Hujan mulai turun di hari ke 14 bulan Oktober ini. Ya, lusa adalah hari dimana aku melihat, membaui, menapaki, bumi yang sampai saat ini masih bisa aku rasakan. Duduk sendirian di halte, menunggu bis kuning yang selalu buatku bahagia ketika melihatnya. Sekolah mulai sepi dan sang fajar mulai mengantuk. Entah kenapa, aku merasakan seseorang yang membutuhkanku. Tiba-tiba, datang Rico, temanku sedari SMP.
"Lintang, kau sendiri disini dari tadi?" "aku menunggu dirimu, karena jika dirimu belum datang, entah kenapa bis biasanya tidak mau terlihat" jawabku. Aku memang bertetangga dengan Rico. Orangtua kami sering pergi bersama untuk acara minum teh. "Dari dulu kau pemberani, Lintang. Kau seorang wanita, mengapa tidak minta ibumu mengantarkan mu dengan mobil?" tanya Rico. Sejenak aku tidak mendengarkannya, karena bising hujan ini mulai deras. "Apa yang bisa dilakukan diriku untuk meminta ibuku menjemputku?" "Yah, aku tidak tau, entah kenapa dari SMP kau tidak berubah, justru karena itu aku mencintaimu". Setelah Rico mengatakan hal tersebut, bus yang kami tunggu pun tiba. Kami menaiki bus tersebut bersama untuk pulang.
Sang awan kian menangis, karena manusia menyepelekan alamnya.
YOU ARE READING
Don't Control!
AdventureKetika mimpimu, dapat menjadi menyeramkan, ataupun sangat menyenangkan
