Halo, saya sekarang mau nulis (sedikit) tentang Jiang Cheng :)) ini lebih ke chapter yang Wen Ning ngasih tau kalo jindannya Wei Wuxian itu dikasihin ke Jiang Cheng.
Terima kasih untuk tanggapan positifnya kemarin 💕 apa yang saya tulis hasil imajinasi dan tulisan saya sendiri.
***
Mukanya selalu tampak gelap. Ketika dia memanggil nama si biang onar, orang-orang akan mengira bahwa pria berpakaian Jiang Sect tengah sangat murka dengan orang yang dia panggil.
Entah itu di mana pun, suaranya tetap sama, tampak penuh emosi.
"WEI! WU! XIAN!"
Nama tersebut mungkin dia sebut ratusan kali dalam hidupnya, secara otomatis bibirnya bergerak memanggil namanya, mungkin secara tidak langsung si biang onar yang seenaknya itu sudah menyelusup masuk ke dalam nadi anak lelaki satu-satunya Jiang FengMian; Jiang Cheng.
Sedikit pergerakan dari Wei Wuxian, mulut Jiang Cheng selalu otomatis memanggil. Tangannya bergerak, menahan bahu kawannya agar jangan gegabah.
Meski selalu ada rasa iri mengetahui bahwa ayahnya lebih mencintai Wuxian atau kemampuan Wuxian lebih tinggi darinya (meski enggan mengakui secara langsung) asalkan Wuxian tetap di sisinya itu tidak akan apa.
Bahkan, setelah ayah dan ibunya meninggal, Jiang Cheng masih selalu menunggu Wuxian untuk 'pulang' dan selalu membawa pedang suibian untuk Wuxian sebagai tanda penuh harap bahwa Wei Wuxian akan kembali.
Lambat laun hidup semakin berputar, berubah, kekuatan yang lebih pada kegelapan muka Jiang Cheng menguasai Wuxian. Tidak terkendali dan menyedihkan, itu semua merenggut nyawa Jiang Yan Li dan suaminya.
Menjadikan keponakannya yatim-piatu.
Jiang Cheng selalu memanggil penuh nada benci, merencanakan agar Wuxian cepat mati. Nahasnya, bukan perasaan lega dan penuh kemenangan setelah Wuxian yang menjadi Yiling Laozu itu dihabisi tetapi Jiang Cheng merasa semakin gila.
Beberapa orang dia anggap sebagai Wei Wuxian. Hati kecilnya berpikir bahwa Wei Wuxian masihlah ada, bukan karena Wei Wuxian punya kekuatan yang terbilang kuat, namun Jiang Cheng berharap Wei Wuxian selalu 'ada' dan masih hidup.
Teman pertamanya, saudaranya yang terlampau akrab menggantikan anjing-anjingnya.
"Te...rima ka...sih..." seharusnya Jiang Cheng berkata begitu. Tetapi harga dirinya terlampau tinggi. Air matanya tumpah setelah menahan perasaan kalut yang mengejarnya bertahun-tahun dan mengetahui kenyataan yang begitu 'sok pahlawan' dari Wen Ning.
Suibian dia genggam erat, kepalanya tertunduk, air matanya menetes dan membasahi suibian milik 'teman sepersaudaraannya' itu.
Di kepalanya hanya ada :
Terima kasih sudah menemaniku. Menerima sifatku. Mau bermain denganku. Dan...memberikan jin danmu.
ーFINー
YOU ARE READING
Penyesalan
FanfictionBerisi cerita pendek di fandom Mo Dao Zu Shi yang ingin ditulis. Kebanyakan dari hasil pikir setelah membaca atau menonton.
