Itulah pertanyaan yang menjadi pokok dalam semua bacaan ini, aku tak lagi mengerti maknanya semenjak kita pernah menjadi satu cerita. Aku sedang berusaha mencari jawabannya, atau mungkin lebih tepatnya adalah maknanya. Kata “kita” bermakna besar bagiku, namun aku juga setengah tak menyangka bahwa “kita” bukan suatu hal yang bermakna bagimu.
Jika kamu membaca ini, kuharap kamu sedang duduk diam, tak perlu menyesali maupun mengasihani. Cukup aku yang mengasihani diriku sendiri karena telah salah menaruh harap. Aku hidup pada sebuah harapan yang salah dan hanya bisa meninggalkan luka.
Tak perlu pula kamu menjawab pertanyaan yang ada, cukup tanyakan pada dirimu sendiri dan jawablah dalam hati. Biarkan sang malam menyampaikannya kepadaku, biar aku tak lagi menyimpan tanya.
Jika aku salah mendugakan sesuatu padamu, cukup katakan dalam hatimu. Karena disalahkan seusai dipatahkan akan melebihi kata pedih. Jika memang kamu tak lagi bisa menahannya, cukup ungkapkan amarahmu padaku, aku sudah terbiasa. Ungkapkan semua kepahitan itu padaku, baik yang memang kamu tujukan padaku maupun lainnya, agar hanya aku yang pahit hari ini, bukan orang yang kamu cintai sepenuh hati.
Jika memang kamu tak pernah menganggap “kita” pernah ada, sebaiknya tidak perlu membuang waktumu percuma untuk membaca ungkapan-ungkapan yang tak kamu pedulikan.
Jika “kita” tak pernah ada, jangan memaksakan untuk mengada-ada rasa itu. Aku sudah cukup terluka saat ini, dan belum siap menerima kenyataan untuk dibohongi sekali lagi.
Semua yang tertulis bisa saja terulang di bagian berikutnya, karena hal ini ditulis harian, didasari oleh perasaan yang muncul hari itu.
Jika hatimu masih murni dan sudah terbuka, maka mengapa tidak mencoba sesuatu yang baru bersamaku?
Aku masih disini, dengan rasa yang sama seperti sebelum saat itu.
Aku masih rajin menantikan, karena rasa yang ada memaksa terus ada. UNTUKMU, hanya untukmu.
YOU ARE READING
Merelakan Demi Kebahagiaanmu
RomanceSedikit ungkapan rasa dari aku yang mencintaimu begitu rupa, namun harus beranjak dan merelakan, bukan karena rasa tak lagi dirasa namun karena kebahagiaanmu yg utama.
