2nd; Adek Kelas Bangsat

Start from the beginning
                                        

"Mau bareng? Aku bawa motor, kak. Nunggu bis disini lama. Ayo bareng aja."

Adek kelas bangsat!

"Ngapain lo kesini?" tanyaku dengan ketus.

"Kebetulan aja liat Kakak disini," jawabnya, sambil tersenyum. Tulang pipinya terlihat jelas sekali, yang membuatnya terlihat sedikit...

... manis?

Taeyong bego!

"Anjing. Doyan banget sih lo gangguin gue. Gue tau lo yang ngirim gue surat apaan tau!" ucapku.

"Aduh Kakak ngomongnya, lembut dikit, dong. Iya aku yang ngirim suratnya. Udah liat ya, Kak? Gimana? Aku ganteng nggak disitu?" tanya bocah sialan itu.

"Pantat lo ganteng. Udah sana pulang duluan lo. Nggak butuh tumpangan. Bye," jawabku dengan ketus. Aku memalingkan wajahku darinya.

Bocah bangsat ini selalu saja menganggu waktu tenangku. Why???

"Oh, okelah. Aku pulang duluan. Jangan rindu ya, Kak. Berat. Biar Mark aja," ucapnya, menyalakan motornya, lalu membawa motor itu pergi bersamanya.

Dih?

Bocah bangsat, memang.

Sebenarnya, aku ingin pulang menaiki motor. Karena lebih cepat sampai rumah.

Tapi tidak dengan bocah itu!

Ugh.

Benar juga katanya, menunggu bus itu lama. Sialan!

Baguslah bocah itu pergi. Setidaknya, tidak ada yang menganggu.

Akhirnya, yang ditunggu datang juga. Bus datang. Aku menghembuskan nafas dengan lega.

Aku segera masuk ke dalam bus. Syukurlah, banyak kursi yang kosong. Aku memilih kursi yang ada di pojok belakang, seperti biasa.

Fyuh!

Hari yang melelahkan. Apalagi ditambah dengan munculnya bocah bangsat bernama Mark Lee itu.

Apakah besok dia berhenti menggodaku, atau malah sebaliknya, atau malah lebih parah?

Au ah, terang.

Aku kembali membuka surat yang diberinya. Aku tidak mau membaca ulang suratnya, tapi aku mau melihat ulang fotonya.

































 Aku tidak mau membaca ulang suratnya, tapi aku mau melihat ulang fotonya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.








Okelah, aku mengakuinya. Dia cakep. Atau manis? Wajahnya cakep manis? Ya seperti itulah.

[END] Seniority Program • MarkYongWhere stories live. Discover now