"Waktu akan memberikan sejuta harapan."
Aku sulit untuk menerima keadaan saat ini. Ayahku pergi meninggalkan ku yang pada saat itu usiaku berumur 13 tahun. Jujur, kehilangan itu adalah hal yang paling sulit terlupakan.
"Tia,mengapa kamu sedih?"
Sebuah suara yang terdengar dari belakang ku.
"Aku tidak sedih ma,hanya saja bila saat itu aku masih bisa melihat ayah walaupun untuk yang terakhir kali saja. Anak macam apa aku ini yang tidak melihat ayahnya untuk yang terakhir kalinya?" Suara rintih tangisan keluar dari bibir keringku. Air mata pun mulai turun sedikit demi sedikit.
"Sudah Tia,yang berlalu biarlah berlalu, serahkan semuanya kepada waktu, biarkan waktu yang akan menjawab kesedihan mu hari ini."Jawab mama kepada ku dengan segala harap agar diriku tidak terlarut dalam kesedihan.
"Tapi, apakah aku layak dikatakan sebagai seorang anak? Anak yang tidak bisa merawat ayahnya dengan sangat baik."
Tangis itu pecah seketika kemudian air mata mengalir dengan deras membasahi pipiku terus menerus.
"Tia, disetiap pertemuan akan ada perpisahan. Biarkanlah waktu yang menjawab dengan benar."
Mama kemudian pergi keluar kamar berharap diriku bisa menenangkan hati sendirian.
Flashback
"Tia, bisa masak gak?" Tanya papa kepadaku.
"Bisa sih pa, mau Tia masakin apa?Nasi goreng? Mie goreng? Ikan goreng? Ayam goreng?"
"Wah ternyata anak papa hebat ya, semuanya bisa kayak mama nya." Senyum papa merekah di wajah tampannya itu.
"Bisa aja nih papa ngeledeknya, jadi mau makan apa papa sayang?"
"Mau makan segalanya buatan anak papa, terserah mau apa yang penting masaknya penuh cinta." Tawa papa seketika membuat batin ku terasa bahagia.
Dalam bahagia aku memasak makanan itu untuk papa tercinta. Dan akhirnya masakan itu siap dan aku menyajikan ke dalam piring dengan penuh cinta.
"Papa, ini makanannya, aku masaknya penuh cinta loh."
"Keliatannya enak deh coba sini papa coba." Tangan papa mengambil piring itu dari tanganku dan mulai melahap makanan itu dan meresapi setiap rasa dari makanan itu. "Wah, anak papa pandai masak juga ya, enak seperti masakan mamanya."
"Mama coba kesini, yuk cobain masakan Tia." Mama ku datang dengan senyum manis itu.
Mama mulai mengambil sendok dan mulai memakan masakanku. "Wah, Tia kamu pandai masak ya, enak nih masakannya, mama bangga sama kamu." Senyum mama pun merekah seperti senyum papa.
Selesai makan kami berkumpul ke ruang keluarga. Disitu segala rasa suka duka pernah terjadi. Segala hangat kebahagian terjadi.
Ayah mulai membuka suara, "Tia, papa mau bilang sesuatu."
"Bilang aja pa, emang Tia pernah gak dengarin papa?"
"Sebentar lagi kamu harus melanjutkan kuliahmu di Jerman sana, jadi papa harap kamu berhati-hati di negeri orang sana."
"Iya pa, aku pasti dengar nasihat papa."
******
Kring... Kring... Kring...
Nada alarm terdengar sangat keras hingga seisi rumah terbangun termasuk aku. Aku terbangun. Ternyata tanpa sadar aku menangis hingga tertidur. Mataku terlihat membengkak seperti mata panda.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Entah mengapa sulit sekali melupakan pengalaman pahit itu. Sulit sekali bagiku bangkit dari peristiwa pahit ini dan aku tersadar sedih itu tak ada gunanya. Dalam diam aku berpikir bahwa kesedihan itu hanya orang lemah yang mengalaminya. Ternyata aku terlalu bodoh. Bodoh karena terlarut dalam kesedihan sehingga aku lupa menjaga sesosok wanita yang sedang bersamaku dengan sepenuh hati.
"Tia, udah selesai belum?Mang udin udah nunggu!" Pikiran itupun menghilang seketika diiringi melodi air yang terdengar saat itu.
"Iya ma, sebentar." Jawabku dengan santai.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB dan aku berangkat ke sekolah.
"Dadah" Lambaianku kepada wanita yang tersenyum berdiri di depan pintu.
"Baik-baik belajar Tia." Sahutan mama terdengar sesaat.
Aku sampai dan berjalan dengan gembira menyusuri koridor sekolah tanpa menunjukkan wujud rapuh itu.
"Hi Tia apa kabar? Kuharap lo baik aja." Sahut seorang gadis, ya dia adalah Rani sahabat putih abuku. Walau pertemuan kami sekitar setengah tahun tapi kami sudah merasa dekat seperti keluarga.
"Iya, baik aja Ran, lo juga baik kan?"
"Baik banget kok kalau lo dateng, kalau lo gak dateng sih gua gak baik."
"Apaan sih Ran, ada-ada aja."
"Hahaha." Tawa Rani terdengar menyeluruh ke segala ujung. "Sans ae Tia gak usah dibawa ke jantung."
"Gak kok, aku bawanya ke usus aja biar kenyang."
Hari demi hari berlalu. Rumah itu kembali sepi setelah kepergian seorang lelaki tangguh yang disebut pahlawan oleh Tia. Tidak tau harus dengan apa lagi akan diperbuat tapi satu yang diketahui oleh Tia dari ibunya bahwa sang waktu yang akan menjawab segalanya. Waktu tidak akan pernah berhenti walau segalanya meninggalkan dirinya. Waktu tidak akan pernah menangis karna takdir yang akan menemani waktu selamanya.
Keesokan harinya,
perjalanan dari segala sisi pun dimulai. Perjalanan kisah indah itu akan berawal
*****
Penasaran gak kisah cinta apa yang terjadi?Kalau penasaran berikan komentar terbaikmu.Stay reading ya 😀
YOU ARE READING
Waktu
RomanceSebagian orang menyukai waktu yang sangat lama. Sebagian orang lagi menyukai waktu yang sangat singkat. Tetapi waktu akan terus berjalan tanpa memikirkan orang lain.
