Sesaat aku melihat seorang pemuda yang ingin sekali berteduh namun tidak ada bagian yang memayungi tubuhnya sedikit pun, aku melihat sekitar bahwa orang-orang tidak begitu peduli padanya, aku mulai keluar dari kerumunan dan membuka payungku juga menghampiri pemuda itu yang sibuk mengibas-ngibas rambur juga mengusap wajahnya.
“hmmm..” gumanku.
Aku langsung memayungi pemuda itu tanpa berkata sepatah katapun dan pandangan lurus kedepan, Dia menatapku heran dan aku tidak menghiraukan apa yang dipikirkan olehnya.
“terimakasih”. Ucapnya.
Aku tersenyum padanya dan kembali meluruskan pandangan menanti bus yang akan membawa kerumah temanku.
“Bisa saya yang membawa payungnya mba?” katanya.
Aku memberikannya dan mengucapkan terimaksih, karna memang dia lebih tinggi dan tanganku harus lebih mengangkat untuk memegang paying itu.
“Naik bus apa mba?” tanyanya.
“Kebatas kota”. Jawabku
“Kita akan naik bus yang sama,”katanya lagi.
Aku bersyukur lega karna mungkin tidak harus meninggalkanya ketika bus yang akan aku naiki datang.
Hujan semakin deras dan orang-orang bertambah banyak mulai dari yang turun dari angkutan umum untuk naik bus selanjutnya atau yang hanya sekedar berteduh menunggu hujan reda.
Tidak ada percakapan lagi sampai bus yang kami tunggu datang, semua yang akan naik bus itu berebut naik dan saling mendahului, dia memayungiku dan melindungiku dari desakan orang-orang, akhirnya kami naik bus dan mendapat tempat duduk. Dia duduk tepat disampingku dan sibuk sendiri mengibas rambut dan membuka jaketnya yang basah lalu mengosok-gosok telapak tanganya. Aku melihatnya dan dia tersenyum.
Aku coba mengambil sapu tangan dan minyak kayu putih dari tasku dan memberikan padanya.
“Pakailah,,,ini bisa mengeringkan rambut dan membuat tangan anda hangat”.kataku yang melihat tangannya pucat dan gemetar. Cuaca sore ini benar-benar buruk.
“Terimakasih”. Ucapnya
“Vino…” sambungnya dan mengajak ku bersalaman.
Aku tersenyum dan hanya menelungkupkan telapak tanganku mencoba tidak menyinggung perasaan nya karna tidak membalas ajakan bersalaman darinya.
“Hendak kemana mba?” katanya memulai obrolan.
“hendak ke rumah teman, dia lagi sakit”jawabku.
“ohh,,”
“mas nya sendiri mau kemana?” tanyaku
“Aku bukan orang jawa mba,”katanya sambil tersenyum.
Aku kaget dengan pernyataannya dan tersenyum saat mengerti apa yang coba dia sampaikan, lalu diam dan tak berani bertanya lagi.
“ish..apaan sih ini orang..” bsenyumnya
“ maaf mba” katanya sambil menahan senyumnya
“saya hendak kerumah sakit mba, ibuku mendadak masuk rumah sakit saat saya dirumah teman”terangnya.
“mmmm…semoga cepat sembuh ibunya “. Ucapku coba memberi semangat.
“apaan sih so perhatian, aaaaa” batinku lagi.
Tepat di jalan pasar baru dan stasiun kereta api Bandung, dengan tiba-tiba dia memberikan sebuah kartu nama dan berdiri, lalu berkata “ Sms atau telpon ke nomor saya dan saya pastikan kita akan bertemu lagi”. “ Sekali lagi terimakasih payungnya”. Setelah itu dia tersenyum dan turun.
Sesaat setelah dia turun aku melihat sebuah Rumah Sakit cukup besar dan bergumam “ oh Rumah Sakit ini”. Dan kembali heran dengan apa yang dikatakan pemuda itu, aku pun mencoba membaca kartu nama itu.
