Kisah

409 41 20
                                        

   Seorang anak kecil yang bernama Luhan kehilangan kedua orangtuanya karena sebuh kecelakaan beruntun.
   Luhanpun hidup sebatang kara dan ia pun terlunta- lunta di jalanan kota Seoul yang dingin dan sepi, sampai suatu hari ia berjalan di sebuah taman bunga dan bertemu dengan seorang pria dewasa yang di perkirakan berumur kurang lebih 35 tahun

" Sedang apa kau di sini sendirian nak? Di mn orangtuamu ? " tanya paman tersebut

" Oratua ku telah meninggal seminggu yang lalu paman, aku hidup sendirian sekarang " jawab Luhan sambil menunduk

" Apa kau mau ikut dengan paman dan tinggal di rumah paman? " tanya paman tersebut
" Tapi aku tidak ingin menyusahlan paman " jawab Luhan

" Paman tidak akan tega membiarkan mu sendirian nak, disini sangatlah berbahaya untuk gadis sekecil dirimu, jadi paman mohon ikutlah dengan paman" sambil menggenggam tangan Luhan yang sangat dinging karna suhu yang sangat rendah

   Luhanpun tinggal bersama paman tersebut dan keluarganya. Awalnya Luhan di perlakukan sangat baik oleh keluarga ini. Sampai suatu saat sang paman meninggal dunia, Luhan yang kala itu berumur 10 tahun di perlakukan layaknya seorang pembantu.
   Hingga suatu saat Luhan pergi ke suatu bukit dan di bukit itu Luhan melihat bintang jatuh lalu dia berdoa.

" Semoga suatu saat aku bisa bertemu dengan orang seperti ayah dan paman yang dapat menjagaku dan melindungiku, aku juga ingin bertemu orang seperti ibu yang menyayangiku dan membuat hari-hariku lebih indah jika bersamanya " kata Luhan sambil menutup matanya.

   Tak terasa 15 tahun telah berlalu Luhan telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan sangat baik.
   Setiap hari peringatan kematian sang paman dan setiap hari kematian dan hari-hari penting baginya selalu datang ke bukit untuk menyalakan lilin di malam hari dan berdoa untuk sang paman dan kedua orangtuanya.

" Ayah, ibu, dan paman sekarang aku telah berhasil mengejar mimpiku menjadi seorang dokter, walau aku baru bisa membuka klinik kecil tetapi aku sangat senang sekarang karna impian ku bisa terwujud " kata Luhan berbicara pada lilin

" Jika saja kalian masih ada di sini, kalian pasti akan sangat bangga padaku " sambil meneteskan air mata

Tiba tiba terdengar suara yang sangat keras
" Apa kau akan terus menangisi mereka yang sudah tidak ada? "

Luhanpun berbalik ke arah Suara dan mendapati seorang pria berperawakan tinggi dan tampan sedang berdiri di bawah pohon yang besar

" Siapa kau? Apa kau mengikutiku? " tanya Luhan spontan

" Kau tak perlu takut, aku tidak akan menyakitimu " jawabnya sambil berjalan mendekati Luhan

" Siapa kau dan berhenti mendekat " tanya Luhan ketakutan
" Aku adalah Oh Sehun, aku dewa kehidupan " jawabnya dengan nada yang sangat tenang

" Apa dewa? Ha..ha.. apa kau sudah gila? Kau menyebut dirimu dewa, pulanglah kau pasti sedang berhalusinasi sekarang " jawab Luhan sambil tertawa kecil

" Aku tidak berbohong, aku ke sini untuk membantu di kehidupanmu " jawab Sehun
" Aku rasa kau sudah gila, sebaiknya kau datanglah di klinikku besok aku akan mengobatimu " jawab Luhan sambil memberi kartu namanya

Sehunpun mendekat dan menarik pinggang Luhan hingga membuat wajah mereka sangat dekat

" Dug... dug... dug... " suara detak jantung Luhan

" Apa kau tidak percaya padaku? " tanya Sehun sambil mendekatkan wajahnya pada Luhan
" Lepaskan aku, dasar orang gila " mencoba melepaskan pelukan Sehun

" Aku tahu siapa dirimu, kau adalah Xi Luhan lahir pada tanggal 20 april di Beijing, orangtua mu meninggal tepat pada hari kelahiranmu 20 april, kau di rawat oleh seorang pria bernama Mr. Jhon seminggu setelah orangtuamu meninggal, Lulusan terbaik di akamdemi kedokteran jiwa, golongan darah O dan setiap memperingati hari kematian orangtua dan paman Jhon kau selalu datang ke bukit ini untuk menyalakan lilin dan berdoa, katakan apa aku salah sedikitpun tentang dirimu? " jawab Sehun mencoba meyakinkan Luhan

" Dari mana kau bisa tahu semua itu? Apa kau memata-mataiku selama ini? " tanya Luhan penasaran

" Sudah ku katakan padamu aku ini seorang dewa " jawab Sehun sambil berjalan memutari Luhan

" Apa aku sedang berhalusinasi sekarang? Hah.. sepertinya aku sudah mulai gila " sambil memukul-mukul kepalnya

" Sayangnya kau tidak sedang gila Luhan, kau sadar sekarang " menghentikan tangan Luahan memukul-mukul kepalanya
" Sebaiknya aku pulang sekarang " jawab Luhan sambil berjalan meninggalkan Sehun.

Luhanpun pulang kembali ke kontrakannya karna rumah sang paman telah di jual oleh istri dan anaknya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 02, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Pengantin DewaWhere stories live. Discover now