Mempercayakan sebuah hati adalah hal terbodoh yang aku lakukan. kau bilang, sebuah hubungan dilandasi sebuah kepercayaan. Aku yang terlalu naif atau kau yang terlampau hebat memainkan sebuah peran.. sebagai kekasih idaman.
Hera Anindia
***
Dengan langkah tergesa aku berjalan hingga beberapa kali menabrak seseorang. "Maaf mas maaf," ucapku tanpa melihat wajah orang yang baru saja aku tabrak.
"Hah.. akhirnya sampai juga, untung aku tidak telat." dengan terburu-buru aku segera membuka pintu apartemen dan menutupnya kembali. Kini aku sedang berada di apartemen milik pacarku Dimas, aku berencana memberi kejutan untuk Dimas yang sekarang sedang berulang tahun. Dengan mendatangi apartemenya secara diam-diam dan memberinya kejutan saat dia pulang nanti.
"Aduh.. jam berapa ini kenapa Dimas belum pulang, jika terlalu lama aku bisa tertidur di sini." Aku sengaja bersembunyi didalam kamar, kamar milik Dimas yang aku persiapkan dengan meletakan meja dan dua kursi dibalkon agar dapat melihat pemandangan kota dimalam hari serta bintang-bintang dilangit. Sudah ada kue, kado, bunga segar yang kurangkai sendiri dan kutaruh di vas bunga dan makan malam yang aku masak sendiri tadi dirumah. Aku berencana mengagetkanya saat dia hendak memasuki kamar nanti karna aku akan bersembunyi dibalik pintu.
"Ahh sayang pelan-pelan kita masih punya banyak waktu." Aku segera bersiap siap saat mendengar suara Dimas telah memasuki apartemen, namun yang aku bingungkan sedang bicara dengan siapa Dimas? Karna rasa penasaranku, aku belum juga keluar dari dalam kamar dan menunggu agar Dimas memasuki kamar terlebih dahulu.
"Aahh.."
Aku hanya bisa diam mematung saat dengan mataku kepalaku sendiri aku melihat Dimas melalui celah pintu kamar yang aku buka sedikit, dimana Dimas dan seorang wanita memasuki apartemen dengan lidah Dimas yang sedang menjilati leher seorang perempuan dan tangan yang meremas-remas buah dada sang perempuan, dan perempuan itu dengan tergesa gesa membuka kancing kemeja yang Dimas pakai, disertai desahan desahan menjijikan
Brak!!
Dimas dan perempuan itu dikagetkan dengan suara tendangan pintu dari arah kamar, Aku hanya diam menatap Dimas dan perempuan itu secara bergantian dengan wajah datar tanpan ekspresi, aku terlalu bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini.
Ternyata dia tidak berubah. Sekali menjadi laki-laki brengsek akan tetap menjadi brengsek, bahkan setelah bertahun-tahun kita bersama
"Ra.. kamu.." ucap Dimas dengan terbata sembari mengancingkan kembali kemejanya. Aku tetap berdiri diam saat Dimas dengan tergesa mendekatinya lalu menggenggam tanganku, aku tatap genggaman tanganya yang bergetar karna gugup "Hahaha.. kejutanmu benar-benar luar biasa," Aku hempaskan tangan Dimas yang menggenggam tanganku dengan kasar.
Kusentuh pipiku saat kurasakan ada air disana, apa ini tidak jangan bilang aku menangis.
"Ra maaf ak-"
"Kita akhiri saja," dengan cepat kupotong ucapanya "Air mata sialan," ku maki diriku sendiri, kenapa disaat seperti ini air mataku keluar. Oke, Hera Anindia tidak boleh menangis hanya karna laki-laki sialan.
Kulepas kalung yang selama ini kupakai selama lebih dua tahun kita berpacaran, kalung yang Dimas berikan saat aku menerima cintanya.
Aku taruh kalung itu disaku kemeja Dimas, karna aku tidak ingin repot-repot menaruhnya di tangan "Maaf, aku mohon Hera dengarkan penjelasanku" ku hiraukan ucapannya dan berlalu pergi
"Lepaskan tanganmu dari tubuhku," ucapku dingin. Mau apa lagi laki-laki ini
"Tidak Ra maaf, aku mohon maafkan aku dengarkan dulu penjelasanku" ucap Dimas dan mempererat pelukannya di perutku.
"Brengsek, menjauhlah dari tubuhku!" Dengan cepat aku berbalik dan mendorong badanya dengan keras serta kasar, sampai Dimas terhuyung kebelakan dan menabrak tembok pembatas antar ruang tamu dan kamar "Bicaralah apa yang ingin kamu jelaskan, akan aku dengarkan. Tidak perlu menyentuh tubuhku.
"Aku.. aku.." dengan terbata-bata Dimas berusaha menjelaskan "Aku butuh pelampiasan, aku laki-laki yang mempunyai kebutuhan maaf.." ucap Dimas sambil menunduk dan mengerang frustasi.
"Apa! Pelampiasan kau bilang!" Dengan wajah merah padang karna menahan emosi, kutatap Dimas dengan tajam.
"Aku harus bagaimana? Apa jika aka mengajakmu melakukanya kau mau? Tidak kan"
Aku tau apa maksud dari 'melakukan' yang Dimas mau adalah sex.
Bug!
Bug!!
Brak!
Arrrghh!!!
Setelah dengan bringas aku menghajar Dimas dengan meninju dan menendang tepat pada benda pusakanya, aku melenggang pergi menginggalkan apartemen Dimas dengan wajah puas dan senyum mengembang tanpa peduli erangan kesakitan Dimas dan jeritan kaget dari selingkuahan Dimas.
***
Typo bertebaran
Oh iya, Ini tulisanku yang pertama jadi wajar dong ya kalo agak gimana gitu.
YOU ARE READING
Paradas
RomanceAku ingin menjadi akhir, menjadi tempatmu berhenti dalam panjanganya pejalanan hidup, dan menjadi rumah tempatmu beristirahat.
