Suasana pagi hari yang wajar terus mewarnai keseharian seorang gadis remaja, yang baru saja memasuki SMA Garuda Nusantara. Buku-buku pelajaran yang berserakan di atas mejanya segera ia rapihkan dan memasukkannya ke dalam tas. Buku tulis, tempat pensil, bahkan tabel periodik sekali pun juga ia masukkan ke dalam tasnya yang berat itu. Ia mempercepat langkahnya, menuruni anak tangga, dan sarapan pagi. Setelah itu, ia berangkat sekolah. Waktu hampir menunjukkan jam setengah tujuh, sebentar lagi sudah bel masuk, namun gadis itu masih di tengah jalan. Gerbang sudah mau ditutup, gadis itu berlari, terus berlari, hingga menuju gerbang sekolah. Untung saja, gerbang itu belum ditutup rapat-rapat oleh guru piket, kalau sudah ditutup rapat, ya sudah, dapat poin pelanggaran.
Alisa Rafa namanya. Gadis yang baru saja melangkahkan kakinya ke pendidikan jenjang SMA. Ia memasuki gedung sekolah, dan ia tidak sengaja melihat dua anak laki-laki yang seusia dengannya. Dari wajahnya saja sudah terlihat asing baginya, mereka tinggi, berkulit putih, bermata biru, berambut pirang, yang satu lagi coklat muda. Mereka mengenakan seragam yang berbeda, mungkin mereka tidak saling mengenal. Mereka mengobrol dengan staf kesiswaan. Entahlah, Alisa hanya melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas X IPA 1.
Kelas X IPA 1 begitu ramai, banyak anak yang sedang mengobrol, entah membicarakan apa. Teman sebangkunya, atau bisa dibilang sahabatnya, Faisya Adinda sedang asyik menggambar.
"Wah, hari ini ada pr nggak, Fai?" tanya Alisa, sambil menaruh tasnya yang berat itu.
"Hmm, sepertinya nggak ada." gadis yang dikuncir rapi itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia terpaku dengan sesuatu yang ia pikirkan. "Tunggu. Memangnya nanti ada anak baru, ya?" tanya gadis yang bernama Faisya itu.
"Nggak tau deh, Fai. Tapi.. Tadi aku lihat.." Alisa kembali mengingat-ingat kejadian yang tadi. "Entahlah, Fai. Besok ada tugas IPS, 'kan?"
"Hah? Tugas apaan?" Faisya langsung kaget.
"Bukannya.. Yang disuruh tulis nama-nama negara di Eropa?" tanya Alisa, sambil mengambil buku paket IPA-nya.
"Eh eh, negara-negara Eropa Utara apaan aja sih?" tanya Faisya, sambil membuka buku catatannya.
"Oh, Eropa Utara. Gampang. Ada negara-negara Baltik, Skandinavia, Inggris, Irlandi-"
"Hah? Apaan aja? Negara-negara Baltik tuh apaan?" tanya Faisya kebingungan.
"Negara-negara Baltik itu ada 3 negara, yaitu, Latvia, Lithuania, dan Estonia. Sedangkan Skandinavia seperti Norwegia, Swedia, dan Finlandia. Termasuk Denmark dan Islandia. Lalu, ada Britania Raya dan Irlandia juga." jelas Alisa.
"Mending kamu masuk jurusan IPS aja, Al. Sana gih." usul Faisya sambil mencatat negara-negara yang tadi Alisa sebutkan.
"Pengen masuk IPS tapi nanti ketemu sama Ekonomi dan Politik. Males banget aku, Fai." ucap Alisa.
"Lah, katanya kamu nggak suka hitung-hitungan?"
"Ya emang Fai, aku nggak suka. Lebih nggak suka dari pelajaran PPKn." jawab Alisa singkat, jelas, padat. Alisa melihat situasi kelasnya yang ramai. "Gais, dua tempat duduk di belakang kita kosong, gais."
"Terus, kenapa?" tanya Faisya dengan santai.
"Kalau ada anak baru?"
"Tau deh. Nanti kita lihat aja namanya di papan pengumuman pas istirahat." ucap Faisya santai. Ia kembali melanjutkan menggambar.
"Kapan sih, mereka masuk?" tanya Alisa.
"Entah." jawab Faisya santai.
"Kira-kira cowok atau cewek? Atau dua-duanya?"
"Entah." Faisya tidak peduli. Alisa hanya cemberut.
"Ih Faisya, jawab yang serius.."
"Bodo amat, emang gue peduli. Ga deng canda." Faisya menepuk pelan pundak Alisa. Alisa hanya bisa cemberut, dan melihat arloji yang terpasang di tangan kirinya. Arloji miliknya sudah menunjukkan hampir jam 7 pagi. Wali kelas X IPA 1 tidak datang ke kelas. Entah kenapa. Kelas ribut dibiarkan begitu saja, sampai jam istirahat pertama kosong. Alisa dan Faisya hanya mengisi kegabutan mereka dengan menggambar, atau membicarakan sejarah yang seharusnya tidak dibahas, atau membicarakan karakter anime favorit mereka. Ya, itulah kegabutan mereka.
