Prolog

52 7 1
                                        



Sisa keringat masih menetes dari pelipis bahkan sampai ke dalam kaos olahraga yang belum kuganti sejak 10 menit pelajaran olahraga berakhir. Materi olahraga hari ini adalah lari cepat sejauh 100 meter.

Dan.. wohooouu~ aku mendapat posisi ke dua di kelas dari dua puluh tujuh siswa. Merasa senang? Pasti! Hanya saja bukan berada diposisi pertama membuatku merasa tidak puas.

Aku berjalan sendiri mengekori teman-teman sekelasku yang juga ingin menuju loker untuk mengambil seragam ganti. Saat hendak meninggalkan koridor loker, aku berpapasan dengan seorang pria. Kurasa ia adalah seorang sunbae.

Sebelum aku benar-benar meninggalkan tempat itu, aku membungkukkan badan untuk memberi hormat lalu pergi dari sana. Punggungku.. terasa diperhatikan olehnya.

Mencoba mengabaikan hal barusan dan ternyata memang aku nya saja yang berlebihan sampai menganggap hal seperti tadi itu menyeramkan.

Selesai dengan urusanku berganti seragam, aku pun kembali ke kelas. Masih berjarak tujuh meter dari pintu kelas yang kutuju, suara berisik dari dalam ruangan membuatku yakin bahwa sumber itu dari dalam kelasku. Gagang pintu kelas telah kupegang, lalu menekannya sedikit, aku masuk ke dalam melihat teman-temanku sekilas yang sangat acak-acakan membuatku pusing seketika.

Ditambah dengan suara mereka yang berisik. Telingaku sakit rasanya. Tapi aku mencoba mengabaikan mereka semua. Aku bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Menurutku, itu tak penting.

Tidak sengaja aku mendengar teman-teman gadisku bergosip tentang drama yang tayang perdana tengah malam kemarin, belum lagi, teman-teman priaku yang menceritakan kisah balap liar atau pergi ke club mereka.

Apa kalian berpikir aku disini tidak memiliki teman? Jawabannya adalah..

SALAH!!!

Wajahku lumayan oke untuk siswi yang tidak melakukan oprasi plastik sama sekali, pintar, aktif, berprestasi, juga kaya raya. Siapa yang tidak ingin berteman atau berkencan denganku?

Jika kalian berpikir lagi, aku adalah gadis dingin, tak berperasaan atau apapun itu. Kalian..

SALAH LAGI!!

Mencoba menjadi gadis biasa itu yang aku lakukan. Hanya otak yang akan selalu aku asah untuk masa depanku, bukan kecantikan atau kekayaan orang tua untuk disombongkan.

Dari enam gadis yang ada disekumpulan penggosip oppa-oppa tadi, salah satu dari mereka bertanya padaku, apakah aku menonton drama tersebut atau tidak.

Aku pun menjawab 'Ya, aku menontonnya' lalu terjadilah perbincangan panjang antara aku dan enam gadis disana membahas acting dan ketampanan Ji Chang Wook yang pastinya tidak akan berhenti jika suara bel pertanda pergantian jam pelajaraan tidak berbunyi.

-

Di jalan kecil nan sempit ini aku berjalan. Berawal dari gerbang sekolah, menyeberangi sungai kecil, melewati taman kanak-kanak TK yang sudah sepi pastinya, lalu jalan kecil yang sedang kulewati ini, dan yang terakhir taman kota.

Saat ini sudah pukul lima sore, aku ingin menyempatkan diri sebentar untuk pergi kesana. Dan mungkin akan banyak anak-anak kecil bermain. Melihat mereka tertawa, berlari kesana kemari, bicara dengan suara yang lucu, cara makan yang berantakan.. aku suka pemandangan seperti itu.

Rasanya ingin cepat-cepat memiliki anak. Padahal aku masih sekolah kelas 2 SMA, tapi mulutku ini mengerikan sekali mengucapkan kalimat seperti tadi.

Dari tempat aku berdiri, aku sudah bisa melihat ujung dari jalan kecil yang kulewati. Mungkin sekitar 50 meter.

Namun, sebelum diriku sampai di ujung jalan sana, aku mendengar suara langkah kaki.. tunggu! Bukan! Tapi larian. Ada suara beberapa orang di belakangku sedang berlari. Apa mereka sedang mengejar salah satu diantara pelari itu?

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 29, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

heroin ㅡbaekhyunStories to obsess over. Discover now