"Cetta Al Maudin," panggil seorang guru saat membagikan rapot kepada orang tua murid.
"Mampus Can, nama lu tuh.." ucap salah satu sahabat kental Cetta–Fakhri–dengan nada yang dibuat seram.
Cetta merupakan seorang manusia dengan tingkat ketakutan yang tinggi. Sehingga teman-temannya sangat senang ketika menakuti dirinya.
"Ya Tuhan, dapet berapa gue..." Cetta pasrah ketika melihat wajah ibunya yang menatap guru tersebut dengan tatapan tak enak.
"Emak lu, kaya mau makan Bu Sumi..." ucap Fakhri lagi. Cetta hanya mengangguk menyetujui.
"Anjir, anjir. Emak gue udah selesai..." Cetta saat ini ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar samudra untuk menemani paus-paus yang kesepian.
"CETTA AL MAUDIN!" teriak ibu Cetta ketika sampai di depan Cetta.
"Umi..." Cetta hanya mesem-mesem sendiri ketika melihat Uminya memasang wajah tak sedap.
"Sudah seribu kali Umi bilang buat belajar ya Cetta!" Umi Cetta–Fauziah–menatap anaknya dengan tatapan kesal.
"Kalau rapotnya masih kebakaran, tahun depan ambil sendiri! Buat malu Umi aja!" Cetta mendapat jeweran dari Umi Fauziah.
Selang beberapa menit, ibu Fakhri keluar dengan wajah yang tak jauh berbeda dari Umi Fauziah.
"Bagus Ri, main PS aja lo terus Ri. Gue keluarin dari kartu keluarga, nangis tar lo!" marah Ibu Fakhri saat sampai di depan anaknya.
Fakhri hanya meringis saat tangan ibunya berada diperutnya, mencubit perutnya dengan penuh perasaan yang menghayati.
"Berapa rankingnya Ra?" tanya Umi Fauziah pada Mami Cenara. Mami hanya menatap Umi dengan gelengan kepala.
"Masa dari 40 siswa, dia ranking 38!" Mami Cenara menatap anaknya dengan dendam kesumat.
"Lah si Cetta, 40 Ra!" ucap Fauziah frustasi. Cenara hanya menatap Cetta dengan gelengan kepala.
"Main aja terus kalian berdua! Udah gue kasi yogurt segala macam, masi aja goblok! Anak siapa si?" Cenara memang suka memberikan Fakhri dan Cetta protein yang berlebih.
Berharap sel-sel di otak mereka bisa meregenerasi dengan pintarnya. Namun sepertinya usahanya sia-sia. Hanya wajah mereka saja yang meregenerasi dengan indah, tapi tidak dengan otak mereka.
"Halo, Mimi cantik di sini..." ucap salah seorang wanita paruh baya dengan wajah sumringahnya.
"Jadi, Arzani dapat berapa?" tanya Cenara dengan tatapan 'ya pasti tinggi'.
"Lumayan, ranking empat. Tahun depan tiga ya Ja," Mimi Aluna menatap putranya dengan bangga. Sedangkan Arzani–anaknya–hanya menatap Miminya sekilas.
"Coba ikutin jejaknya Arza!" Cenara menatap Fakhri dengan tatapan kesal lagi.
"Ya beda produksi beda kemampuan dong Mi!" Fakhri secara tak langsung menyinggung Maminya dengan halus. Dia mengatakan bahwa produksi Papi dan Maminya tidak bagus.
Mendengar hal itu, Cenara langsung membulatkan matanya. Dan beranjak pergi dari depan kelas Fakhri.
"Karena produksi Mami jelek, susu vanilla kamu, Mami kasi kucing aja. Lebih cocok!" Cenara mengatakan hal yang mengerikan bagi Fakhri dengan jelas.
Fakhri adalah salah seorang yang menyukai segala jenis vanilla. Jadi, ketika ia mendengarkan bahwa semua stok susu kotaknya akan diberikan kepada seekor kucing membuatnya ingin menangis.
"Mami, jangan dong..." Fakhri mengejar Cenara sambil mengemis kepada ibunya itu.
"Umi gak bakalan bolongin drum Cettakan? Mahal loh..." Cetta yang mengertahui modus-modus ibunya akan seperti Cenara, langsung mengingatkan betapa mahalnya harga satu drum elektrik yang bertengger manis dirumahnya.
"Engga Umi bolongin, tapi Umi ganti." Ucap Fauziah dengan tenang. Begitu juga dengan Cetta yang bahagia saat mendengarnya.
"Ganti aja Mi, makasih ya..." Cetta tak mengira Uminya sebaik ini padanya.
"Sama drum topeng monyet!"
"Ah Umi... jangan dong..." Cetta juga berakhir sama seperti Fakhri. Mengemis kepada ibunya supaya membatalkan keinginannya.
"Kamu mau minta apa sama Mimi?" tanya Aluna pada Arzani yang sedari tadi hanya diam mengamati kedua temannya.
"Ga usah akting kaya kamu perduli sama Saya, bisa?" tanya Arzani sambil beranjak pergi dari tempat Miminya berdiri mematung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senior
HumorFakhri, panggilannya Ari. Pelopor cabut nomer satu. Arzani, panggilannya Eja, jangan tanya kenapa jauh banget. Pelopor paling cerdas di antara teman-temannya. Cetta, panggilannya Ican. Singkatan dari macan, paling lemes maksudnya. Pelopor paling m...
