Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Jim, kamu disini? Ngapain?"
Jadwal kamu hari ini adalah beres-beres apartemen karena besok kamu harus pindah ke apartemen yang lebih dekat dengan kampusmu. Semua kegiatan terhenti saat seseorang tiba-tiba masuk ke apartemen mu dan tidak memberitahu mu terlebih dahulu.
Belum menjawab, lelaki itu malah tiba-tiba saja memelukmu dari belakang dan meletakan kepalanya di pundakmu.
Kemarin Jimin mengatakan kalo dia akan sangat sibuk beberapa minggu ini jadi kamu tidak akan banyak berharap kalau dia akan meluangkan waktunya untukmu.
Tapi tiba-tiba saja dia datang tanpa memberitahumu dan langsung memelukmu tanpa kata seperti sekarang ini.
"Kenapa?" Kamu yang belum memperoleh jawaban pun bertanya lagi.
Bukannya menjawab, Jimin malah mempererat pelukannya dan meletakan kepalanya semakin dalam ke tengkukmu untuk mencari kenyamanan.
"Ihh ditanya malah diem aja! Sana pergi aja mending!" Kamu yang kesal akhirnya berusaha melepaskan tangan Jimin yang masih memelukmu.
"Kangen."
Setelah sekian lama Jimin bungkam, dia akhirnya mengeluarkan suaranya.
Kalian memang sudah hampir satu bulan tidak bertemu dan itu tentu saja membuat kamu dan Jimin akan dilanda rindu satu sama lain.
"Aku ngga kangen!" Kamu membalas perkataan Jimin dengan nada yang dibuat seolah merajuk. Dan saat itu pula kamu berhasil lepas dari pelukan Jimin.
"Kok dilepas?"
"Aku mau beres-beres." Balas kamu yang memang belum selesai membereskan barang-barangmu.
"Tidur aja di sofa. Kalo mau makanan tinggal ambil di kulkas, masih ada beberapa buah-buahan."
"Aku mau bantuin kamu."
"Nggak usah, bentar lagi selesai kok."
Kamu pun melanjutkan kegiatanmu yang tadi sempat diganggu Jimin. Menata semua barang di kardus, mengecek semua barang agar tidak ada yang tertinggal, semua sudah selesai. Dan kamu sudah siap untuk pindah besok pagi.
Setelah selesai dengan urusanmu, kamu pun menghampiri kekasihmu yang ternyata sedang tidur dengan damai di sofa.
Sekarang sudah larut malam dan kamu pun lelah karena baru selesai mengurus pindahanmu. Tetapi melihat wajah kekasihmu yang sangat damai membuat lelahmu seakan memudar.
Kamu duduk di karpet menghadap Jimin dan menyeka keringat yang ada di sebagian wajahnya. Meletakan kepalamu di depan wajah Jimin sambil memandangnya yang sedang tidur adalah hal yang paling kamu suka.
Setelah sekian lama menatapnya, Jimin tiba-tiba membuka mata dan menatapmu beberapa menit dengan tatapan rindu yang sangat mendalam.
"I miss you." Ucap Jimin dengan mengusap pipimu lembut.
Kamu tidak menjawabnya. Kamu hanya memejamkan mata. Kamu memang sedikit kesal pada Jimin karena kesibukannya. Seperti saat ini kamu sudah tau kalau Jimin pasti baru pulang dari konsernya dan langsung menemuimu. Itu terlihat dari make up yang belum dibersihkan di wajahnya.
"Maaf kita baru bisa ketemu. Aku ngga bisa ngatur jadwal aku sendiri."
Jimin menyesal terlalu lama meninggalkan kamu, tetapi apa boleh buat kalau jadwalnya sebagai idol memang sangat padat.
"Kamu belum makan kan? Yuk kita cari makan." Ajak Jimin dengan antusias.
"Ini udah terlalu malem buat makan. Kamu juga cape kan baru pulang konser langsung kesini."
"Kamu harus tetep makan, sebenernya aku udah nyiapin tempat yang spesial buat kamu. Kamu pasti suka. Ayo!" Jimin beranjak dari tidurnya dan meraih tanganmu.
"Kamu ngga perlu kaya gini, aku tau kamu cape. Jangan paksain diri kamu, cukup kamu disini aja aku udah seneng."
"Maafin aku (YN), aku ngga bisa kasih yang terbaik buat kamu." Jimin menundukkan kepalanya. Terus merasa menyesal dan itu malah membuat kamu tidak suka.
"Stop minta maaf! Itu buka salah kamu. Kamu kerja keras kaya gini juga demi masa depan kamu."
"Dan aku ngga suka kalo kamu nyusahin diri kamu sendiri kaya gini. Nyiapin tempat spesial buat aku, makan malam special? Candle light dinner? Buat nyenengin aku? Aku ngga butuh itu. Kamu fokus aja kerja, aku disini baik-baik aja, jangan berlebihan."
"Aku cuma pengen buat kamu bahagia. Aku lakuin itu sebagai ganti kesibukan aku. Lagian jadwal aku kedepannya bakal semakin padat. Kita akan susah ketemu."
Jimin benar, jadwal dia kedepannya akan semakin padat. Ini mungkin kesempatan yang bisa kalian gunakan untuk melepas rindu.
"Jadi batalin aja?" Jimin bertanya dengan wajah yang tampak bingung.
"Kamu udah nyiapin itu semua, aku mau menghargai kerja keras kamu. Asalkan kamu jangan kaya gini lagi. Sempet sempetnya nyiapin makan malam spesial disaat jadwal kamu padat banget."
"Iya, aku ngga akan gini lagi, aku akan fokus kerja. Semangat!" Wajah ceria Jimin kembali lagi setelah tadi dia terus menekuk wajah imutnya itu.
"Aku ambil jaket dulu."
Kamu sudah bersiap untuk mengambil jaketmu tapi tiba-tiba tangan Jimin menarikmu dan langsung memelukmu erat.
Kalian sama-sama terdiam hingga beberapa detik.
"Makasih udah mau nunggu aku, makasih udah sabar selama ini. Dan maaf aku ngga bisa kasih yang terbaik buat kamu. Terus ada disamping aku sampai kapanpun, karena aku butuh kamu buat selalu nyemangatin aku dari belakang. I love you."
Kamu diam dan mendengarkan semua yang diucapkan Jimin.
Dia lelaki yang sangat penyayang. Dia akan memberikan yang terbaik untuk orang yang berada di dekatnya. Dia akan sangat kecewa terhadap dirinya sendiri saat melakukan kesalahan. Dia Jimin. Lelaki yang sangat berarti bagimu.