Tou melangkah kaku menuju ruang IPA 3. Buket di tangannya tampak menderita karena cengkeraman yang terlalu erat. Dengan tubuh setegang patung dan rambut yang tak goyah sedikit pun, ia tampak lebih seperti manekin berjalan daripada seorang pemuda yang sedang jatuh cinta.
Jarak empat ruang kelas yang harus dilalui Tou terasa seperti ribuan kilometer. Koridor kelas IPA yang saling berhadapan itu terasa semakin sempit, penuh dengan hiruk-pikuk siswa yang menikmati jam istirahat. Langkah robotik Tou mendadak lumpuh tepat di depan pintu kelas IPA 2. Ia terpaku di sana, menunduk dalam dengan tatapan kosong yang tertuju pada lantai, seolah-olah jiwanya baru saja meninggalkan raga.
Sepuluh menit berlalu. Di tengah bisingnya koridor, Tou tetap bergeming menatap tembok kelas dengan pandangan hampa. Dunia di sekitarnya seolah memudar, menyisakan ia dan perang batin di kepalanya. Namun, tepat sebelum bel masuk berbunyi, Tou mendongak. Ia menarik napas dalam-dalam—sebuah helaan panjang yang membuang habis sisa-sisa keraguannya. Cengkeraman tangannya melonggar, gerakannya kini berubah rileks. Dengan bunga yang kini berpindah santai ke tangan kiri, ia kembali melangkah. Kali ini, bukan sebagai patung, melainkan sebagai pria yang sudah siap dengan segala risiko.
Bunga itu melayang di udara, hasil lemparan tangan kiri yang begitu akurat tepat ke dasar tempat sampah. Alih-alih melangkah masuk ke IPA 3, Tou justru berputar balik dengan gerakan drastis. Ia menampar kedua pipinya sendiri dengan keras, mengacak-acak tatanan rambutnya yang semula rapi, lalu menyentak kacamatanya hingga nyaris terlepas. Ketegangan yang tadi ia bendung pecah menjadi kepanikan yang berantakan.
“Hei kawan, kenapa kau kembali lagi? Tidak berani, ya?”
Suara itu datang dari Ipal yang tiba-tiba melompat dan merangkul bahu Tou. Dengan postur yang lebih pendek, Ipal harus sedikit berjinjit agar lengannya bisa melingkar di leher kawannya itu.
Tou hanya bisa mendesah pasrah, bahunya merosot. “Aku terlalu takut mengucapkannya, Pal. Aku sangat takut dia akan langsung menolakku di depan semua orang.”
Ipal terdiam sejenak, tangannya yang merangkul bahu Tou terasa sedikit lebih berat. Ada rasa lega yang egois menyelinap di sudut hatinya saat melihat bunga itu berakhir di tempat sampah, namun melihat wajah Tou yang kusut, rasa bersalah segera menghantamnya. Ipal memaksakan sebuah tawa kecil, sebuah topeng yang sudah biasa ia kenakan.
“Ya sudah kalau belum siap. Cinta itu kan butuh waktu, bukan balapan lari,” ujar Ipal sambil menepuk-nepuk bahu Tou dengan ritme yang menenangkan. “Lagipula, kelas IPA 3 kalau jam istirahat memang seperti pasar. Tidak estetik kalau kamu ditolak di depan orang banyak, kan?”
Ipal menarik Tou menjauh dari area kelas itu, memutar tubuh mereka menuju arah kantin. Sesekali matanya melirik ke arah tempat sampah tempat bunga itu tergeletak, lalu beralih ke arah pintu kelas IPA 3. Di dalam sana, perempuan yang juga selalu ada dalam doanya mungkin sedang tertawa, tanpa tahu ada dua hati yang sedang bertarung dengan rasa takut yang berbeda di koridor sekolah.
“Ayo, aku traktir es teh. Biar kepalamu yang berasap itu dingin sedikit,” tambah Ipal, berusaha menutupi getaran di suaranya sendiri.
