1

13 0 4
                                        

Bermula

Putri Pov

Liburan yang seharusnya sudah berakhir lama tapi aku tambah 2 minggu lagi berada dirumah. Seharusnya pada tanggal 6 juli aku sudah menyerahkan revisi proposal setelah seminar proposal saat bulan puasa kemaren. Tapi apalah daya rencana hanya tinggal rencana, akhirnya aku menambah libur dan memutuskan untuk kembali ke kota pekanbaru dihari minggu tanggal 26 juli. Berat melepas kenyamanan yang sudah kurasakan dirumah, PUAS? Gak ada kata puas untuk berkumpul dengan keluargaku.

Yaah dengan bekal yang seadanya karena terbatasnya waktu untuk mempersiapkan jajanan yang akan ku bawa ke kota yang menjadi persinggahanku menyelesaikan gelar sarjana S1 psikologi. Rasanya aku harus menyembuhkan diriku terlebih dahulu sebelum menyembuhkan orang-orang yang ada disekitarku.

Sekitar jam 10 pagi aku dijemput travel yang akan membawaku dari kota kecil Tembilahan yang terletak di Kabupaten Inhil Riau menuju Kota Pekanbaru Pusatnya Riau. 8 jam waktu yang ditempuh untuk menuju kesana.

Aku memasuki travel 3 baris yang memiliki 8 bangku penumpang. Yang mana aku mendapat kursi baris ketiga nomor 6 yaitu bagian kiri paling pojok. Dan saat aku memasuki pintu mobil saat sudah dijemput aku menoleh kearah samping kanan ku karena dibagian belakang hanya kami berdua karena dibangku bagian tengah masih kosong.

Dia yang asyik memejamkan mata tanpa peduli dengan sekitarnya,terlihat sangat manis (lelaki yang manis) dia memakai celana jins pendek dan baju kaos polos serta sandal biasa. Entah kenapa ekor mataku selalu memperhatikan ke arah kanan dimana dia berada, walau tanganku memainkan hp. Dia terlihat tenang dengan posisinya yang sangat santai.

Setelah 3 jam perjalanan kami sudah berada di jembatan Rumbai (jembatan terpanjang di INHIL), bangku depan terisi satu orang plus pak supir, dan bangku tengah terisi tiga orang (1 bapak-bapak, dan 2 ibu-ibu).

Aku sudah terhanyut tapi masih dalam posisi setengah sadar. Aku memposisikan kepalaku kearah kanan (karena bangku belakang hanya ada kami berdua karena bangku tengah kosong). Dan saat aku membuka mata dia tertidur dengan posisi menghadapku.

Aku kaget "ya allah" ucap batinku

Setelahnya aku malah asyik melihat wajah polosnya saat sedang tertidur, posisi kami tidak dekat akan tetapi sudah dalam posisi yang hampir terkena dibagian bangku tengah.

Saat ku lihat hp ternyata sudah jam 12.07 dan ku lihat cuaca sudah terik, sehingga ada rasa pusing saat memandang jalanan karna kondisi jalan yang kurang baik dan silau karena sinar matahari.

Aku kembali melihat hp ku tapi tidak ada panggilan telpon ataupun pesan. Aku jadi teringat malam minggu terakhir keberadaanku dirumah, aku sangat emosi karna hal sepele sehingga aku meninggalkan perkumpulan keluarga dan berdiam diri dikamar sampai terlelap hingga pagi.

Menyesal? Satu kata yang sudah pasti ku rasakan, waktu yang seharusnya ku habiskan dengan tertawa dan bercanda bersama keluarga.

Aku adalah tipe anak yang gampang tersulut amarah kalau sudah tertekan, aku memikirkan revisi proposal yang tak kunjung kuselesaikan dan pada malam itu ibu memarahiku karena aku tidak menjaga keponakanku dengan baik.

Akhirnya semua larva yang kutahan dikepala mengalir dengan cara yang sangat tidak anggun, malah sangat terkutuk dan akhirnya sebelum aku dijemput travel ibu dan bapak memberikan wejangan agar aku memperbaiki perilaku serta lebih dapat mengontrol amarahku.

Saat itu aku terlihat mengangguk dan tersenyum, tapi setelah berpaling kearah luar rumah aku meneteskan air mata karena hatiku terenyuh saat mendengar penuturan bapak ku.

