Doyoung terbangun dengan warna gradasi putih dan biru yang memenuhi pandangan kedua matanya yang sedikit blur; masih berusaha membiaskan dan akhirnya ia terdiam untuk sekitar lima belas detik. Menengok sedikit ke samping, ia menemukan seorang pria tengah melingkarkan lengan kekarnya ke pinggang polos serta ramping milik pria yang menyerupai bunny itu; yang tertutupi oleh selimut putih, yang sama polosnya.
Doyoung tersenyum manis, memperlihatkan sedikit bagian dari gigi depannya; semacam gummy smile. Pipinya terangkat serta matanya mengkerut, benar-benar senyuman yang tulus. Sementara tadi ia menengok ke samping kiri, kini gantian ia menengok ke samping kanan. Memperhatikan sinar terang matahari yang memasuki celah-celah kamar serta menembus jendela yang tidak tertutupi kain. Sekaligus menikmati indahnya suara burung bersahutan yang tertangkap oleh indera pendengarannya.
"Baby..." Sebuah suara berat yang mampu membuat seluruh submissive memekik tertahan ketika mendengarnya, tiba-tiba menyusup masuk ke dalam indera pendengaran Doyoung; membuat ia menghentikan kegiatannya dan memberikan seluruh fokus pada pria yang masih setia memeluknya, dan mungkin semakin erat.
Doyoung membalas dengan melihatnya lembut, "Sudah bangun, hn?" Ia membawa tangannya untuk membalas pelukan dari pria tadi, mengusap punggungnya halus sekaligus mendekatkan wajahnya untuk memberikan ciuman selamat pagi di bibirnya.
Pria itu mengangguk dan semakin menghilangkan jarak di antara ia dan Doyoung; membalas ciuman lembut di bibir serta meremat pelan butt milik pria di sampingnya, sehingga menimbulkan desahan tertahan di ujung lidahnya.
"Seks untuk pagi ini?" tanyanya dengan suara lebih berat dari sebelumnya; itu sudah bercampur nafsu. Sedangkan yang memiliki wajah seperti bunny membalas dengan mengangguk dan tersenyum sensual, lalu mengangkat tangannya untuk melingkari leher pria disampingnya yang memiliki perawakan yang lebih tinggi.
"Sure, daddy."
Oh, fuck.
ㅡ
02:00 AM
ㅡ
Doyoung baru ingat bahwa ia memiliki kelas pada pukul sepuluh pagi di tengah-tengah kegiatan making love-nya bersama dengan sang daddy. (Dengan tanda kutip di bagian daddy.) Sehingga terpaksa sekarang ia harus berjalan dengan mengangkang.
Okay, sedikit.
"Baby, kau akan pergi sekarang?" itu masih suara berat yang sama. Doyoung mengalihkan pandangannya dari sepatu converse yang sedang dipakainya untuk melihat ke arah sumber suara yang sedang menggerakan handuk di rambutnya yang basah.
"Yes, Johnny hyung. Atau aku akan tertinggal kelas dan menyesal," mengikat tali sepatu pada bagian akhir kemudian ia berdiri dan berjalan mendekat pada sumber suara tadi yang dipanggilnya Johnny, "sudah jam sembilan, aku berangkat, ya?" Doyoung sedikit menjijit dan melayangkan ciuman kepada bibir tebal Johnny.
Sebelum Johnny sempat membalas, Doyoung sudah lebih dulu memundurkan kepalanya dan menghasilkan Johnny yang mendengus sebal, "Kau, awas saja, lil bunny."
Doyoung terkikik lucu sebelum akhirnya membalikan tubuhnya, "Bye, Johnny hyung! I love you," ucapnya tanpa melihat Johnny dan berlalu menghilang di balik pintu yang tertutup; tanpa menunggu balasannya.
"I love you too."
Jelas Doyoung tidak mendengar jawaban dari Johnny. Kakinya sudah berjalan sebanyak dua langkah di luar pintu apartemen ketika Johnny mengucapkan itu; terasa klise.
Doyoung baru mengembangkan senyumnya sembari melangkah ringan ketika ia tiba-tiba mendengar sebuah suara di belakangnya, "Hey, cute lil bunny," ketika Doyoung menengokkan kepalanya ke belakang, ia melihat seorang pria dengan rambut bewarna coklat gelap serta dengan raut wajah angkuh, cocok sekali untuk wajahnya yang kelewat tampan, "ada yang mood-nya sedang bagus, eh?"
