Hari ini tidak sengaja aku menemukan sisa-sisa cerita kita .
Seikat mawar merah mengering yang telah berubah menjadi coklat. Kala itu , aku sengaja menyimpannya di bawah sela-sela dinding dan ranjang kamarku. Warnanya masih merah, ketika ku letakan disana. sengaja pula aku menyimpan ditempat yang tidak terlihat siapa-siapa agar tak menimbulkan banyak tanya.
Aku sudah lama tidak mengingatmu , aku telah lupa bagaimana persisnya warna coklat di kedua kornea matamu yang dulu begitu aku sadari tentang indahnya .
Aku lupa bagaimana rasanya tanganmu yang dulu selalu menggandengku. Bahkan , aku telah lupa rasanya bersandar di bahumu sepanjang jalan tiap kali kamu menyetir. Perpisahan ternyata membuat kita yang dulu lekat menjadi asing .
Meski aku tidak pernah mengaminkan kebersamaan kita , juga tidak pernah sekalipun mendoakan tentang takdir yang sebagaimana orang lain lantunkan ketika bersama . Tapi ternyata aku cukup punya alasan untuk mengingat semua kebaikan mu hari ini. Lewat seikat mawar yang sudah tidak indah lagi.
Masih ku ingat bagaimana kamu yang rela menunggu hampir dua jam dibandara menungguku tiba selepas seminar nasional di Semarang , ketika jadwal penerbanganku tertunda akibat cuaca buruk .
Masih ku ingat suara klakson mobil merahmu yang sering kali membuat kita ribut karena aku tidak suka suara nya yang terlalu nyaring .
Masih ku ingat aku protes dengan aroma parfurm mobilmu lalu esok hari ketika kamu mengajakku makan siang , parfum menyebalkan itu telah kamu ganti dengan aroma kopi yang sangat menenangkan , sesigap itu kamu merespon protesku . "kan kamu nga suka makanya aku ganti. yang ini kamu pasti suka" katamu siang itu, aku tertawa betapa aku tahu kamu ingin selalu menyenangkanku .
Tunggu ... aku menulis ini bukan untuk mengenang apalagi merindukanmu .
Hal itu tidak pernah aku pikirkan sejak awal kita bertemu , aku hanya ingin menulis cerita yang telah selesai , lalu mengucapkan banyak rasa terimakasih karena kamu pernah sangat mengusahakan kebahagiaanku . Ya, kamu yang menemukanku ketika aku terjatuh.
Kamu yang selalu ku jadikan telinga selama satu bulan .
Pada suatu sore, setelah kamu memimpin sebuah rapat kerja dengan hanya menggunakan kaos oblong meskipun sempat ku protes awalnya, kamu berkata "siapa yang juga yang akan memarahiku" katamu santai sembari duduk dikursi yang disusun tunggal di antara deretan kursi berjajar yang mengarah kearahmu.
Diperjalanan ,
kamu bertanya padaku . tentang satu pertanyaan yang membuatku bagai tersambar petir di siang bolong yang cerah .
"lalu bagaimana ? bukan nya kamu sudah lelah . bagaimana dengan ajakanku menikah dibali kamarin? sudah kamu pikirkan?"
aku hanya merespon pertanyaan itu dengan tertawa , sembari berkata di dalam hati "apa-apaan ini"
meskipun aku tahu , mengajak ku menikah di Bali , lalu tinggal di rumah yang sebagian besar dindingnya tebuat dari kaca mengahadap pantai yang sudah lama kamu siapkan untuk calon istrimu kelak , yang sempat beberapa kali kita kunjungi . bukanlah hal yang mustahil buatmu .
janji akan akan memilih bukit marese sebagai tempat kita melakukan poto prawedding , setelah itu mengajak dua keluarga kita menyaksikan pernikahan kita diBali , lalu pergi bulan madu di Bonn , sebuah kota kecil di kecil di Jerman. tempat dimana kamu pernah tinggal dan menyelesaikan studymu selepas SMA. Berencana akan memiliki dua anak lucu bahkan telah kamu bicarakan kala itu. meskipun sejujurnya , aku sama sekali tidak pernah meng"amin"kan semua itu sayang .
tapi ntah , waktu itu aku masih belum bisa meninggalkan kompartemen masalalu dari hati dan otak ku , lalu menggantikan kamu sebagai rencana masa depan . Tahu apa alasannya ? karena sekeras apapun kepala kita, ini semua antara Rosario dan Arah kiblat. keduanya sisinya tidak akan sama . meski semua orang percaya bahwa dihidup hanya tercipta satu Tuhan. tapi kenyataannya , kita menyebutnya berbeda.
