"Kita semua tahu siapa diri kita, tetapi kita takkan pernah tahu seperti apa kita nantinya." —Hamlet (Shakespeare)
***
Castle Combe, Wiltshire
London
Musim Semi 1835
"Ayolah Katy, kita semua tahu akan menjadi apa kita nantinya. Kau hanya dibodohi oleh Pak tua yang hidup pada abad 16, di mana peperangan masih menggila dan kau tidak akan tahu masih bisa hidup atau tidak besoknya. Itu sebabnya Romeo berani bilang seperti itu."
Ketika Harry sudah mengeluarkan pengetahuan miringnya, maka yang bisa Kathleen lakukan hanya menahan kekesalan. Namun perdebatan mereka yang hampir setiap hari terjadi tidak membuatnya menjauhi anak laki-laki itu, justru, karena semua perdebatan merekalah yang membuat Kathleen bertahan.
Karena, bersama Harry, ia berani berbicara dan mengeluarkan pendapat yang bergemuruh di otaknya, walaupun tatakrama tidak memperbolehkan seorang gadis muda melakukan hal itu. Belum lagi dengan fakta bahwa Kathleen bukanlah seorang bangsawan yang harus mengikuti peraturan. Dia juga tidak mempunyai Governess untuk mengajarinya semua norma-norma yang tertanam. Tetapi, ibunya selalu berharap jika ia memiliki hidup yang lebih baik di masa mendatang. Tidak harus seorang Lady, mungkin cukup sebagai Countness yang mengerti nilai di kaum Ton.
"Romeo adalah tokoh fiktif, dia tidak benar-benar ada. Yang kaumaksudkan mungkin adalah Shakespeare."
"Aku yakin jika itu Romeo yang kaukutip."
"Bukan." Kepala Kathleen menggeleng, "Pak tua yang membodohiku adalah Shakespeare. Seorang penulis legendaris sepanjang abad. Memiliki pengetahuan cemerlang khususnya dalam sisi romantis. Jadi jika kaubilang aku dibodohinya, maka ya, aku tidak masalah dibodohi oleh orang pintar sepertinya. Karena, dia seolalu bilang; Seorang bodoh selalu berpikir ia bijak, tetapi seorang bijak tahu bahwa dirinya seorang bodoh."
"Kau membuat semuanya terlalu mudah, Katy. Aku hanya menggodamu." Harry tertawa. Seketika pipinya merasa panas karena tidak menyadari maksud temannya itu.
"Kau bisa sangat menyebalkan."
"Tidak semenyebalkan itu. Lagi, bisakah kita tidak membahas puisimu? Hari begitu cerah untuk kausebarkan cinta dari abad enam belas. Aku bisa tidur berjalan karena itu."
"Justru karena hari ini begitu cerah, Harry, tidak ada alasanku untuk diam. Mungkin dengan begitu hari ini bisa lebih baik lagi, kalau bisa untuk seterusnya."
Harry berdesis, "orang gila, manusia kasmaran, dan penyair, semuanya sama-sama penghayal."
Kathleen sudah memutar badannya, siap menumpahkan kata-kata balasan atas cemoohan tersebut sebelum menyadari jika tiap kata yang Harry ucapkan adalah kutipan Shakespeare yang lain. "Kau. . . tahu?"
"Aye. Aku tahu, tentu saja. Yang tidak akuketahui di mana tepatnya kau berada. Penyairkah? Atau orang gila? Karena tidak mungkin kau sedang kasmaran."
"Sweet Yesus, kau manusia menyebalkan di semesta. Jangan gunakan karya Tuan William yang terhormat hanya untuk menggodaku."
Harry tersenyum miring. Ia mengangkat bahu dengan santai. "Jika aku terpaksa berteman denganmu, setidaknya aku harus tahu satu atau dua puluh kutip kata-katanya. Bedanya, kau tahu untuk dinikmati sendiri, kalau aku tahu untuk dinikmati bersamamu, membuatmu kesal adalah salah satu kesenangan itu."
"Terpaksa?" Kathleen tertawa kecil, "kau yang selalu membawaku pergi. Siapa yang terpaksa jika begitu?"
"Aku 'kan tidak memaksamu, Little one."
YOU ARE READING
The Apprentice
Historical FictionCinta tak tertangkap oleh mata, tapi diserap oleh pikiran. Maka bagi si buta, cinta seperti bidadari yang bersayap. Logika cinta pun tak bekerja seperti penilaian atas selera. Ia bersayap tetapi buta, ia tak ubahnya seperti anak-anak. Karena di dala...
