Chapter 1

42 3 0
                                        

Ketika aku terjatuh dalam kegelapan dan terhanyut di dalamnya.. akankah seseorang meraih tangan ini dan menggenggamnya menuju cahaya? Atau malah menariknya kembali ke kegelapan yang lebih dalam?

---

"Sial, panas sekali!"

Aku mengerutu pelan saat sinar matahari menembus epidermis kulitku. Matahari sudah berada tepat di atas kepala dan membuat beberapa tetes keringat mengalir di pelipisku. Aku masih menunggu tepat di samping rambu lalu lintas, dengan kedua tangan memegang kantong plastik besar berisi bahan makanan yang baru saja aku beli dari supermarket. Aku melihat ke sekeliling, ada tiga pria yang terlihat seperti karyawan kantoran dan satu gadis berseragam SMA. Haahh.. tidak adakah yang mau membantuku membawa kantong-kantong sialan ini? Ini berat sekali!

Dengan langkah cepat aku segera menyebrangi jalan sesaat setelah lampu lalu lintas berwarna hijau. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku lembut, membuat beberapa helai rambutku menari-nari terbawa angin. Ah, tapi aku tidak menyukainya, anginnya terasa panas di pipiku.

Perlu beberapa puluh meter lagi untuk sampai di gedung apartemen. Biasanya dari kejauhan aku dapat melihat satpam yang sedang berjaga di depan pintu masuk. Dan benar saja, dia memang sedang berdiri di sana dengan tongkat pemukulnya. Seperti biasa, matanya yang tajam memperhatikan setiap langkah orang-orang yang melintas. Dia adalah Jang Gwang, pria paruh baya dengan tubuh yang berisi dan rambut yang sudah separuhnya beruban. Begitu ia melihatku, terbentuk seulas senyum di bibirnya.

"Selamat siang, Nyonya Hwang." sambut si satpam sambil menghampiriku, "Biar saya bantu."

Belum sempat tangannya meraih kantong plastik yang kubawa, aku sudah menghindarinya, "Tidak tuan Jang, pinjami saja aku troli kecil seperti biasa. Aku tidak akan tega melihatmu membawa barang-barang seberat ini." ucapku halus. "Kemana anak buahmu?"

"Mereka sedang berpatroli di belakang, Nyonya."

Tuan Jang memang sering menawarkan diri untuk membantuku membawa barang-barang seperti ini. Sesering ia menawarkan diri, sesering itu pula aku menolaknya. Bukannya apa-apa, aku hanya kasihan pada tubuhnya yang sudah tidak muda lagi. Aku heran mengapa pihak apartemen masih memperkerjakannya. Padahal apartemen ini memiliki 4 satpam muda dengan tubuh yang masih kekar.

Tuan Jang membawakan troli kecil dari ruang kantor dan memberikannya kepadaku. "Aku akan mengembalikan troli ini nanti sore, tuan Jang." ucapku.

"Simpan saja di depan pintu anda, Nyonya. Saya akan menyuruh Dong Il mengambilnya." balas Tuan Jang dan tepat setelah itu, pintu lift di samping kantor Tuan Jang terbuka. Aku pun melangkah masuk dan menekan tombol angka 11.

Sebelumnya, perkenalkan, namaku Joo Yeon. Jang Joo Yeon. Ah, ya ampun... tentu saja namaku sudah berubah. Aku menikah dengan seseorang dari marga Hwang dan kini namaku berubah menjadi Hwang Joo Yeon. Aku masih muda, yah umurku masih 24 tahun. Aku baru saja berulang tahun seminggu yang lalu. Sedihnya, tak ada yang istimewa.

Aku bingung bagian mana yang harus kuceritakan terlebih dahulu. Keluarga? Pendidikan? Pekerjaan? Suami? Ah baiklah, aku akan menceritakan keluargaku. Dan.. nothing. Tak ada yang bisa aku ceritakan. Aku tidak memiliki keluarga. Aku anak yatim piatu sejak kecil. Entah dibuang atau dititipkan, aku tinggal di panti asuhan daerah Yangyang, Gangwon-do, sampai aku berusia 18 tahun. Kedua orang tuaku, yang entah siapa, menitipkan sejumlah uang kepada pihak panti asuhan untuk membiayai pendidikanku sampai sekolah dasar. Mereka berjanji akan membawaku dari panti asuhan setelah umurku menginjak 12 tahun. Bodohnya aku sempat mempercayai harapan palsu seperti itu. Memangnya ada orang yang memungut sampah yang sudah ia buang?

Singkatnya, aku melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi berkat otakku yang 'lumayan' encer ini, atau dengan kata lain, aku mendapatkan beasiswa. Aku memutuskan keluar dari panti asuhan setelah lulus SMA. Alasan? Pertama, aku yang paling tua di tempat itu, dan tidak sepantasnya aku menggantungkan hidup di sana sementara masih banyak anak-anak lain yang harus mereka tanggung. Kedua, aku mendapat beasiswa penuh untuk kuliah di salah satu universitas bergengsi di Seoul, yang akan sangat kusesali jika aku menolaknya. Aku masuk ke Fakultas Manajemen dan selesai tepat 4 tahun dengan IPK yang menurutku memuaskan. Selama kuliah, aku sempat bekerja part-time di salah satu restoran fast food untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Sebulan setelah kelulusan, aku berhenti dari kerta part-time dan bekerja di perusahaan komunikasi. Dua tahun kemudian aku menikah.

Aima [Hwang Min Hyun]Stories to obsess over. Discover now