Doyoung mengangguk cepat, seperti kelinci yang ditawari seember penuh wortel. Matanya berbinar lalu gummy smile-nya kembali ia tunjukkan di hadapan pria itu. "Yep! Kemarin malam Johnny hyung pulang dari Amerika, hehe."
Pria yang sekarang berada di samping Doyoung itu menghilangkan raut wajah angkuhnya dan tersenyum tipis, "Oh ya?" ia menyeringai, "dan kau menghabiskan semalaman dengan seks, eh?"
"Yah, Taeyong hyung!" Doyoung berteriak malu di tempatnya berdiri, wajahnya sudah memerah seperti bunga mawar.
Sementara Taeyong sendiri sudah tertawa, suaranya seperti madu, "Terlihat jelas dari cara kau berjalan, asal kau tahu," lanjutnya ketika tawanya sudah terganti dengan cengiran yang lebar, sangat kontras sekali dengan ekspresi wajahnya beberapa saat yang lalu.
Lalu mereka berdua berjalan berdampingan, memasuki lift yang kebetulan kosong.
"Anyway, aku sedikit penasaran tentang Johnny hyung-mu," ucap Taeyong, memperhatikan pintu lift yang perlahan tertutup, "apa yang ia lakukan di Amerika? Study?" tanyanya, akhirnya memfokuskan pandangannya pada pria di sampingnya.
Doyoung mengangkat bahunya inosen, "Entahlah? Ia bilang ada urusan keluarga di sana," balasnya, terdengar santai dan berharap; berharap apa yang dikatakannya itu benar adanya. Matanya membalas pandangan Taeyong, "memangnya kenapa, hyung?"
Taeyong tersenyum tipis, "Tidak, aku hanya penasaran."
Sesaat setelah itu pintu lift terbuka, mereka berdua kembali bersama berjalan keluar dan menemukan seseorang yang mereka kenal (atau Taeyong saja) berpapasan dengan mereka, "Hi, Jeff," itu suara Taeyong yang menyapa, melihat pria yang memiliki rambut lembut dan dimple yang Doyoung yakini terlihat sangat cute.
Yang dipanggil hanya tersenyum dan tidak membalas apapun kepada Taeyong, ia pun masih tersenyum saat matanya bertemu dengan Doyoung.
"Hyung, ia kapten di ekskul basket, kan?" Doyoung bertanya dengan pandangan mata tertuju pada punggung orang yang sudah berjalan melewatinya.
"Iya, bunny," Taeyong melihat Doyoung penuh tanya, "kau tertarik? Mau aku kenalkan padanya? Ia tinggal di dekat apartemenmu."
Ucapan Taeyong itu menimbulkan pekikan protes dari bibir pink Doyoung, "Yah, hyung! Aku masih punya Johnny hyung kalau kau ingat."
Taeyong mengendikan bahunya, "Ya siapa tahu saja? Dia itu Jung, kau tahu."
"Lalu kenapa? Aku tidak tertarik," balas Doyoung mantap, matanya menatap tegas kepada Taeyong.
Taeyong menghela napasnya lega lalu terkekeh pelan, "Alright. Aku hanya bercanda, bunny," ia mengusak rambut hitam Doyoung, "kau mau menumpang di motorku? Kebetulan sedang kosong," ucap Taeyong; setengah menawar, setengah berharap.
"Tidak," balas Doyoung cepat, masih dengan nada yang sama.
Taeyong mengernyit, mengangkat alisnya lalu menatap Doyoung bingung, "Kenapa? Kau marah karena kata-kataku tadi?"
"Maksudkuㅡaku tidak akan menolak."
"Haih, kau ini," Taeyong mengacak rambut Doyoung dengan gemas. Lalu ia menarik tangan Doyoung untuk segera berjalan keluar dengan diselingi candaan.
Yah, mereka tidak tahu saja, interaksi mereka sedari tadi tidak luput dari mata seseorang; yang menatap mereka dengan pandangan tertariknya.
"Huh? Bunny, eh?"
[tbc.]
hehe, hooooOw? next or nah? :c
KAMU SEDANG MEMBACA
02:00 AM
Fiksi Penggemar[ Jaedo!au ] In which Jaehyun is the captain of the basketball team takes interest in Doyoung.
