"Kapan kau akan menikah Max?" Tanya Meryn, ibu Max. Ibunya memang selalu begitu. Setiap hari pasti akan mengulang-ulang pertanyaan itu.
Max meremas rambutnya gusar. "Bisakah ibu berhenti menanyakan itu? Aku sungguh muak mendengarnya!"
"Sudah berani membantah kau rupanya Max! Kalau kau tak segera menikah akan ibu jodohkan dengan teman ayahmu!"
"Arrghh.. ibu pikir menikah itu mudah apa? Aku pun masih ingin menikmati masa lajangku! Umurku juga masih muda bu! Memang apa untungnya menikah? Lagipula aku juga belum menemukan pasangan yang serasi denganku! Dan jangan pernah menjodoh-jodohkan aku dengan wanita sialan itu!" Bantah Max lagi.
"Kau!!! Huftt.. sekali lagi ibu peringatkan untukmu Max dan jangan pernah membantah. Keluarga kita ini butuh penerus untuk meneruskan perusahaan kita. Kau seharusnya sudah menikah karena umurmu sudah menginjak 37 tahun! Muda dari mana? Kalau kau tak segera menikah, siapa nanti yang akan membawa nama baik kita Max?" Jelas Meryn sekali lagi.
Max terdiam. Ia sungguh bingung dengan pola pikir ibunya itu. Ia ingin Max segera menikah hanya untuk memiliki anak? Ya memang harus Max sadari, kalau selama ini ibu dan ayahnya menikah bukan karena cinta, tapi karena harta, uang uang dan uang. Untuk apa coba Max memiliki keturunan apabila kekayaan keluarganya tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan? Apalagi ayahnya memiliki banyak anak. Kenapa tidak menyuruh anak yang lain saja untuk membuat keturunan?
Max pun bangkit dari duduknya dan pergi keluar ruangan meninggalkan ibunya sendiri. Ia lalu bergegas pergi meninggalkan rumah dengan membawa mobil sportnya.
🚗🚗🚗
Maxon Leonard Zean
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Seorang pria lajang keturunan Inggris dan berprofesi sebagai CEO di perusahaan yang bernama Zean Company ini memiliki wajah yang sangat tampan dan memikat kaum wanita mana saja yang melihatnya. Selain tampan, kaya, dan berkelas, pria ini juga memiliki postur tubuh yang atletis. Tubuhnya itu dipenuhi dengan roti-roti sobek yang menggoda. Ia juga memiliki iris mata berwarna abu-abu yang siap menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Banyak sekali wanita yang menginginkan pria ini dengan mengajaknya berkencan, tapi nihil ajakan para wanita itu ditolaknya mentah-mentah. Ia tidak pernah memiliki kekasih, bukan karena ia gay ataupun menyimpang, akan tetapi ia merasa belum mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintainya bukan karena harta. Maka dari itu ia tidak terlalu memikirkan masa depan dan pewaris kekayaannya. Menurutnya memikirkan itu hanya membuat hidup sia-sia dan merepotkan. Walau ia jarang sekali datang ke kantornya, tapi ia tetaplah menjalankan pekerjaannya atas permintaan paksa ibu dan ayahnya. Dengan menjadi seorang pemimpin perusahaan, ia tak perlu repot-repot mengurus pekerjaannya itu. Biasanya ia hanya perlu menandatangani surat perjanjian dan menghadiri rapat meeting di kantornya. Kalau diwaktu senggang, biasanya ia isi dengan balapan mobil dengan temannya. Bisa dibilang ia pembalap mobil yang sudah ahli, karena di setiap melakukan kegiatan tersebut bersama temannya ialah yang selalu menang dan mendapatkan hadiah ciuman dari para wanita yang telah disewa mahal oleh mereka. Wanita tersebut bukan hanya sekedar wanita, tapi rata-rata wanita tersebut adalah seorang model terkenal, dan sisanya adalah artis yang terkenal juga di negara itu.
*Pagi hari di kantor*
Max dengan tegapnya berjalan di lorong kantor menuju lift ke lantai 6. Selama perjalanannya tersebut, banyak karyawan yang mulai menyapanya dengan hormat. Khusus wanita, cara menyapanya begitu centil dan menggoda. Tapi bagi seorang Max itu sangat menjijikan sehingga ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tak jarang juga Max mengacuhkan setiap sapaan para karyawannya.
"Selamat pagi Mr. Max, selamat bekerja! Semoga harimu menyenangkan!" Ucap salah satu karyawan wanita dengan senyum cerianya, tak lupa juga dengan gaya centilnya.
"Pagi" jawab Max singkat, dan tegas. Kali ini wanita itu mungkin sangat beruntung karena seorang Maxon menjawabnya. Ia pun berjingkrak-jingkrak kegirangan seperti orang gila. Max hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak pernah marah dengan para karyawannya, karena baginya itu sangat melelahkan. Karena itulah banyak wanita yang tak segan-segan menggoda bosnya itu.
Akhirnya, Max sampai juga menuju lift tersebut. Ia pun segera masuk ke dalamnya, dan tak lupa memencet tombol angka 6. Setelah sampai ke lantai 6 tersebut, ia segera masuk ke dalam ruangan pribadinya. Lalu ia pun menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi yang telah di sediakan di ruangannya.
'Huh seharusnya aku tidak ke kantor hari ini, membosankan.' ucap Max merutukinya dalam hati. Ia sangat menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan pagi ini.
Tiba-tiba terlintas di otaknya perkataan ibunya semalam. Ia kembali resah. Ia tak ingin menikah sebelum menemukan wanita yang benar-benar ia cintai. Sementara ibunya hanya menginginkan anak dari darah dagingnya sendiri. Mungkin jalan satu-satunya adalah mengadopsi anak atau membelinya? Tapi itu tidak mungkin karena ibunya tak akan menerima anak tersebut sebagai bagian dari keluarganya. Ia mulai berpikir dan terus berpikir, bagaimana caranya mendapatkan anak dari darah dagingku sendiri? Untungnya otaknya cerdas dalam berpikir.
'Mungkin salah satunya jalan untuk mendapatkan anak adalah dengan cara tersebut' Gumamnya sambil menyunggingkan senyum liciknya.
Cara apakah yang dimaksud Max? Nantikan kelanjutan ceritanya yaa!
Jangan lupa voment ceritaku agar nulis ceritanya lebih semangat dan update nya cepat, makasih para readers!