Pesona langit dini hari begitu indah semuanya terasa sangat istimewa di bulan Suci Ramadhan tahun ini, Ahlan wa sahlan ya Ramadhan, ribuan bintang bertasbih memuji Allah, angin yang bertiup dari arah selatan memuji dan bertasbih kepada Allah . Seluruh makhluk ciptaan Allah bertasbih memujinya setiap saat , terutama diwaktu-waktu istimewa ini. Cahaya mentari perlahan-lahan menampakkan pancaran hidayahnya di bumi nusantara ini.
Usai melaksanakan shalat subuh. pemuda itu melangkah keluar dari pintu mesjid bersama jamaah yang lain. kebahagian terpancar jelas dari raut muka pemuda itu, menyambut bulan suci ini, ia terlihat senyum-senyum sendiri saat berjalan dengan santai meninggalkan mesjid.
Tak jauh dari mesjid, pemuda itu memarkir motor tuanya di depan rumah warga , yang tidak lain adalah keluarganya sendiri. Ia pun menaiki motor tuanya dan melaju dengan seribu satu kebahagian.
Perlahan-lahan pemuda itu melewati sebuah jalanan yang cukup terjal dan licin, ia pun belok kiri, melaju dengan kecepatan sedang, udara yang dingin menulusuk masuk kepori-pori kulit pemuda itu, ia seolah-olah tak merasakan itu , senyumnya terus mekar laksana bintang-bintang yang bersinar dimalam hari. Beberapa jam kemudian tampak lapangan bola yang sangat luas, tempat dimana orang-orang melatih bakatnya, setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Mengasah kemampuan adalah salah satu bukti mensyukuri anugerah Tuhan.
Pemuda itu pun berhenti di keramaian, banyak orang sedang melakukan transaksi jual beli. matanya tertuju pada sebuah menara putih yang berdiri kokoh disamping jalan, tak jauh dari menara itu ada sebuah pondok pesantren, tempat dimana generasi muda islam lahir, ma sya Allah.
Ia pun memarkir motornya di depan sebuah toko, selesai memarkir motornya, ia pun berjalan kearah menara itu dengan mata berbinar-binar, dengan suara lembut ia berkata.
"tempat ini tak Ada yang berubah, masih sama seperti dulu".
Dengan penuh semangat ia pun melangkahkan kakinya menuju ke menara itu, beberapa menit berjalan ia sudah berada disamping menara itu. Cahaya mentari kini laksana dewa yang marah kepada manusia yang berdosa, begitu goresan pena yang pernah dibaca oleh pemuda itu. Pagi hari itu kesabaran sangat diuji, rasa haus dan lapar saat berpuasa tak akan mampu ditahan sampai magrib tampa iman yang kuat.
Pemuda itu dari tadi mondar mandir kiri kanan matanya hanya tertuju pada satu arah, ia memandang kearah kiri menara, setiap ada orang yang lewat, selalu ia perhatikan dengan teliti, keringat mulai membasahi pakaiyyanya, senyumnya diwaktu fajar kini seakan hilang, rasa keluh kesahnya mulai nampak, raut wajahnya menampakkan keadaan hatinya.
Dan pada akhirnya sang pemuda kini memutuskan untuk pulang kembali kerumahnya dengan langkah yang sempoyongan, wajahnya agak tertunduk, kini senyumnya telah berubah menjadi rasa kesal.
Seribu satu pertanyaan kini timbul didalam kepalanya.
"kau dimana? kau dimana? Kau dimana?.
Kini bulan Ramadhan dipenghujung bulan, pemuda itu masih setia dengan aktivitasnya yang hampir setiap hari berada dimenara itu, dikeramaian itu tampak beberapa orang heran melihat tingkah laku pemuda itu, disisi lain pemuda itu tak menyadari hal itu, matanya sibuk memperhatikan sesuatu yang sampai sekarang belum ia dapatkan.
Tepat jam menunjukkan pukul setengah sepuluh siang pemuda itu pun kini melangkah dan perlahan-lahan meninggalkan menara itu, dengan raut wajah yang kesal ia menaiki dan mengendarai motornya.
Untuk Kali ini arah tujuanya berbeda sepertinya dia akan menuju ke arah kota. Kota yang biasa dijuluki butta toa. Dengan kecepatan kencang, pemuda itu seakan menantang angin untuk balapan. Rasa kesalnya membuat batinya berduka.
Beberapa jam kemudian pemuda itu singgah disebuah Tepi pantai yang Sangat terkenal Di kota itu, angin yang bertiup dari pantai seakan menyambut kedatanganya, di sebelah kiri pemuda itu berdiri sebuah bangunan kokoh rumah sakit mewah yang hampir menandingi gedung Pencakar langit.
pemuda itu memandang kearah laut dengan expresi wajah yang sangat sedih, nampak jelas hatinya sedang berduka.
Terdengar Dari kejauhan suara musik yang liriknya membuat sesak nafas bagi seseorang yang sedang sakit hati , salah satu lirik yang terdengar begitu jelas ditelinga pemuda itu.
"Dan bila engkau pergi Kutunggu engkau kembali".
Sekian lama pemuda itu berdiam diri ditepi pantai, Dia pun mulai mengatakan sesuatu hal.
"kau dimana sebenarnya? Auhh.... Apa Kau sudah lupa dengan semuanya? Kembalillah, La haula wala quwwata illah billah". Seketika rasa sedihnya kini nampak begitu jelas , batinya sudah tak mampu menahan itu semua.
"Ya Allah, aku tak pernah meminta ini".
Menari bersama ombak dengan luka dihatinya kini membuatnya melamun, ia merasa bingung kenapa semuanya harus berakhir seperti ini, ia pun merasa ragu dan merasa tak memiliki kelebihan apa pun yang bisa meyakinkanya bahwa seseorang itu akan kembali kepadanya.
Adzan dhuhur menyadarkan pemuda itu dari lamunanya, seketika ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju mesjid, memenuhi panggilan rabbnya.
Semenjak kejadian itu, pemuda itu pun tak pernah kelihatan lagi. Baik dimenara putih maupun dikampungnya, kemana ia sekarang?.
"Semoga kisah ini menarik bagi pembaca , Dan Saya bersyukur bisa menuangkan kisah ini dalam goresan Penaku walaupun dengan Bahasa yang sederhana"
Meskipun harus Ada yang menjadi korban takdir dalam setiap kisah yang telah ditetapkan oleh sang kuasa.
namun pemuda ini membuktikan bahwa sebuah janji yang selalu dipegang teguh tak semua orang bisa melakukanya sebab yang tersulit dalam hidup bukanlah memilih tapi Bertahan pada satu pilihan. Jika kalian memilih untuk jatuh cinta maka konsekuensinya ialah harus siap patah hati. Sebab Banyak orang memilih untuk jatuh cinta tapi tidak siap untuk patah hati.
YOU ARE READING
Memori Luka Seorang Ikhwan
SpiritualSebuah kisah nyata yang diangkat dari kehidupan masa lalu muhammad khairul. "Pergilah untuk kembali" Sebuah kata yang penuh pengharapan, takkala waktu perlahan berlalu, kadang rindu harus di tanam, khayalan bertemu menjadi obat, kupandang langit, k...
