Saatku bersamanya hembusan angin terasa lembut dan gemericik air terjun membuat jiwa tenang. Tapi, itu semua kalah akan senyum di wajahnya rasa diriku ingin selalu bersamanya selalu, selalu, dan selalu di sisinya. Terakhir aku bertemu dia adalah saat acara kelulusan SMP kami . Terasa sedih, ia mengatakan, "Kita akan berjumpa lagi."
Sudah setahun aku tak mendengar suaranya. Rasa ingin berjumpa tak dapat ku tahan lagi. Kubuat rencana untuk bertemu dirinya. Ketika aku duduk di kursi panjang sambil mendengar detukan jam, bus itu pun datang. Pemandangan di jendela kaca itu sama sekali tidak berubah. Detak jantungku begitu kencang, senang bercampur gugup akan bertemu dia. Sampai sudah aku ditempatnya. Seorang dengan wajah manis yang tak asing duduk di bangku panjang, ku sapa dirinya, "Kisa! Aku disini."
Menoleh ke arahku ia kemudian berlari dengan kencang ke arahku sembari berteriak memanggilku, "Licht!" sampai di dekapan peluku ia menangis dan berkata, "Sakit Licht sakit, rasa ini benar-benar sakit, kumohon Licht lihat rasa sakitku."
Aku menangis mendengar itu sampai keluar kata yang dari mulutku"akupun merasakan yang sama kisa, tunggulah akupun pasti kembali lagi. "
Setelah melepas rindu kami berbincang-bincang hingga tertidur di terminal itu. Keesokan paginya aku pulang, sebelum masuk pintu bus"licht aku mencintaimu dan kumohon segeralah kembali licht."
"tenang saja aku akan kembali, pasti. Ku akan menulis surat dan ku akan menelfonmu kisa." bus berjalan, rasanya sedih sekali.
Saat di bus ku hanya bisa mengingat wajah manisnya, hangat peluknya, dan hangat bincangan itu. Aku berharap semoga kami bisa bertemu lagi.
