Part 1

139 3 0
                                        

Kinan POV

Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa 4 tahun sudah berlalu waktu yang kulalui tanpa dia. Ternyata semua yang melintas dalam hidupku tak bisa melenyapkan kenangan tentangnya. Sesak itu yang kurasa saat aku mengingat apa yang dia lakukan padaku.

Perpisahan tanpa kata, pergi tanpa pamit, ahh rasanya baru kemarin dia mendekap hangat raga ini tersenyum lembut menenangkan menghapus setiap duka ku. Hari ini tepat 4 tahun berlalu sejak dia pergi begitu saja... sungguh berat...huft

"Kinan.." panggil ibu lembut sepertinya ada sesuatu yang ingin di ungkap oleh ibu
"Iya bu ada apa...?" Jawabku sambil menyiapkan sarapan untuk kita berdua karena Bintang sedang keluar kota

"Kinan anakku apa waktu 4 tahun belum cukup untuk melupakan dia?" Tanya ibu

Pembahasan ini lagi yang sebenarnya sangat aku hindari, tapi aku paham setiap orang tua pasti ingin anaknya bahagia, begitu juga dengan ibu. Usia sepertiku memang sudah waktunya berkeluarga bahkan teman- teman kuliahku hampir semua sudah berkeluarga dan punya anak.

"Kinan.."
"Ya bu..." 
"Adik kamu sudah ada yang melamar..." lanjut ibu dan lagi-lagi aku melihat wajah sayu ibu.
" Kamu gimana..? ibu bingung nak... kamu belum menikah dan adek kamu sudah di lamar.." aku paham kebimbangan ibu yang ingin menjaga perasaanku dan adikku.  Aku paham ibu pasti berharap aku menikah lebih dahulu dari adikku  dan ibuku pasti juga tidak rela jika ada yang mengatai anak-anaknya.
" Bintang rencananya mau menikah kapan bu..?" Tanyaku meski hatiku tidak nyaman menanyakan ini
"Bintang maunya nikah kalau kamu udah nikah" jawab ibu sambil menghela napas menahan beban pikiran
" Hmm lalu calon suaminya menerima..? "  tanyaku
"Mereka memberi  waktu 6 bulan jika dalam 6 bulan kamu belum menikah juga mereka minta pernikahan di lakukan tapi jika Bintang menolak maka pernikahan akan di batalkan" Deg... nyeri di ulu hatiku.. kebahagiaan adikku terhalangi olehku yang belum bisa beranjak dari kenangan tentang dia.

"Coba kamu pikirkan lagi Kinan... Cobalah lupakan dia... Mulai hidup baru.. ibu ingin anak-anak ibu bahagia" sorot berharap ibu mengakhiri sesi sarapan pagi ini yang kujawab dengan anggukan singkat untuk melegakan hati ibu.

"Kinan berangkat dulu bu." sambil menyalami ibu
" Hati- hati.." aku mengangguk dan mencoba tersenyum.

Aku berangkat menuju tempat kerjaku, sebuah gedung megah yang selama 4 tahun ini menjadi tujuanku tiap pagi.
Teringat saat pertama kalinya datang kesini dia mengantarkanku dan memberikan senyuman manisnya dan kalimat- kalimat godaan nakal  yang kubalas dengan kerlingan genit dan senyum merekah yang tidak pernah kusangka itu pertemuan terakhir kami dan dia pergi menghilang begitu saja dari hiruk pikuk kehidupanku.
Bahkan selang empat tahun berlalu aku masih mengingat dengan jelas semua tentang dia.

HOPE OF LOVEStories to obsess over. Discover now