Bagian 1

529 55 20
                                        

Nazla senang berada di sini. Di pagi yang cerah. Di atas matahari yang membuat badan dinginnya jadi menghangat. Di pagi hari yang membuat dirinya bersyukur atas nikmat yang Allah berikan padanya, yang kadang kala ia lupa caranya bersyukur itu harus seperti apa.

Pagi ini merupakan pagi semester pertama di pertengahan bulan. Semua siswa dan siswi SMA Bakti Mutiara berhamburan ke lapangan ucapara, ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.

Nazla, gadis dengan gaya rambut quiff klasik berjalan santai ke barisan kelas 11 IPS 1. Gadis itu berbaris di barisan para perempuan, tepatnya di barisan paling belakang.

Upacara pada hari Senin itu berjalan dengan khidmat. Kadang juga masih ada sebagian murid yang mengobrol karena merasa gatal dengan mulutnya. Hingga upacara itu selesai, semua siswa dan siswi segera dibubarkan dan memasuki kelasnya masing-masing.

"Naz, woi!! Sekelas lagi gue sama lo." Baru saja Nazla memasuki kelasnya, sudah disambut dengan teriakkan Ghani, teman sekelasnya sekaligus teman saat ia masih kelas 10.

"Bosen gue sekelas sama lo. Beneran dah." Nazla adu tos dengan Ghani. Kebiasaan mereka setiap bertemu memang selalu seperti itu. Tak pandang jika Ghani itu bukan mahramnya.

"Yakinilah... kebosenan lo akan membawa lo pada titik dimana lo rindu sama gue," ujar Ghani.

"Jijik, enek, seisi dunia akan ngamuk rindu sama makhluk model kayak lo."

"Hush.. Lo kalau ngomong disaring dulu biar nggak garing."

Seharusnya, walaupun penampilan Nazla seperti seorang laki-laki, bukan berarti pergaulannya pun harus seperti laki-laki. Apalagi dia sering bergaul dengan kaum adam dibandingkan dengan kaum hawa.

"Wis... jambul baru nih." Baru saja Ghani hendak memegang rambut Nazla, langsung ditepis oleh gadis itu.

"Jangan rusak rambut gue woy. Kebiasaan deh lo. Awas ah, gue mau duduk." Nazla berjalan menuju mejanya. Tepat di ujung kanan barisan kedua.

Entah dengan siapa Nazla sebangku. Karena saat dia masuk kelas, semua orang sudah berbaris di lapangan. Jadi, Nazla tidak tahu siapa pemilik ransel berwarna pink itu. Sampai saat ini pun, teman yang akan sebangku dengannya belum kembali ke kelas.

"Naz, masih gak berubah lo. Masih kayak cowok aja. Gue kira saat udah jadi kelas 11 lo bakal kayak cewek," ucap perempuan yang duduk di depannya.

"Gue udah kayak cewek kali," sahut Nazla.

"Cewek jadi-jadian maksud lo." Gelak tawa langsung terdengar seisi kelas saat perempuan tadi mengatakan candaan seperti itu.

Tepat saat bel masuk berbunyi, semua murid langsung terdiam. Perempuan cantik dengan hijab panjangnya duduk di sebelah Nazla. Sudah bisa dipastikan bahwa dia gadis pemilik ransel pink yang tergeletak di atas meja.

Perempuan itu tersenyum ramah kepada Nazla, dan dibalas tak kalah ramah oleh Nazla.

"Namaku Naifa Andyra." Gadis bernama Naifa itu mengulurkan tangan kanannya ke arah Nazla.

"Gue Nazla Saffana. Tapi lo panggil gue Naz aja." Nazla menyambut uluran tangan Naifa dengan baik. Entahlah, ada rasa malu menyelimuti hatinya saat duduk dengan gadis berhijab panjang itu. Berhubung dirinya masih belum bisa menutup auratnya.

"Aku udah tahu kok. Siapa sih yang gak kenal sama Nazla Saffana di sekolah ini," kata Naifa sambil terkekeh kecil.

Memang, siapa yang tak kenal dengan Nazla Saffana, si murid tomboi yang memiliki sikap easy going? Apalagi Nazla termasuk murid yang cukup pandai. Dia selalu masuk peringkat 3 besar di kelasnya. Walaupun Nazla terlihat nakal, tapi dia juga masih punya sisi baiknya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 02, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Nazla  SaffanaStories to obsess over. Discover now