Bab⚫1

69 3 1
                                        

"They are around you,"

***

Aku membuka mataku dan mulai mengerjap ngerjapkannya. Mencoba sadar sepenuhnya namun masih terasa sangat mengantuk. Mataku memaksa untuk tertutup kembali.

Sedari tadi aku hanya berguling guling diatas kasur empuk milikku. Terkadang duduk sejenak lalu kembali tertidur.

Mengusap usap rambutku harap harap rasa kantukku hilang. Kembali terduduk dan memandang sekitar kamarku. Menghembuskan nafas dengan sangat kasar.

Lalu tubuhku lagi lagi terjatuh diatas kasur. Menyingkirkan selimut dari tubuhku dan tanpa sengaja akan kembali tertidur kembali. Ntah mengapa saat ini diriku merasa panas.

Padahal semalam AC kamarku sudah aku ubah menjadi 16 derajat. Kurasa itu seharusnya sudah sangat dingin. Bahkan menggigil.

Tok tok...

Tak lama kemudian, keadaan sepi yang membungkus sekitarku telah dihancurkan oleh sebuah ketukan dipintu.

Itu pastinya bukanlah mama ataupun papa. Papa sudah ku pastikan telah berangkat kerja, begitu juga mama yang sedang sibuk dengan pasiennya.

Aku sudah terbiasa pagi pagi ditinggal dan berangkat sekolah sendiri. Namun mama sudah menyiapkan beberapa masakan yang biasaku temukan didapur rumahku.

Walau begitu aku tak sendiri,

Tok tok...

Ketukan itu kembali terdengar oleh telingaku. Dengan mata masih tertutup, aku menutup telingaku dengan guling dan tak memedulikan ketukan payah itu.

Tok tok...

Kebisingan itu mengganggu tidur lanjutku. Aku mohon 10 menit saja untuk memuaskan rasa kantuk didalam mataku ini. Setidaknya jangan mengganggu tidurku.

Tok tok...

Berfikirlah logis, bagaimana jika dirimu diganggu saat kau merasa sangat malas dan capek? Untung saja dikamar ini tak ada pistol, jika ada aku sudah membolongi pintu kamarku.

Tok tok...

Bersumpahlah agar menjauh saat singa ini telah terbangun. Membangunkanku sama dengan membangunkan raja hutan dan kau akan mendapat masalah.

Tok tok...

Kali ini aku menyerah dengan kebodohan dunia ini. Aku memalingkan wajahku dan melihat kearah pintu. Aku mendengus kesal.

Kembali terduduk dan kali ini pasti tak akan tertidur kembali. Menatap datar dan bisa bisa memancarkan laser merah.

"Hm??"

Nyatanya ia tidak berada diluar melainkan sudah berada didalam dan sempat membuatku jantungan. Sedari tadi ia mengetok pintuku dari dalam.

Yang aku lihat adalah sebuah wajah imut pucat yang selalu aku lihat setiap harinya. Ia melontarkan senyum padaku.
Aku juga balik memberi ia senyuman pertamaku pagi hari ini.

"Ada apa?"

"Bangun,"

Fira, adik kecilku yang slalu menjadi alarm bagiku. Mengganggu tidurku adalah kebiasaan yang paling aku benci darinya.

INDIGOStories to obsess over. Discover now