Bel panjang menandai berakhirnya pelajaran terakhir, memicu kegaduhan instan saat para siswa bergegas meninggalkan kelas. Tou melangkah keluar gerbang sekolah sendirian. Biasanya, ada Ipal yang tak henti mengoceh di sampingnya, tapi sore ini sahabatnya itu harus tertahan oleh urusan ekskul. Koridor yang tadinya sesak kini perlahan lengang, menyisakan Tou dengan langkah santainya menuju halte.
Fasilitas bus sekolah gratis yang disediakan pihak sekolah menjadi tujuan utamanya. Di bawah langit sore yang mulai menguning, Tou berjalan menyusuri trotoar, mencoba menata kembali hatinya yang sempat berantakan siang tadi. Tanpa kehadiran Ipal, pikirannya kembali melayang pada tempat sampah di depan kelas IPA 2. Ada rasa sesal yang tipis, namun juga rasa lega yang aneh. Ia meraba saku seragamnya, merasakan ketiadaan beban bunga yang tadi ia pegang erat, sambil bertanya-tanya dalam hati: apakah besok ia akan punya keberanian yang sama, atau justru kehilangan momentum itu selamanya?
Bus sekolah melaju membelah jalanan sore. Tou memilih duduk di barisan belakang, menyandarkan keningnya di jendela kaca sambil menatap kosong ke deretan ruko yang mereka lewati. Lamunannya pecah saat dua siswi satu sekolahnya berdiri di dekat kursinya, tampak ingin duduk di sana.
“Gak, gue yang di sini. Samping gue kan masih kosong,” gumam Tou datar tanpa menoleh. Tangannya bergerak menekan tombol volume pada kabel headset-nya, menaikkan dentuman musik hingga ia tak perlu lagi mendengar suara dunia luar.
Kedua cewek itu akhirnya duduk setelah sempat melontarkan beberapa kalimat cerewet yang hanya lewat begitu saja di telinga Tou. Bagi Tou, mereka hanyalah gangguan kecil di tengah suasana hatinya yang masih abu-abu. Ia tetap bergeming, memejamkan mata di balik kacamata, benar-benar menganggap siapa pun yang duduk di sebelahnya tidak ada.
Ia tidak tahu, bahwa salah satu dari gadis yang ia cuekkan itu sedang mencuri pandang ke arahnya—gadis yang sama yang seharusnya menerima bunga di depan kelas IPA 3 siang tadi.
Bus melambat dan akhirnya berhenti dengan sentakan halus di sebuah halte. Saat pintu otomatis berdesis terbuka, sekelompok siswa mulai turun. Tou, yang tadinya masih tenggelam dalam musiknya, mendadak menegang. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat ketika sosok yang duduk tepat di sampingnya tadi berdiri dan melangkah keluar.
Itu dia. Gadis yang seharusnya menerima bunga darinya siang tadi.
Tou terpaku, hanya bisa menatap punggung gadis itu dari balik kaca jendela yang kusam. “Tumben lu gak bawa motor...” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar oleh deru mesin bus. Ada rasa malu yang menjalar ke pipinya, menyadari bahwa selama perjalanan tadi, ia baru saja mengabaikan keberadaan orang yang paling ia inginkan.
Bus kembali melaju, meninggalkan halte dan gadis itu di belakang. Tou menarik napas panjang, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Jemarinya menari di atas layar, membuka aplikasi catatan dan mengetikkan satu kalimat yang jujur:
“Seandainya cintaku lebih besar dari rasa ketakutanku, mungkin tadi kamu duduk di sampingku.”
Tou menatap kalimat itu lama, lalu sebuah senyum kecil yang pahit tersungging di bibirnya. Ia tidak menghapusnya. Baginya, catatan itu adalah prasasti untuk keberanian yang belum sempat mekar hari ini.
\\ Ikuti bagian selanjutnya iya
YOU ARE READING
pisah
Romance"Seandainya cinta ku lebih besar dari rasa ketakutan ku, mungkin kamu akan duduk di sampingku " Seorang cowok yang ingin menyampaikan perasaan kepada orang yang dia sukai malah membuatnya terjebak diantara kisah cinta persahabatan diantara mereka
