Terbangun di pagi hari. Bukan suara ayam berkokok yang menyambut pagiku, tapi bunyi perut yang terus saja bergemuruh sejak semalam. Saat itu aku berusia sekitar enam tahun. Di usia yang terbilang masih butuh kasih sayang orang tua. Namun, aku hanya diasuh oleh kedua kakakku .
Kak Lily, dia merupakan k pertamaku yang pada saat itu masih berusia sebelas tahun dan duduk di bangku sekolah kelas 6 SD. Dia adalah seorang anak yang sangat cantik karena memiliki darah Pakistan. Kak Lily merupakan orang yang tegas, mandiri, dan sebagai anak pertama dia memiliki rasa tanggung jawab yang sangat tinggi.
***
Masih terduduk di atas kasur kapuk setelah terbangun dari tidur beberapa menit lalu. Aku beranjak menuju ruangan lain di rumah kontrakan ini. Melihat kak Lily yang sedang berkutik di dapur. Menghampirinya dan dia pun menoleh.
"Udah bangun? makan ini dulu, nanti siang Kakak bawain makanan lagi ke sekolah. Kakak ga sempet kerja karena sibuk belajar sebentar lagi ujian," perintahnya dengan lembut.
Aku menerima sepiring nasi yang disodorkan oleh Kak Lily. Tidak terisi penuh. Namun cukup membuat liurku hendak menetes. Meski hanya disertai lauk sepotong bakwan goreng, tapi terasa begitu nikmat. Langsung saja melahapnya dengan penuh nafsu. Sambil terus menyantap makanan, aku menoleh kearah Kak Lily yang sedang menatapku.
"Kakak ga makan?" tanyaku sesaat suapan.
"Udah kamu aja, Kakak udah makan," jawabnya pelan.
Melanjutkan suapan demi suapan yang perlahan mengobati nyeri karena menahan lapar semalaman. Sesaat kemudian keluar Kak Melati dari kamar mandi.
Dia merupakan kakak keduaku. Berjarak dua tahun di atasku. Saat itu dia berusia delapan tahun. Kak Melati duduk di bangku sekolah kelas 3 SD. Bila melihat penampilan fisiknya, orang pasti langsung dapat menerka bahwa dia berketurunan Tionghoa. Ya, dia juga kakak yang berbeda ayah denganku. Ayahnya merupakan orang China.
***
Kami tiga bersaudara satu ibu. Namun berbeda ayah. Itulah mengapa tidak adanya kemiripan pada penampilan fisik kami. Kakak pertama yang sangat cantik berkulit putih bersih, berhidung mancung, dan bermata coklat. Kakak kedua yang kecil mungil bermata sipit. Sedangkan aku, seorang anak yang bisa dibilang teramat kurus dan berkulit sawo matang. Ayah kandungku merupakan seorang pribumi asli, bersuku Jawa.
Kak Melati telah mengenakan seragam sekolah dan dia mulai menyantap sarapan yang sama denganku.
"Hari ini ada yang perlu ?" tanya Kak Melati sambil menyantap makanannya.
"Ga ada, tadi subuh Kakak ke Bu Ning katanya lagi ga bikin kue. Itu cuma dikasih bakwan buat sarapan," jawab Kak Lily.
***
Rutinitas sehari-sehari aku dan Kak Melati memang sebelum menuju ke sekolah kami menjajakan kue yang dibuat oleh Bu Ning, salah seorang tetangga kami. Biasanya Bu Ning memberi upah yang dapat kami gunakan untuk sekedar membeli beras untuk makan. Ini harus kami lakukan, untuk sekedar menyambung hidup.
Kami memang tinggal bersama , yaitu Ayah kandungku. Namun dia sangat tidak mempedulikan kami. Bahkan seringkali bersikap kasar kepada kami. Dia merupakan seorang pemabuk yang bisa dibilang kejam, tidak terkecuali padaku. Meskipun aku adalah anak kandungnya, tapi dia juga tak segan menyakitiku. Seringkali tanpa alasan yang jelas memukul, menendang dan tindakan-tindakan kasar lainnya. Begitu pula yang terjadi pada Kak Lily dan Kak Melati.
Meski tinggal di rumah kontrakan yang sama. Ayah seringkali tidak pulang. Dia lebih senang menghabiskan waktunya di club remang-remang bersama perempuan-perempuan bayaran. Ayah tidak bekerja tetap. Dia hanya bekerja serabutan dan seringkali ketika memiliki uang dia hambur-hamburkan untuk mabuk dan main perempuan.
Sebenarnya dulu dia tidak sepertu itu. Masih teringat meski samar di memoriku, ketika masih balita. Aku pernah merasakan belaian lembutnya, kecupan sayangnya, dan dekapan hangatnya. Namun entah mengapa dia berubah total setelah mengalami musibah kebangkrutan.
Ayah dulu merupakan pebisnis yang terbilang cukup sukses. Dia memiliki pabrik ban, tapi musibah kebakaran menghanguskan semua hasil jerih payahnya dan dia pun terlilit banyak hutang karena harus membayar ganti rugi ke berbagai orang yang menjadi korban. Termasuk diantaranya beberapa karyawan yang meninggal dunia dalam peristiwa itu.
Beberapa tahun setelah peristiwa hancurnya usaha ayah. Dia menjadi pemabuk dan sangat kasar kepada ibu hingga pada akhirnya ibu meninggalkannya. Tidak hanya meninggalkan ayah, tapi juga meninggalkan kami. Ketiga gadis kecilnya yang masih butuh perlindungan orang dewasa.
Entah apa yang dipikirkan ibu, mengapa dia begitu tega meninggalkan kami bertiga hanya bersama seorang pemabuk yang kasar. Apakah dia tidak memikirkan anak-anaknya? Apakah dia tidak merasa rindu? Apakah dia sudah melupakan kami?
Satu tahun ibu telah meninggalkan kami. Namun masih penuh harap suatu saat dia akan kembali. Meski sedikit lupa bagaimana raut wajahnya, tapi tetap ku ingat senyumnya, dan belum juga mampu berhenti merindukannya.
Bersambung ....
