Seorang gadis hanya menatap jengah sosok tampan bak dewa yang tengah berlutut di depannya. Ditangan kiri sang pria terdapat sebuket buang matahari dan ada sekotak bludru berwarna navy dengan cincin bertatahkan batu shappiere di tengahnya.
Ia kembali menghebuskan nafas lelah lagi untuk kesekian kalinya. Sungguh ia ingin mengucap kata kasar kalau saja ia tak ingat di mana mereka berdiri saat ini. Ya mereka berdiri di bawah wahana bianglala terbesar di Konohan Land. Dan jangan lupa dengan latar kembang api yang mengiasi langit malam konoha saat ini. Lalu di sekitar tempat ia berdiri di desian sangat romatis dengan hiasaan bunga mawar dan kelap kelip lampu hias. Ah jangan lupa latar lagu romatis dan tepuk riuh pengunjung yang sialnya sangat banyak mengingat itu weekend. Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk itu semua ini teme. Runtuk gadis itu miris.
Okay kembali lagi dengan sosok gagah, seksi nan tampan di depannya. Dengan balutan baju casualnya cukup membuat semua wanita di sekiatnya menjerit ingin berada di posisinya saat ini.
Laki-laki itu sedikit berdehem pelan hanya berusaha mendapat perhatian kembali oleh gadisnya.
Sang gadis menatap kembali pria itu, menyelami dua bola mata kelamnya yang selalu membuatnya jatuh cinta. Ia tersenyum perihatin.
"Kau harus menjadi istri dan ibu dari anak-anakku" perintah pria itu dengan suara berat yang mampu membuat semua gadis langsung berngiyakan dan langsung menerjang kegirangan. Tapi tentu itu tak berlaku terhadap sosok gadis di depan laki-laki itu.
Terdengar riuh penonton dadakan yang semakin membuat heboh. Banyak yang menyeruhkan kata "Terima Terima" ah perlu diingat pernyataan laki-laki itu bukanlah ajakan melainkan perintah. Dan banyak pula yang mencibir tak terima laki-laki tampan itu melamar kekasihnya.
Gadis itu menatap jengah laki-laki didapannya. Ah mungkin ini perintah menikah yang ke 29 dalam bulan ini.
" Usahamu kali ini patut mendapat pujian Uciha" kata gadis itu setengah memuji " tapi masih belum dapat ku TURUTI. Ah mungkin hanya bunga ini yang bisa kuterima" seru gadis itu sambil mengambil buket bunga matahari dari tangan kekasihnya. "Ayo sekarang naik bianglalanya" ajak gadis itu heboh seakan lupa dengan kejadian yang cukup membuat heboh suasana.
Sang lelaki hanya membuang nafas lelah. Ya usahanya sepertinya gagal lagi kali ini. Ia kembali menyimpan cincin sederhana tapi terlihat istimewa bertatahkan permata shappire serupa dengan bola mata sang gadis pujaanya di saku celananya
"Baiklah, setidaknya masih ada yang kau terima dan membuatmu bahagia" kata laki-laki itu bijak. Laki-laki itu berdiri dari posisinya dan meneria uluran tangan sang kekasih.
Mereka mulai melangkah menuju bianglala yang menunggu mereka dari tadi. Suasana sekitar langsung heboh seketika melihat penolakan sang gadis tapi sepasang kekasih yang menjadi tokoh utama justru melenggang seakan tak pernah terjadi apa-apa.
Sesampainya di bianglala sang gadis terua bedecak kagum menatap pemandangan malam kota Konoha. Sedangkan sang laki-laki malah tengah asik mengagumi segala ekspresi yang di tampilkan sang kekasih. Sungguh betapa beruntungnya dia memiliki Naruto sebagai kekasihnya yang sebentar lagi pasti akan menyandang marga Uciha. Iya Sasuke jamin gadisnya akan menyandang nama Uchia.
" Terima kasih Teme" gadis itu tersenyum sangat manis kearah kekasihnya dan dibalas senyum langkah sang uciha.
" Dan kau tau aku tak pernah puas hanya dengan ucapan saja" sasuke mengatakan dengan penuh nada bahaya di dalamnya. Senyuman langkah tadi berubah menjadi sebuah seringai. Dan Naruto sangat tahu arti dari nada dan seringai itu.
Ah sepertinya malam ini tak ada waktu untuk istirahat mengingat sasuke sedikit jengkel malam ini.
Selamat menikamati malam panjangmu Naruto ~~
TeBeCe...
ESTÁS LEYENDO
Marry Me!!
FanfictionSiapa yang tak mau punya suami mapan, ganteng setengah dewa, seksi, jago masak penyabar, pengertian, romantis disaat yang tepat dan yang paling penting dia hanya mencintai kita walau berjibun wanita di luar sana rela menyerahkan apapun untuknya. Iya...
