1. awal cerita

1.1K 76 7
                                        

Di suatu malam yang mulai larut. Saat itu cuaca dingin sedang menyerang daerah tempat tinggal Tee, namun dia tetap melangkahkan kakinya untuk mencapai tujuannya. Malam itu, ibunya menyuruh Tee untuk pergi ke tempat perlengkapan menjahit, ke salah satu toko langganannya yang letaknya tidak jauh dari rumah, sehingga dia memilih untuk berjalan kaki.

Tee mengenakan celana panjang dan juga kaos panjang yang terbalut jaket tebal. Dia berjalan dengan sesekali tersenyum menikmati angin malam, matanya dia edarkan pada orang-orang di sekitarnya. Tee senang, karena hari ini pesanan baju ibunya sedang banyak, sehingga dia pun harus membeli bahan-bahan yang kurang. Tee belum sampai di toko yg akan dia tuju, namun kejadian yang tidak diduga terjadi.

Tee menatap beberapa orang dari kejauhan ke arah di depannya. Orang-orang dengan tawa menyebalkan disertai cara berjalan mereka yang tidak beraturan. Tee menghitung orang-orang itu, jumlahnya empat orang. Laki-laki yang dia kira masih muda, kira-kira seumuran dengannya. Dia mencoba mengacuhkan apa yang dilihatnya, karena baginya itu tidak penting. Dia ingin segera sampai di toko itu lalu pulang.

Ketika mereka berpapasan saat berlawanan arah, Tee menarik kornea matanya ke sudut kiri, dapat dilihat dengan jelas bahwa keempat orang itu sedang menatapnya dan mengatakan kata-kata menjijikkan tepat di telinganya.

"Hei jalang kecil. Apa kau sedang kesepian? Kenapa kau berkeliaran malam-malam begini," ujar salah satu dari mereka.

Hati Tee sakit. Dengan cepat dia menatap tajam sekilas ke keempat orang itu, sebelum melanjutkan langkahnya. Tee mengerti bahwa mereka sudah sangat mabuk, terbukti dari bau alkohol yang keluar dari mulut sampah mereka.

Ketika Tee hendak melangkah, ada tangan kuat yang menariknya dari belakang.

"Lepaskan! Kalian ini mabuk."

Ada tawa menyebalkan setelah itu. "Kalian dengar? Dia bilang kita mabuk. Ha ha ha."

"Manis, kau jawab saja pertanyaan kawanku. Apa yang kau cari malam-malam begini?" ucap si B.

"Kumohon lepaskan aku! Aku tidak mengganggu kalian."

Alih-alih melepaskan, tangan yang lainnya menarik kepala belakang Tee ke depan agar mendekat ke wajahnya, lalu mencium bibirnya dengan paksa. Tee terkejut, dia marah diperlakukan seperti itu. Hatinya sakit.

Pria itu masih menciumnya dengan bringas. Mencoba menerebos bibir ranum Tee yang sengaja dia lipat ke dalam dengan lidahnya. Tee tidak bisa berontak karena kedua tangannya dipegangi oleh temannya yang lain. Mereka menggelak tawa jahatnya. Air mata Tee menetes, dia jadi bahan tontonan.

Kemudian pria itu melepaskan ciumannya lalu menyeringai.

"Apa ini yang kau cari? Kau sedang mencari ciuman ini?" serunya.

Kemudian dia melahap lagi bibir Tee yang mulai terlihat bengkak. Pria yang benar-benar tidak punya hati meskipun dia melihat Tee menangis. Nafsunya terlalu besar dibandingkan rasa kasihannya.

"Sudah hentikan, cukup, Tae. Kau sudah terlalu mabuk." Temannya menarik Tae dari belakang.

"Kenapa kau menghentikanku? Lihatlah jalang ini, dia diam saja. Dia pasti menikmatinya juga, bukan begitu?" Tae menarik ujung dagu Tee ke atas.

"Kau menangis? Kenapa? Apakah kau meminta lebih? Akan kuberikan." Tae membuka paksa jaket Tee kemudian kaosnya.

"Tae hentikan! Apa kau ingin mati di sini?"

Tae mengedarkan pandangannya. Terlalu banyak orang pikirnya. Kemudian dia memiliki siasat jahat dalam otaknya.

"Baiklah," serunya pada akhirnya. "kau benar Phana. Aku tidak bisa melakukannya di sini." Tae menyeringai jahat.

"Maksudmu?" Phana bertanya.

Tae menyeret kasar Tee ke sebuah gang gelap yang memang cukup tersembunyi yang menurutnya aman.

"Kumohon lepaskan. Aku harus segera mengambil pesanan ibuku," kata Tee sambil tersedu.