"jangan berperilaku seperti itu lagi, bapak ibu selalu memikirkanmu agar segala keperluan kuliahmu dapat kami berikan"

"dan kami hanya ingin kau menjaga perasaan kami, dengan mengontrol emosimu itu"

"iya pak. Maaf" ucapku lirih

Dan akhirnya lamunanku buyar karena pergerakan sesuatu disampingku, ternyata badannya terjatuh sehingga akhirnya kepalanya bertumpu dipahaku. Aku terdiam karena kaget akan serangan tiba-tiba.

"serangan yang menyengkan" ucap batinku dengan songongnya.

Aku memukul kepalaku karena berpikiran seperti itu disaat kalut begini. Bagaimana caranya agar kami tidak menjadi canggung walaupun kami tak saling kenal.

Rencana 1 : aku membangunkannya,"mas mas, maaf bangun sebentar. Salah pendaratan (kau mau di cap wanita aneh eh berbicara ngelantur begitu) aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

Rencana 2 : aku pura-pura tidur dan bergeser-geser risih sampai dia terbangun (iya kalau dia terbangun, kalau posisinya ditempat yang tidak semestinya dan dia makin nyenyak tertidur. Akan menjadi hal yang sia-sia) aku meringis miris

Rencana 3 : aku mengelus rambutnya dengan lembut dan berkata 'tidur yang nyenyak sayang' (kau calon dokter jiwa, ga nyesal nantinya akan menjadi pasien tetap RSJ) .

Aku menarik napas panjang. "kok kamu terlihat ganteng saat berjarak sedekat ini" ini pikiran bisa gak semenit saja gak ngelindur kemana mana.

"bolehkah aku mengelus wajahnya, sekali saja. Dia terlihat menggemaskan" saat aku celingak celinguk seperti maling yang takut ketahuan, ternyata semua penumpang dalam posisi tertidur nyenyak sehingga mereka tidak akan menginterupsi bahkan mengetahui perilaku ganjilku.

Setelah pikiran dan setanku lelah bertengkar akhirnya aku memutuskan untuk tidur dengan posisi duduk tegak dengan pahaku yang masih menjadi posisi nyamannya bertumpu. "Terserah lo deh bang, untung lo ganteng sehingga gue sangat sangat ikhlas dengan posisi tidak nyaman ini".

Aku tersadar tapi belum membuka mataku, tapi aku sudah merasakan dia tidak berada dipahaku lagi. Ada perasaan kehilangan, "haha lucu sekali kamu, kenal aja enggak tapi sudah merasakan perasaan seperti itu. SADAR WOY".

Aku tidak langsung membuka mataku tapi menunggu beberapa menit, tapi aku merasa risih seperti dipandangi seseorang sehingga ekor mataku tidak tahan tertutup sehingga untuk meyakinkan tidur pura-puraku aku menghembuskan nafas dan bergerak tak nyaman dan berpaling kearah kiri (kearah jendela).

Sebenarnya persentase untuk membuka mata sudah mencapai 98% , tapi dari pada mendapatkan sesuatu yang tak seharusnya, aku memilih melanjutkan tidur pura-puraku.

Aku tersentak saat mobil digas dengan kencang tiba-tiba. Saat aku melek ternyata pak supirnya menikung truk besar untuk mendahului.

Aku mengerjapkan mataku dan mengecek jam di hp (jam 13.21),aku menoleh kearah kanan denga slowly berharap mata kami saling tertaut ternyata dia asik memainkan hpnya (lebih tepatnya dia sedang bertelepon ria).

Akhirnya kami sampai juga di Rumah makan (dengan nama : Simpang Raya yang berada di Lintas timur Indragiri Hulu) yang juga tempat beristirahat para penumpang Bus yang mau ke luar Sumatera. Tempat yang dipenuhi oleh toko-toko kecil yang menyiapkan makanan dan minuman kecil serta makanan untuk oleh-oleh.

Aku segera menelepon ibu untuk memberitahukan aku sudah sampai tempat makan,.

"assalamualaikum, bu"

"walaikum salam"

"bu, putri sudah sampai simpang raya. Baru aja turun dari mobil"

"oh iya, jangan sampai gak makan ya put. Dan juga sebelum mobilnya berangkat pipis dulu"

"iya bu iya. Bilangin ke bapak juga ya bu"

"iya nanti ibu bilang ke bapak. Jangan lupa pipis dulu"

"iya bu, haha. Assalamualaikum"

"walaikum salam, telpon ibu kalau udah sampai kos"

"iya bu" . telepon pun terputus.

Perjalanan IniStories to obsess over. Discover now