Perpisahan dan tangis itu dua hal yang sejalan. Walau kadang tangis tak selalu identik dengan perpisahan atau kesedihan-kesedihan lainnya. Bahkan bahagia pun juga mengeluarkan tangis. Tapi jelas itu hal yang berbeda.
Vimala, dialah gadis yang selalu duduk di sudut café itu. Menikmati secangkir kopi dengan laptop terbuka di meja tepat di hadapannya. Tiga puluh menit sudah berlalu sejak dia duduk di sana tak sekali pun jemarinya menyentuh tuts keyboardnya. Dia asyik memandangi jalanan dari jendela. Sesekali seorang ibu lewat mengandeng tangan anaknya. Tak jarang pula sepasang kekasih melintas sambil bergandengan tangan. Hal itu membuatnya tersenyum kecut. Entah apa yang menghinggapi pikirannya.
Vimala, pemilik rambut panjang itu tak juga mengalihkan perhatiannya pada jalanan itu. Hingga sebuah suara berdering dari ponselnya barulah dia mengalihkan perhatiannya. Pelan dia meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi digengamnya ke atas meja. Dengan gerakan yang tetap pelan ia merogoh saku blazernya dan mengangkat telepon bordering.
"Iya, gue udah dari tadi di sini." Menanggapi lawan bicaranya. "iya, gue tunggu." Lalu Vimala memasukkan kembali polselnya ke dalam saku blazernya. Dan ia juga kembali menatap jalanan di hadapannya. Pikirannya kembali menjelajahi dunianya sendiri.
Sementara itu di pintu masuk seseorang memerhatikan Vimala sejak tadi. Sebuah simpati terpancar dari matanya yang berbingkai kacamata mengamati ekspresi vimala ketika mengangkat telephon tadi. Vimala yang di hadapannya selalu ceria jauh berbeda ketika dia sendiri. Lelaki itu lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya sebelum ia melangkahkan kakinya menuju tempat duduk Vimala.
"Vim...."
"Hai Raka...." Keceriaan Vimala kembali terpancar melihat kehadiran Raka.
"Sorry telat ya."
"Hahaha,,,, sok formal banget sich. Biasa juga ngaret." Begitulah Vimala di hadapan Raka. Bermetamorfosis menjadi sosok lain yang selalu ceria. Menjadi gadis yang tak pernah memiliki masalah.
"mau dipesenin kopi lagi?"
"Jelas aja mau, udah tinggal ampas gini."
"Oke" Raka beranjak memesan kopi hitam untuk Vimala dan vanilalate untuk dirinya sendiri. Pertama kali mereka pergi minum kopi, Vimala protes karena Raka memesan Vanilalate. Namun menyadari dia tidak bisa memaksakan kesukaan seseorang Vimala pun mulai membiasakan diri kembali dengan aroma Vanilla Late.
Selama beberapa bulan setelah satria meninggalkan kota ini, Vimala meninggalkan vanilla late yang mereka sukai.. sebagai gantinya kini mulai membiasakan diri menikmati kopi hitam. Menurutnya kopi hitam itu rasanya sangat original begitu juga hidupnya tanpa Satria terasa original. Dulu berbagai hal akan mereka kerjakan bersama-sama, berbagai masalah akan mereka bagi sama-sama.
Vimala kembali menatap jalanan yang semakin ramai ditambah lampu-lampu penerangan yang mulai dinyalakan. Bagi vimala gelap pun indah. Dalam gelap kita dapat menangkap cahaya lebih terang.
Raka kembali dengan dua tangan memedang cangkir, begitu lah Raka selalu memilih membawa cangkir kopinya tanpa nampan. Supaya hangatnya menjalar ke hatiku, begitulah jawaban konyol Raka kala Vimala memprotesnya. Tapi lama-lama Vimala pun menerima kebiasaan Raka itu bahkan dia sendiri mulai meniru kebiasaaan Raka. Dan dia merasa ucapan Raka benar, hangatnya cangkir kopi itu mampu menghangatkan hatinya.
"Dari tadi bengong terus."
"Gue lagi menikmati pemandangan itu." Jawabnya nunjukkan jalanan dengan dagunya.
"Apaan ? gelap gitu." Raka menyesal kopinya.
"Gelap itu indah juga lho Rak. Kalau gak da gelap kamu gak akan tahu ada cahaya."
YOU ARE READING
Vanilla Latte
RomanceSejak Satria keluar dari lingkaran hidupnya, Vimala membiarkan Raka, sahabatnya, menemaninya melewati masa sulit. Tanpa Vimala sadari, bagi Raka, Vimala adalah candu. Kehadiran Satria dengan rencana pernikahannya membuat dunia Vimala kembali jungkir...
