“Kesana yuk” ucapmu sembari langsung menggandeng – atau tepatnya menarik tanganku ke arah yang ditunjuk oleh jari telunjukmu
“Tapi yang lain ke sana” Astaga badak betul tenaga laki-laki ini. Apa ia tidak sadar bahwa yang ditarik adalah seorang gadis?
“Ada teknologi bernama Handphone,Jingga” Ah iya juga. Maaf, Biru aku hanya tidak ingin jika harus berdua denganmu.
“Kita mau kemana sih?” Tanyaku penasaran. Habisnya, kami seperti berjalan melawan arus.
“Gausa bawel deh, Ga. Percaya deh kamu pasti akan kagum dengan tempat yang akan aku tunjukkan.” Dasar menyebalkan.
“Ya ampun ada dermaga” Ucapku penuh kekaguman setelah lima menit berjalan menyusuri pantai ini.
“Cantik kan? Kamu bisa menikmati senja sembari mendengarkan suara ombak dengan tenang karena di sini sepi pengunjung” Kutengok sekeliling. Benar juga. Hanya terdapat beberapa pengunjung disini.
Aku berlari menuju salah satu sandaran dermaga dan bersandar. Kamu menyusulku dan berdiri di sisi kananku dan merapatkan jari-jarinya ke jari-jariku. Ya Tuhan. Suasana ini sungguh sempurna. Sempurna apabila aku bisa membalas perasaan kamu. Sayangnya aku tidak bisa. Belum.
“Aku senang sekali, Biru. Terima kasih” kurasakan kamu menoleh padaku. Coba kutebak, pasti kamu sedang tersenyum sekarang. Ah sudahlah, lebih baik kulanjutkan kalimatku “Aku senang karena mataku bisa melihat senja seindah ini dan telingaku dapat mendengar suara merdu dari ombak disini”
“Aku juga senang” Secara spontan aku menoleh. Sial, kamu sudah memalingkan wajah.
“Senang dengan suara ombak juga?”
“Bukan” kamu menoleh. Kami saling berpandangan “Tapi senang karena bisa menikmati pemandangan senja yang cantik, bersama dengan wanita cantik di sisi kiriku ini” ucapmu kemudian berpaling sambil tersenyum. Kamu eratkan pegangan tanganmu padaku “Aku sayang kamu, Jingga” Astaga.
Kalau kata Dilan kepada Milea ‘tapi aku belum mencintaimu. Mungkin nanti sore’tapi hingga senja akan berakhirpun aku belum juga mencintaimu. Tapi aku tidak berbohong, Biru. Aku tidak berbohong bila kukatakan aku senang. Sabar ya, Biru, tunggu aku. Aku pasti bisa mencintaimu,dengan segera.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kupejamkan mataku perlahan. Menikmati suara deburan ombak yang memberikan perasaan tenang kepada diriku. Kenangan itu begitu menghujam jantung bagaikan belati. Kenangan 3 tahun lalu, di pantai ujung timur Pulau Jawa. And here I am. Bersandar di dermaga sebuah pantai ujung barat Pulau Jawa. Anyer menuju Panarukan jauh sekali, bukan?
Dengan pemandangan senja dan suara ombak yang serupa, namun dengan lokasi dan perasaan yang berbeda. Aku tidak salah, Biru. Aku sudah mencintaimu sekarang. Bukan hal baru sebenarnya karena nyatanya aku telah mencintaimu setelah hari itu.
Sama halnya seperti aku mencintai suara ombak.
Kamu bukan alasanku mengagumi suara ombak, tapi karenamu-lah aku kianmengaguminya.
Namun, karena ombak-lah aku jatuh cinta padamu untuk pertama kalinya.
Langit kian menggelap namun belum ada hasrat untukku beranjak dari dermaga ini. Kalau kamu tahu, kamu pasti marah. Angin malam tidak baik katamu. Tapi mengapa kali ini kamu tidak memberiku jaket? Sudahlah aku tidak boleh manja.
Satu tarikan nafas lagi, dan aku akan hengkang. Ah angin laut di malam hari memang segar, tapi mengapa kau sangat khawatir terhadap angin ini?
Hmm, sudah waktunya aku kembali. Selamat senja, Biru. Aku merindukanmu.
-Penikmat Suara Ombak
Ketika Biru dan Jingga bisa menyatu menjadi Senja, lantas mengapa aku dan kamu tidak lagi dapat menyatu menjadi kita?
YOU ARE READING
Twilight And Wave
RandomBagi sebagian orang, senja tidaklah seindah itu. Bagi sebagian orang, suara deburan ombak tidaklah semerdu itu. Namun bagiku senja adalah hal tercantik yang pernah ada dan suara deburan ombak adalah alunan termerdu yang pernah kudengar.
