
"Alhamdulillah Bu, betah."
"Oh iya, Bu Mila tau nggak cerita tentang penghuni rumah yang dulu?" Kali ini seorang wanita bertubuh gempal bertanya.
"Tau kok Bu, mereka sekeluarga meninggal karena kecelakaan."
"Loh, bukan atuh Bu. Mereka di bunuh bukan kecelakaan," sargahnya.
Wanita itu berhenti sejenak kemudian kembali berbicara. "Dulu yang tinggal di rumah itu gila loh Bu, gara suaminya selingkuh. Dia bunuh 2 anaknya yang masih kecil, Umurnya baru 11 sama 7 tahun. Terus dia bunuh diri."
Mila, bahkan Heru yang sedang menguping ikut terkejut.
"Beneran Bu?"
"Iya Bu. Anaknya yang gede di gantung, mulutnya di jahit badannya banyak tusukan. Yang kecil malah lebih parah, di mutilasi. Suami saya lihat sendiri badannya ada yang di kulkas, bahkan jari-jarinya di mangkuk sup."
Ibu-ibu yang lain mengangguk, sebagian berbisik mengiyakan cerita tersebut.
"Aduh sudah ya Bu, saya ngeri dengernya."
"Iya ih, saya juga jadi takut. Jangan di bahas lagi, nanti malah saya ga doyan makan hehe." Seseorang menimpali.
"Iya jangan di bahas lagi serem." Kali ini Mak Ijah yang berbicara.
Tapi, mendengar pembicaraan itu Heru jadi khawatir kalau selama ini anaknya berteman dengan salah satu anak yang sudah mati tersebut.
Dia berjalan menghampiri kerumunan tersebut. " Anak yang di bunuh ada yang namanya Jessi?"
"Bukan Pak, namanya Gabriel sama Angie, Jessica mah Ibunya."
----------------------------------------------------------
Ada yang baca kagak? Kalau ada sini Kinan peluk wk
YOU ARE READING
Cerpen, Cermin, Fikmin
RandomBerisi kumpulan Cerpen, Cermin dan Fikmin berbagai genre dari Kinan.
