Ciciit...Ciciit...Ciciit...
Suara burung berkicau riang di suatu area persawahan yang sangat luas. Sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan sawah yang seolah tak terbatas. Warna hijau, kuning sangat mendominasi. Menandakan musim panen padi akan segera tiba.Persawahan yang terhampar luas bak lautan padi yang dikelilingi oleh kebun kelapa
Di tengah-tengah hamparan yang luas tersebut, terdapat sekelompok makhluk pengganggu Yang dengan tampang tak bersalahnya mengusik ketenangan si padi. Lantas para petani pun marah dan mengusir makhluk tersebut.
Ya, makhluk bersayap yang dengan mudahnya bisa terbang kesana kemari. Tak salah lagi, itu burung pipit, si hama tanaman padi.
Mereka tanpa izin, seenaknya memakan padi yang hampir siap dipanen. Mereka juga membuat sarang dan bertelur diantara batang-batang padi.
Hari -hari terus berlalu,....
Hingga sekarang saatnya panen besar bagi para petani. Mereka beramai-ramai datang ke sawah untuk memotong padi. Sedikit demi sedikit semua padi pun telah selesai dipotong.
Sawah sekarang dalam keadaan kosong, yah, meskipun masih ada batang padi Yang tertinggal ditemani jerami yang berserakan di atas tanah yang sedikit becek tersebut.
Setelah masa panen seperti ini, biasanya para petani akan libur dari kegiatan pertanian selama beberapa saat, akibatnya sawah pun menjadi kering tak terurus.
Dan inilah saatnya para makhluk bersayap mulai beraksi.Beberapa burung pipit dewasa mampir ke sawah yang tengah kosong melompong itu . Entah apa yang mereka lakukan disana.Tidak ada padi, atau makanan lain yang dapat mereka konsumsi , bahkan serangga pun tidak ada dalam kondisi begini.Semuanya telah diambil oleh para petani yang serakah itu, tanpa meninggalkan setangkai padi pun untuk burung malang itu.
Di antara kawanan burung pipit itu, ada seekor burung pipit betina yang terlihat tengah terbang seorang diri seraya membawa beberapa helai jerami dan rumput kering di kaki serta paruhnya. Ia melewati area persawahan yang luas, kemudian memasuki area perkebunan kelapa yang letaknya jauh dari permukiman penduduk desa.
Tidak lama kemudian burung betina itu hinggap di sebuah dahan pohon yang sangat tinggi dan besar. Entah pohon apa namanya, tapi pohon itu sangat besar dan rindang.
Setelah meletakkan jerami dan rumput itu di salah satu dahan, sang burung pun mulai menganyamnya menggunakan paruhnya. Setelahnya, burung betina itu pun kembali lagi ke area persawahan tersebut.
Lagi -lagi hanya beberapa helai jerami yang ia bawa. Ia mondar-mandir beberapa kali demi mendapatkan helaian jerami itu. Perjuangan yang sangat keras nan melelahkan.
Setelah berhari-hari mengumpulkan dan menganyam jerami tersebut, akhirnya sarang pun jadi.Sarang tersebut tampak bagus dan rapi, entah bagaimana cara ia membuatnya.
Setelah sarang terbentuk, burung itu pun langsung duduk , ah sebut saja begitu. Posisinya terus berubah-ubah sampai menemukan posisi yang dirasa nyaman untuk bertelur.
**********
Dengan susah payah burung itu pun akhirnya berhasil mengeluarkan telur pertamanya.Telur yang masih hangat itu ia biarkan di dalam sarang , kemudian ia pun pergi mencari makan.
Begitulah seterusnya hingga......
Telur di dalam sarang sudah berjumlah tiga butir telur.Dan kini saatnya mengeram telur-telur tersebut.
Selama berhari-hari, hingga datanglah minggu, telur itu pun akhirnya menetas, menjadi bayi burung kecil. Bayi yang masih basah itu pun ditinggal induknya di dalam sarang, sedang induknya pergi mencari makan.
Di sawah, induknya terbang kesana kemari untuk mencari belalang dan juga padi yang jatuh di tanah, untuk makanan bayi kecilnya.
Setelah memperoleh serangga tersebut, sang induk langsung kembali ke sarang dan menyuapi bayi-bayi kecilnya.
"Bayi-bayi kecilku tersayang, buka mulutmu! Ibu akan menyuapi kalian serangga-serangga yang lezat ini," ucap sang induk.
Lantas bayi burung pun membuka mulutnya, menunggu suapan sang ibu.Mereka berkicau ria, yang menandakan kalau mereka tak sabar ingin makan.
Sang Ibu menyuapi mereka dengan paruhnya.Bayi pun memakannya dengan lahap.
"Ibu, aku ingin lagi," pinta salah satu bayi burung.
"Iya, kami juga mau!"sahut yang lain.
"Baiklah. Kalian tunggu di sini. Ibu akan mencarinya lagi untuk kalian!" Sang Ibu pun langsung pergi mencari makanan.
Kali ini ia singgah di padang rumput. Di sana sangat banyak serangga seperti belalang, ulat, bahkan jangkrik pun ada.
Ia pun menangkap beberapa serangga untuk dibawa pulang.
"Ibu, aku lapar," ujar sang bayi ketika melihat ibunya sudah pulang.
"Kalau begitu buka mulutmu!" Sang induk kembali menyuapi ketiga anaknya
Burung betina itu kemudian memperhatikan ketiga bayinya. "Kalian semua hampir mirip.Ibu tidak bisa membedakannya. Sekarang Ibu akan memberi kalian nama.."
"Kalian cocok diberi nama siapa, ya?" Pikirnya.Kemudian ia mengamati satu per satu anaknya. "Nah, Ibu tahu, kamu yang tertua bernama Dilchi.Karena bulumu berwarna campuran. Jadi itu cocok sebagai namamu."
"Sekarang yang berwarna coklat kemerahan , namamu Rilchi, ya namamu cocok dengan warna bulumu."
"Sekarang si bungsu, Ibu akan memberimu nama Yoichi." Ujar sang Ibu bersemangat.
"Namamu Yoichi karena bulumu berwarna yellow. Nama yang sangat manis"
"Ibu, kenapa nama kami semua ber-akhiran 'chi'?"tanya Dilchi.
"Karena kalian bayi-bayi kecilku." jawab sang Ibu.
Hari demi hari pun terus mereka jalani seperti biasa, hingga akhirnya bayi, bayi kecil pun tumbuh lebih besar.
################
Feelnya nggak dapat, ya.
Maklum ini cerita pertamaku di wattpad.
Kritik, saran, dan komentar sangat dibutuhkan.
YOU ARE READING
The Adventure of Dilchi
RandomHanya cerita Fabel Petualangan Dilchi dalam mencari keluarganya yang hilang entah ke mana. Mereka satu per satu pergi meninggalkannya dan hilang tanpa jejak. Dan penyebab hilangnya mereka pun masih menjadi misteri. Akankah ia dapat menemukan kel...