“Muhammad Tajudin Alvino”
“Account Representative ”. Lengkap dengan alamat kantor dan no teleponnya.
“Pekerjaan seperti apa memiliki jabatan seperti itu”. Gumamku sedikit menghiraukan kartu nama itu.
Tidak sepenuhnya aku bisa menghiraukan kartu nama itu dan perkataan yang diucapkannya tadi. Aku terperanjat saat ingat sapu tangan dan kayu putih ku yang dipinjamkan kepada nya.
“eeeh…apaan sih dia, kenapa tidak mengembalikannya kepadaku”. Batinku dengan sangat kesalnya.
Penasaran dengan ucapannya, jika aku menghubunginya kita akan bertemu lagi, sesaat aku tidak peduli dan focus untuk turun. Tapi aku begitu penasaran dan tanpa menunda mengetik nomor teleponnya di pesan terkirimku. Entah apa yang ingin aku tulis, tapi tempat yang aku tuju hampir sampai hingga aku berteriak berhenti dan cepat-cepat turun. Hujan masih setia menemani perjalnanku , sesaat setelah turun, aku melihat bus melaju dengan gagahnya dan berjalan meninggalkan jalan raya menuju rumah temanku itu.
Sepanjang jalan aku teringat akan kejadian dihalte tadi, begitu aneh memberikan bantuan itu dan bergumam bahwa aku harus melupakannya.
Sesampainya dirumah temanku itu aku disambut hangat oleh ibunya, temanku bernama Tri Annisa khalahatunnajah. Aku langsung ke kamarnya, dia sedang menikmati bubur kacang hijau buatan ibunya sambil melihat kaca jendela dan rinai hujan.
“Assalamualaikum” Ucapku menyapa nya. Dia terlihat pucat dan tersenyum padaku dengan tulus dan menjawab “ Waalaikum,salam..”
Aku memeluknya dan menanyakan keadaannya. Tak lama ibunya membawakan teh manis dan semangkuk bubur kacang hijau yang membuat perutku bersemanagat. Hujan diluar masih berguyur dengan derasnya. Waktu menunjukan pukul 17:25 WIB saat aku melihat jam dan mulai menikmati sajian yang dihidangkan ibunya Tri. Kami berbincang-bincang banyak sekali dan seketika aku teringat akan pesan yang ingin aku kirim ke orang itu, aku terperanjat dan dengan segera mengambil handphone di tasku. Saat aku melihat pesannya sudah terkirim dan tanpa kata apapun. Aku gugup sambil mondar mandir tidak karuan. Tri meliha heran ke argemetar
“Gimana,gimana,gimana,,,”ucapku gemetar
“Apa,apa,apa,,,” jawab Tri ikut bingung.
“aku mengirim pesan kosong ke orang yang baru saja aku kenal, aku menolong dia tadi”. Jelasku
“oh,,biarkan saja, dia mungkin akan menganggap kalo itu salah kirim, tenang dan nikmatilah buburnya” Tri menenangkan.
Aku menikmati sajian bubur yang dihidangkan ibunya Tri dengan perasaan cemas, berfikir bagaimana jika orang itu menemukanku dan tau bahwa yang mengirim pesan itu adalah aku.
Menemani Tri tidur dan tidak bisa tidur, seluruh tubuhku meriang dan kaku. Aku coba membaca Al-quran mengundang ngantuk yang tak kunjung datang dan menenangkan hati yang tak menentu setelah kejadian sore tadi.
“Oh..Allah,,tolong ijinkan pergi ingatan itu”. Batinku
Aku beranjat dari tempat tidur dan mengambil buku catatan harian di tasku, mencoba mengabadikan kejadian hari ini yang terasa aneh dan baru bagiku.
ESTÁS LEYENDO
Hujan!!
Romancekisah cintaku yang tidak mudah.. persahabatan dan cinta, manakah yang lebih penting?
