Matahari tidak menampakan sinar terangnya lagi. melainkan, berganti dengan langit malam yang bertabur bintang.
kesunyian terasa pekat menyertai seorang gadis yang terduduk dibawah pohon. segelintir kunang kunang berterbangan di atasnya. menciptakan secercah cahaya dilangit malam.
terkadang, angin kencang berhembus menggerakan dahan pohon, membuat dedauanan berjatuhan dipangkuanya
tak terasa Caroline telah menguap berkali kali selama membaca buku. matanya sudah tak lagi bersahabat. ia seakan mendengar rayuan untuk menyipitkan matanya lebih rapat. tapi Caroline buru buru sadar dan mengerjapkan matanya kembali, ia tak mungkin tertidur dibawah pohon seperti ini. udara malam akan sangat dingin. ditambah hewan liar yang bisa menerkamnya kapan saja.
Satu satunya jalan terakhir adalah kembali ke rumah Zayn. Bagaimanapun hanya Zayn orang yang Caroline kenal di masa ini. dan hanya Zayn lah yang tidak sepenenuhnya menganggap Caroline sebagai Carolate
Caroline menggigit bibir bawahnya diselingi helaan nafas gerogi. ia berada di depan pintu rumah Zayn sekarang. Caroline ragu untuk mengetuk pintu, ia masih ingat betul bagaimana caranya meninggalkan Zayn dan lelaki berambut coklat itu dengan emosi yang menyeruak tadi sore.
apa Zayn masih mau menerimaku, pikir Caroline
disaat Caroline mengarahkan tanganya untuk mengetuk pintu. pintu itu terlebih dahulu ditarik seseorang dari dalam, dan menampakan sosok Zayn. Caroline mengernyitkan dahinya bingung melihat respon Zayn yang menatapnya dengan senyum kegirangan
"akhirnya kau pulang... aku kira kau pergi dan tak mau kembali" seru Zayn lega. Zayn membuka pintu kayu itu lebih lebar agar Caroline bisa masuk.
Caroline masih menpertahankan posisi berdirinya "bukannya kau marah padaku?" tanya Caroline. ia menundukan kepalanya dan bersiap jika dimarahi Zayn
Zayn tersenyum tipis
"tidak... itu wajar kau bertingkah seperti itu, ini pasti membingungkan mu kan? aku bisa memaklumi itu " Caroline hanya mengangguk lalu mengikutin Zayn masuk kedalam rumahnya.
"um.. Zayn" suara Caroline menghentikan langkah Zayn. ia membalikan badanya ke arah Caroline
"siapa lelaki berambut coklat yang bersamamu tadi?" sambung Caroline
"dia temanku.. namanya Louis. sebenarnya dia sangat baik dan um.. dia kekasihnya mandiang Carolatte dulu"
Caroline's POV
pantas saja lelaki yang namanya louis tadi bertingkah seperti itu kepadaku. sepertinya ia benar benar mengira aku adalah Carolatte. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan. tapi aku tidak didalam mood untuk menggalinya sekarang. jadi aku hanya menyudahi pertanyaanku sampai situ
"oh, baiklah. Zayn bisa aku beristirahat sekarang?"
"tentu....kau bisa pakai kamar itu" Zayn menunjuk sebuah kamar dekat perapian. kamar sederhana yang diterangi sebuah lilin di sudut ruangan.
**
"Caroline...caroline" seru Zayn dari balik pintu kamarku menginap. ini masih pagi buta. dan seseorang sudah berteriak teriak seperti orang kesetanan. aku membuka pintu kamar dan menampakan wajah malas ku yang baru terbangun
"what?" aku menatap matanya sinis. sambil melipat tanganku didepan dada
"maafkan aku Caroline, aku baru mendapatkan surat perintah dari kerajaan gardeny untuk memeriksa pasokan pangan di daerah Malvis selama beberapa hari . itu tandanya kau tidak bisa menginap sendiri disini. akan berbahaya jika kau tinggal sendiri" Jelas Zayn panjang lebar. aku melihat raut rasa bersalah dari wajahnya. dia mengasihaniku.
YOU ARE READING
TIME
FanfictionWaktu... Waktu adalah segala-galanya. Waktu lah yang memberi kesempatan kami mengenal dan mencintai satu sama lain. Membuat kami lebih menghargai detik demi detiknya. Dan membuat kami lebih mengerti apa arti hidup yang sebenarnya.
