ADNAN masih terdiam menatap hamparan pasir putih yang ada di depan matanya. Suara gemuruh ombak yang menenangkan. Hembusan angin yang menentramkan.
Cowok bermata hitam pekat itu berdiri dengan kaki yang sudah lemas menanggung beban. Bukan. Bukan beban karena kehidupan yang memaksanya bekerja keras siang dan malam.
Ini masalah hati yang paling pintar memainkan emosi.
Dia teringat dengan cewek itu. Cewek berkulit putih dengan mata sipit yang menggemaskan. Cewek yang selalu memberinya semangat di kala penat. Cewek yang selalu menghibur dan membuat sedihnya terkubur. Dia teringat begitu jahatnya dia kepada cewek itu. Semua kebaikan yang cewek itu beri, selalu saja dibalas dengan tidak pantas. Sungguh, ia ingin memperbaiki semuanya.
"Aku paling suka pantai, Nan."
"Kenapa?"
"Pantai itu menenangkan, setiap kali aku sedih pasti gue ke pantai."
"Kemarin, kamu ke pantai kan? Berarti kamu lagi sedih?"
Cewek itu menghela nafas panjang. Kemudian tersenyum dengan manis ke arah Adnan.
"Cowok yang aku sayang lebih sayang sama cewek di masa lalunya, Nan. Gimana aku ngga sedih?"
Bodoh. Adnan merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak mengerti dengan ucapan cewek itu? Sungguh, Adnan sangat bodoh dalam masalah memahami setiap kata yang cewek itu ucapkan.
"Aku gagal. Aku gagal meluluhkan bekunya hatimu. Aku gagal menerangi gelapnya jiwamu. Aku gagal dalam semua hal yang menyangkut dirimu. Aku menyerah pada perjuanganku."
Dan bodohnya lagi, Adnan hanya bisa diam mendengar kalimat itu terucap dari sang pujaan.
"Jangan pergi, Nar. Kamu tidak pernah gagal."
Kakinya tak sanggup lagi menumpu berat tubuhnya. Adnan runtuh. Pertahanannya rapuh. Ia ingin sekali memperbaiki masa lalu. Tapi tak mampu.
"Aku mencintaimu, Nar. Tapi..."
"Selalu ada tapi di antara kita, Nan."
"Tapi..."
"Cukup. Kita memang tidak pantas bersama. Biarkan aku pergi."
Kata-kata yang diucapkan oleh Binar terus berputar di otaknya. Membayangkan bagaimana tersakitinya Binar karena ulahnya. Binar ingin dicintai tanpa tapi. Binar ingin dicintai dengan tulus oleh Adnan.
Tapi... selalu saja ada tapi.
YOU ARE READING
Cinta Tanpa Tapi
Romance"Aku ingin dicintai tanpa tapi. Aku ingin dicintai dengan tulus. Tapi ternyata kamu tidak bisa mengabulkan semuanya." -Binar "Aku juga ingin mencintaimu tanpa tapi. Tapi selalu saja ada tapi yang terucap. Aku mengakui kebodohanku." -Adnan