Tak lama kemudian, bel istirahat pertama berbunyi, Alisa dan Faisya keluar kelas, menemui sahabat mereka yang berada di kelas sebelah, Nabila Azzahra dan Nayla Rizka.
"Eh eh, di kelas aku ada anak baru loh. Cantik, berasal dari Singapura." kata salah satu sahabat Alisa dan Faisya, Nabila.
"Iya, cantik, jago bahasa Inggris juga. Rambutnya coklat muda, seperti keturunan Cina gitu deh." lanjut Nayla.
"Oh ya? Berarti.. Kelas kita nanti juga ada dong, Fai?" tanya Alisa.
"Iya kali, soalnya kelas kita masih ada slot 2 orang." jawab Faisya. "Eh, ayo lihat papan pengumuman." ajak Faisya. Mereka berempat melihat papan pengumuman tersebut. Ada seorang gadis yang Alisa kenal sedang berdiri di depan papan sambil melihat daftar nama-nama murid pindahan, mungkin?
"Eh, Nadhifa, kamu juga lihat?" tanya Alisa.
"Iya, nama-nama siswanya terdengar asing semua. Kayak bukan dari Indonesia." ucap gadis itu yang bernama Nadhifa Izza.
"Fai, Al, aku sama Nayla ke kantin dulu ya." Nabila dan Nayla pun ke kantin, meninggalkan mereka bertiga.
"Siapa aja sih? Nggak kenal." tanya Faisya.
"Ya iyalah, Fai. Aku juga nggak kenal mereka." jawabku.
"Eh, kelas kalian ada yang anak transferan juga." Nadhifa menunjuk tulisan X IPA 1.
"Maarten Jan Hoftijzer dan Reiner Louis Schneider." ucap Alisa dan Faisya bersamaan.
"Orang mana tuh?" tanya Faisya.
"Au deh, tapi kalo nama belakangnya Schneider.. Kemungkinan besar sih.. Berasal dari Jerman." jawab Alisa.
"Tau dari?" tanya Faisya.
"Taulah, Alisa 'kan suka hal-hal yang berbau Jerman dan Perancis. Ehehe.."
"Kalo.. Hoftijzer?" tanya Faisya sambil menunjuk nama tersebut.
"Mungkin di daerah balkan. Aku nggak tau juga sih.." jawab Alisa ragu. "Aku laper, Fai. Temenin aku ke kantin yuk. Dhif, aku ke kantin, ya." aku dan Faisya ke kantin. "Mau beli apa, Fai?"
"Biskuit keju aja deh." Faisya pun membeli biskuit keju tersebut.
"Oh iya, Fai. Tadi, aku lihat, ada 2 cowok, yang kayaknya seumuran sama kita, rambutnya pirang, ada juga yang coklat muda, tinggi, berkulit putih, matanya biru-"
"Mereka bule?? Omaigat omaigat, pokoknya aku harus lihat mereka, cogan nggak, Al?" Faisya sangat antusias mendengarnya.
"Cogan, Fai. Apa jangan-jangan..."
"Mereka sekelas dengan kita?" tanya Faisya.
"Kalau iya?" tanya Alisa balik.
"O-mai-gat. Aku bakal ngambilin aib-nya dia, Al." jawab Faisya. Alisa dan Faisya hanya tertawa kecil. Seorang gadis menghampiriku, namanya Gladys Emeralda.
"Alisa, Faisya, nanti kamu kumpulin ya, buku-buku yang di meja guru, ke Bu Fatika. Aku nggak bisa, nanti ada latihan Paskibra." ucapnya.
"Oke, Dis. Siap komandan!" balas Alisa dan Faisya bersamaan sambil memberi hormat kepada Gladys.
---
Akhirnya, bel pulang sekolah pun berbunyi. Murid-murid pun berhamburan ke luar kelas. Alisa dan Faisya hanya bisa mengambil buku-buku yang berisi tugas dari Bu Fatika dan membawanya ke ruang guru. Belum lagi koridor di depan kelas X sangat ramai, depan ruang guru pun juga, banyak murid-murid yang mengantarkan tugas mereka.
"Al, cepetan Al, nanti nggak bisa main, lho!" sahut Faisya dari depan keramaian. Bahkan, Alisa tidak sempat melihat Faisya di depan. Alisa hanya bisa mengejar Faisya dengan mempercepat langkahnya, namun karena ia lapar, akhirnya Alisa tidak konsentrasi saat jalan, dan..
"Aahh!!" Alisa menjerit. Buku-bukunya berserakan, ia terjatuh, entah ini salahnya atau bukan.
"I-I'm sorry, are you okay?" tanya seseorang, ia memberikan bantuan kepada Alisa. Tangannya putih, sudah jelas terlihat itu tangan cowok, ia memakai seragam yang berbeda, dan ketika Alisa melihat badge name-nya.. Reiner Louis S.
YOU ARE READING
Different
RomanceSuka sama anak Osis? biasa. Suka sama anak basket? mainstream. Suka sama anak beda jurusan? apalagi. Ini sebuah kisah cinta yang berbeda dan antimainstream. Seorang gadis yang dipandang rendah oleh teman-temannya, diam-diam menyukai sesosok laki-lak...