"Tae apa kau gila, kau mau apa?" kata Phana ketika melihat sahabatnya itu sedang menampar beberapa kali kedua pipi Tee. Saat itu Tae sedang membuka seluruh baju Tee. Dia berontak, sehingga dia mendapatkan tamparan itu.

Phana menghajar Tae, namun Tae hanya melihatnya sekilas kemudian melanjutkan aksinya. Kedua temannya yang lain, memegang tubuh tinggi Phana.

"Tenanglah, Phana. Bukankah kita butuh sedikit hiburan, ini pertunjukan yang jarang terjadi," kata si C.

Tae membuka celananya, kemudian mengeluarkan benda miliknya yang sudah luar biasa menegang. Tidak butuh waktu yang lama untuk membuat Tee merintih kesakitan, karena tanpa pemanasan, Tae langsung memasukan benda miliknya ke dalam lubang sempit milik pria mungil yang tak berdaya itu. Tee beberapa kali berontak namun yang dia dapat hanyalah tamparan dan tamparan. Tee kehilangan suaranya karena menangis.

"Diam... ah... nikmati saja, aah... ah..." Tae menampar kembali pipi Tee di sela gerakan pinggulnya yang sedang menekan bendanya, dan lebih dalam lagi di lubang itu.

"Aaargh!! Kumohon hentikan." Tee sama sekali tidak merasakan kenikmatan yang pria itu bilang, yang Tee pikirkan saat itu hanyalah ibunya, sudah terlalu lama dia keluar rumah. Dia takut ibunya akan khawatir jika dia pulang terlambat.

Tae masih menggerakan pinggulnya, hingga puncak kenikmatannya disemburkan tepat di wajah Tee. Napasnya tersengal-sengal.

"Bagaimana?" tanyanya dengan tidak tahu malu. Tee hanya menatap tajam pria itu sambil memungut pakaiannya yang berhamburan di tanah dan membersihkan cairan kental di wajahnya.

"Kau sudah puas? Sekarang, ayo kita pergi," kata Phana.

Tae tersenyum jahat sambil mengancingkan kembali celananya kemudian pergi dengan kedua temannya tanpa mengatakan apapun kepada pria malang yang telah digagahinya barusan.

"Dan kamu, siapa namamu?" Phana masih berada di tempat nista itu.

"Apa pedulimu? Kau sama brengseknya dengan temanmu itu," jawab Tee.

"Maafkan aku."

"Maaf? Lihatlah kau bahkan masih di sini. Kau ingin melihat tubuh telanjangku juga?"

Phana menahan senyumnya. "Oh. Ma.. maafkan aku." Phana keluar dari gang itu menunggu Tee.

"Kenapa kau masih di sini?" tanya Tee ketika dia keluar dari gang.

"Aku akan mengantarmu!"

"Jangan sok peduli. Aku tidak butuh belas kasihanmu. Pergilah dari hadapanku."

Dengan langkah malas Tee melanjutkan perjalanannya menuju toko dengan penampilan yang hancur. Kedua sisi wajah memar, bibir yang bengkak, rambut yang berantakan serta lubang bekas hantaman benda besar milik pria brengsek itu yang masih terasa ngilu dan perih, namun dia harus tetap pergi ke toko itu kemudian pulang.

"Kau jantan sekali tadi, Tae. Terakhir kulihat, bendamu belum sebesar itu," kata si C kepada Tae.

"Tentu saja. Aku kan merawatnya. Kenapa kau tadi hanya menonton? Aku tahu kau juga pasti ingin memasukinya, kan?"

"Bagaimana kita bisa, sementara tangan kita memegang tubuh Phana."

"Ha ha. Phana. Dia itu membosankan. Aku juga yakin sebenarnya dia juga ingin bermain dengan jalang itu," jawab Tae.

"Tae! Apa yang kau pikirkan? Bagaimana jika dia melaporkan kita ke polisi, dia pasti sangat mengingat wajah kita," teriak Phana dari belakang.

"Tenanglah, Pha."

Tee keluar dari toko dengan barang belanjaan yang lumayan banyak. Kali ini dia benar-benar tidak sanggup lagi berjalan. Akhirnya dia menggunakan taksi. Dia masih mengingat kejadian pilu yang baru saja dialaminya. Tee ingin melupakan kejadian itu, namun wajah pria itu masih terlihat jelas di depan matanya. Seringainya, suaranya, desahannya dan benda miliknya pun masih terasa menancap di pantatnya, seolah benda itu masih tertinggal di sana. Dia tidak bisa melupakan wajah itu. Tidak akan pernah.

Gurat TakdirStories to obsess over. Discover now