Aku berdiri dengan canggung di atas panggung. Barisan tamu yang mengular dari pintu depan ballroom seolah tak ada habisnya. Kakiku sampai kesemutan dan tanganku pegal-pegal membalas jabatan tangan mereka satu per satu. Terkadang ada beberapa yang memelukku dan mengucapkan selamat. Ada yang meminta untuk berfoto denganku dan—tentu saja—seseorang di sampingku.
Aku hampir yakin ini adalah mimpi, tapi suara seorang penyanyi panggung yang mengalunkan lagu If You Are Not The One milik Daniel Bedingfield terdengar begitu nyata. Riuhnya kerumunan orang-orang yang menikmati hidangan di depanku juga nyata. Buket bunga yang kupegang, dan gaun biru metalik yang indah ini juga nyata. Lalu kue besar yang awalnya kukira adalah kue ulang tahun, kini menjelma sebagai kue pernikahan. Kalau semua yang terjadi sekarang ini adalah kenyataan, kenapa segala sesuatunya terasa seperti mimpi?
Aku melirik takut-takut pada seseorang di sampingku. Ia begitu tenang dan sesekali melempar senyum pada tamu undangan. Seolah-olah inilah yang ia inginkan. Bahkan saat beberapa sahabatku berebut meminta penjelasan dariku, ia selalu melindungiku dengan berkata, ”Pernikahan kami memang untuk memberi surprize pada kalian, terima kasih sudah berkenan hadir.”
Hampir saja, hampir saja kalau kewarasanku hilang sudah kupatahkan kaki dan tangannya. Terus terang ini candaan yang sama sekali tidak lucu. Saat semua kejadian ini tak kumengerti, kenapa laki-laki ini dengan beraninya berkata begitu? Apakah ia juga menginginkan semua ini? Aku mengeraskan rahangku, marah pada diri sendiri.
”Sebaiknya sekarang kamu tersenyum, mereka semua melihat ke arahmu.” Laki-laki itu menyenggol bahuku sembari berbisik tepat di telinga kananku. Entah kenapa berdiri dekat dengan seorang laki-laki membuatku salah tingkah, napasnya yang begitu dekat seakan memberikan gesekan halus di jantungku, meskipun ia sama sekali tidak pernah ada dalam prediksi masa depan yang kuingingkan.
Bisikannya barusan membuat mataku melebar karena terlempar ke dunia nyata. Ia memang benar, tak layak jika aku merengut sedih di saat orang-orang menginginkanku untuk berbahagia. Pikiran itu memberiku kekuatan aneh untuk menyunggingkan bibir, merekah satu senyuman yang segera disusul senyuman yang lain. Baiklah Kapten! Kalau ini memang bagian dari akting, aku tentu akan menjalankannya dengan sempurna.
Aku, Dhea Bomantara menikah tepat pada hari ulang tahunku yang ke 28 tahun, dengan seseorang yang sama sekali tidak kukenal.
YOU ARE READING
Magical Wedding
RomanceBagaimana jika di hari ulang tahunmu, kamu mengenakan gaun megah, dengan ruangan yang dipenuhi bunga-bunga. Dan kamu berdiri bersama dengan orang asing, di hadapan banyak tamu undangan, hanya untuk terlihat sempurna di mata mereka? Baiklah, mungkin...
