Tangisan

4 0 0
                                        

Christ:
Jam udah menunjukkan pukul sepuluh malam. Gue lupa waktu. Seharian kerja dari pagi hingga malam membuat gue ingin cepat cepat ke tempat tidur. Semua orang udah pulang dari tadi, tinggal gue sendirian di kantor. Mata gue udah cukup berat menahan ngantuk. Siapa sih yang gak capek kerja dari tadi pagi, ditambah dokumen dokumen yang udah numpuk selangit dikerjain semaleman? Well, jika memang ada orang kaya gitu, he rock!
Seketika lamunan gue buyar, gara gara hp gue geter. Ini udah hampir yang ke sepuluh kali or more. Gue lupa tadi buat bales pesan dari Alice karena kesibukan kerja. Gue gak bisa bayangin Alice yang udah nungguin gue di ruang tv sampe hampir tengah malem gini. Tanpa basa basi, gue pergi. Gak lupa buat ambil mantel gue ama peralatan kantor penting lainnya yang mesti gue bawa pulang kerumah.
Di luar kantor udah sepi. Cuma mobil gue yang masih parkir di depan kantor. Cukup 25 menit buat gue pulang dari kantor ke rumah. Sampai di depan rumah setelah gue parkir mobil. To be honest, gue takut buat ketemu ama Alice. Bukan takut, tepatnya ga tega. Gue gak tega ama Alice yang udah nungguin gue berjam jam. Memang sih ini udah biasa. Alice hampir tiap malem nungguin gue pulang dari kantor. Dan setiap malem juga, gue punya rasa "gak tega" ini. Pasrah aja, gue pun buka pintu masuk kerumah. Yang anehnya, Alice gak ada di ruang tv. Biasanya dia nunggu disitu. Gue pun nyariin Alice. Gue ke kamar gue ama Alice. And there she is,lagi duduk di atas ranjang, membelakangi gue. Gue bingung juga kenapa Alice disini, biasanya di ruang tv.
"Alice? " gue panggil dia.
Alice melihat ke arah gue. Gue terkejut lihat Alice. There is something i've never seen. Alice nangis.

Alice :
Sendirian di ruang tv. Sekali lagi, aku kirim pesan ke Christ. Dari sore pesanku nggak dibales. Chris kalau udah fokus ke pekerjaan, semuanya dia abaikan. Ini salah satu kebiasaanya. Aku harus nungguin dia pulang tiap malam. Yang pastinya, Chris selalu pulang di jam yang nggak semestinya. Dia selalu pulang larut malam. Well, sebenarya aku tidak harus menunggu dia pulang. Tetapi aku hanya ingin memiliki waktu dengannya berdua meskipun hanya sebentar. Christ dan aku semenjak menikah setahun yang lalu tidak pernah memiliki waktu untuk kami berdua. Bukan nggak pernah, tetapi jarang. Dia selalu mementingkan pekerjaanya. If i can, aku ingin marah kepadanya karena Christ yang lebih memilih fokus kepada pekerjaanya dibandingkan diriku. Tetapi aku tidak bisa, itu akan menambah bebanya saja.
Sekarang sudah hampir jam sepuluh malam, dan tetap saja Christ nggak balas pesan ku. Pasrah. Aku kecewa dengan Christ. Aku hanya ingin mengetahui kabarnya. Apakah dia sudah makan? Apakah dia lelah? Apakah dia baik baik saja? Cukup itu saja yang ingin ku tau. Dan betapa sulitnya buat aku menunggu balasan pesan dari Christ, yang mungkin nggak dibalesnya. Tanpa ku sadari, pipi ku sudah basah. Kebiasaan ku menangis karena hal sekecil ini yang paling ku benci. Dengan cepat, aku berlari ke kamar ku dan Christ. Aku mengelap air mata ku. Aku takut Christ akan melihat ini. Pasti sangat memalukan. Tangisan ku berhenti seketika seseorang memanggil ku dari belakang.
"Alice? "
Seketika aku melihat ke belakang. Dan betapa kagetnya aku setelah melihat bahwa orang yang memanggil ku tadi adalah Christ. Ia memakai ekspresi kebingungan. Aku juga bingung apa yang harus ku katakan kepada Christ mengenai mengapa aku menangis ini. Aku dan Christ sama sama diam. Dengan terpaksa, aku mulai berbicara.
"Christ? Kamu udah pulang? " tanya ku gugup.
"Kamu kenapa nangis? "
Melihat ekspresi kagetnya membuatku nggak kuat buat jawab pertanyaan Christ. Apa yang mesti ku jawab?
"Ga apa apa kok Christ" jawab ku sambil menghapus air mata ku tadi.
"No Alice. Kamu bohong. Kamu kenapa nangis? Answer me honestly" tekan Christ kepada ku.
Aku tak sanggup buat jawab pertanyaan dari Christ. Aku memilih diam. Namun, Christ malah mencoba untuk membuat ku berkata jujur. Dia mulai banyak bertanya kepada ku sambil memegang kedua pundak ku.
"Kamu kenapa diam Alice? Kalo kamu ada masalah, cerita ke aku"
Entah kenapa, mendengar hal itu dari mulut Christ sendiri membuat dada ku sesak. Kapan terakhir kali dia bertanya perihal masalah ku? Dia selalu tak perduli kepada ku. Namun sekarang, ketika aku begini dia baru bertanya? Itu membuatku marah. Aku akan mengeluarkan seluruh isi hati ku yang selama ini aku pendam kepada Christ. Aku menatap Christ yang sedang menatap ku dengan ekspresi membingungkan.
"setelah sekian lama kamu baru nanyain ke aku begini?" .Aku sedikit menekankan omongan ku.
"Cukup Christ. Aku muak. Kamu nanyain kenapa aku nangis? Aku sakit Christ. Sakit. Aku nungguin kamu tiap malem karena aku cuma mau kita punya waktu berdua meskipun sebentar Christ. Tapi kamu nggak pernah hargain aku. Kamu hanya pentingin pekerjaan. Aku mau kamu berubah Christ." jawabku sambil menahan air mata ku. Sedangkan Christ, ia terdiam. Ia mulai melepaskan genggamannya dari pundakku.
"Maaf Alice. Tapi kamu harus tau. Aku ngelakuin ini semua demi kamu. Demi kebahagiaan kamu. "
"Demi aku? Nggak Christ! Aku nggak butuh uang hasil kerja kamu. Aku cuma butuh waktu buat kita berdua Christ. Aku selalu mikir kapan kita punya waktu? Tapi kamu selalu nggak ada" jawab ku dengan berlinang air mata. Melihat ku, Christ mulai ingin menjelaskan lebih lanjut.
"Nggak Alice. Nggak seperti yang kamu pikirin. Aku-"
"Udah Christ. Cukup! Aku mau pergi. "
Aku mengambil tas ku, berniat untuk pergi ke rumah May. Aku udah nggak sanggup lihat Christ.
"Kamu mau kemana? Ini udah malam Alice. Bahaya" jawab Christ. Ia menarik tanganku, menahan ku untuk tidak pergi. Namun dengan sekuat tenaga ku, aku melepas genggaman Christ. Dan mulai pergi. Jujur, aku gak tau mau kemana udah larut malam gini. Tetapi, ada seseorang yang bisa ku kunjungi sekarang. Hanya dia, sahabat ku, yang bisa memberi solusi atas masalah ku ini, May.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 15, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

MemoryWhere stories live. Discover now