DONG SICHENG / WINWIN
Wenzhou, Tiongkok • 28 Oktober 1997
NCT 127 / WAYV
][][][
“Ketika remang rembulan memantulkan siluet dirimu yang tidak sengaja tertangkap mataku, sejak itu hobiku berubah. Malam yang biasa aku habiskan untuk memotret langit telah tergantikan. Aku masih suka naik ke atap rumah, tapi bukan untuk memotret langit malam.”
][][][
Lengkung cakrawala lebih sunyi malam itu. Aku hanya menemukan satu bintang, redup menemani senyum rembulan. Berulang kali keduanya bersembunyi dibalik awan. Mungkin malu akan terangnya kemilau kota.
Bisingnya ribuan mesin kendaraan tak terdengar jelas dari tempatku tinggal. Yang ada hanya kerlap-kerlip cahaya gedung yang berlomba menjangkau angkasa. Yang telah puluhan kali aku abadikan indahnya melalui mata kamera.
Membuka menu galeri, aku kembali melihat hasil bidikannya. “Cukuplah, nanti pilih beberapa untuk di-up ke ig”.
Agaknya aku sedikit menyesal karena tidak mengeringkan rambutku setelah keramas sore tadi, jadi sekarang rambutku berkibar diterpa angin malam. Namun juga bersyukur, dengan begini aku bisa sedikit menghemat biaya listrik.
Semakin malam, semakin aku enggan beranjak. Semesta semakin mendekapku erat dengan keindahan cahaya. Juga nyanyian alamnya yang menenangkan.
Aku terlalu menikmati semuanya sebelum sebuah bunyi asing terdengar memenuhi kesunyian malam. Sumbernya dari seseorang yang tengah berjongkok mengambil tumpukan kertas atau mungkin buku miliknya yang berserakan dengan gerakan tergesa. Wajahnya tidak begitu terlihat karena lampu jalan tak bersinar seperti biasa.
Aku baru mengenali seseorang itu saat dia memasuki pekarangan di samping rumahku. Yah, dia tetanggaku. Namun sayang sekali kami sangat jarang berinteraksi. Tidak, bukan maksudku berharap interaksi lebih. Hanya saja.. kami bertetangga. Dia datang lima bulan lalu, ketika kegiatan perkuliahan memulai semester baru. Dan selama lima bulan itu hanya beberapa kali kami bertatap muka atau sekadar saling sapa. Namun akhir-akhir ini intensitas kebetulan bertemu kami jadi lebih sering, membuat otakku terus mencetak wajahnya tanpa tahu tempat dan kondisi.
Aku tidak mengenalnya dengan pasti, namun banyak ibu-ibu di sekitar rumah yang membicarakan dia. Seorang lelaki berusia 22 tahun yang menyandang status mahasiswa di universitas negeri terbaik di kota ini. Pemuda ramah, memiliki kepribadian yang bagus, menyukai anak kecil, sering bernyanyi dan menari bersama anak-anak di sekitar rumah, sering membantu para lansia, dan cukup tampan. Itu menurut para ibu-ibu, sedangkan menurutku dia lebih dari kata tampan. Jika disandingkan dengan aktor tampan ibu kota, aku yakin dia yang akan menang.
Sesuatu berkelip dari tempat lelaki itu memungut barang-barangnya tadi. Sesuatu itu menggerakkanku untuk turun dari atap rumah. Mungkin saja sesuatu itu tak sengaja jatuh dan lelaki yang sering dipanggil "mas gege" oleh warga sekitar tidak menyadarinya.
Sesuatu itu ternyata sebuah rantai kalung yang mencuat keluar dari dompet. Benda sebesar ini jatuh dan dia tidak merasakannya?! Yang benar saja. Apa dia masih belum sadar dompetnya hilang??
Aku menengok pintu rumah di samping rumahku. Kemudian kembali mengamati dompet di tanganku. Dompet ini terlihat sangat mahal untuk ukuran seorang mahasiswa perantauan yang tinggal di sebuah kontrakan kecil dan bekerja paruh waktu sebagai karyawan kafe. Bahkan tanda brand yang tercetak cukup menegaskan kalau ini memang dibuat untuk kalangan atas.
Namun rasa penasaran dengan "apakah dompet ini asli?" tergantikan dengan "apa ujung dari kalung ini?"
Belum sempat aku menarik kalungnya, lelaki itu sudah menyentak dompetnya dariku. Lantas segera menjaga jarak dariku dengan napas tersengal. Dari wajahnya terlihat sekali dia, takut?!
Aku menatapnya dalam, terlalu dalam sampai aku merasa tenggelam dan tak bisa lagi meraih permukaan. Aku sudah mengatakan bahwa dia tampan, bukan?! Dia memang tampan. Tapi bukan tampan seperti orang Indonesia kebanyakan. Atau bisa aku tebak kalau dia bukanlah orang indonesia, dia lebih terlihat seperti orang Cina atau tidak Jepang, entahlah aku tidak tahu betul. Yang jelas dia tampan dengan alisnya yang cukup tebal, sorot mata yang teduh, hidung bangir, bibir penuh dengan pipi yang mengembung saat dia tersenyum dan yah, satu hal yang spesial darinya. Bentuk telinga kanannya yang sedikit runcing seperti elf atau peri-peri dalam dongeng.
"Hai~"
Lamunanku buyar. Secepat mungkin aku mengalihkan pandanganku. Berdehem sebelum kembali menatap dan membalas sapaannya.
"H-hai" sapaku ragu sambil menggoyangkan tanganku membuat gestur menyapa. Rasanya begitu canggung. Aku sangat tidak suka terjebak dalam keadaan semacam ini.
🌱Grobogan, 23 April 2019
🌿23:00
JE LEEST
SUSUN
FanfictieHalo^^ Terimakasih banyak sudah meluangkan waktu kalian untuk membaca anak pertamaku ini. Terus dukung dan cintai NCT, terus berjalan menuju kebaikan, terus semangat dan terus jadi diri sendiri. XOXO Ro💙 ○Buku ini dimulai tanggal 07 Agustus 2018○ ○...
