Neo POV
Matahari terik, jalan-jalan kecil tak beraturan seolah terpanggang. Berbagai kendaraan bercampur-baur merayap sekali kali berhenti, suara tlakson mobil memekakan telinga kerap terdengar saat orang orang yang menyeberang seenaknya melintas dari kemacetan itu.
Namaku Neo Claudia Mustika,salah satu pengendara yang terjebak dilokasi hiruk-pikuk ini ekspresiku mulai gelisah. Beberapa jam yang lalu temannku, Zaki memberitahukan kalau kekasihku, Alex baru saja mengalami kecelakaan. Dan sekarang Alex harus dirawat dirumah sakit lebih parahnya lagi, Alex harus segera menjalani operasi pada kepalanya yang mengalami benturan dan pembedahan pada luka lukanya.
Rasa tidak sabar sangat terpancar dari wajahku sekarang, kacamata hitam bermerk yang selalu ku banggakan ku lempar ke belakang pengemudi tanpa hati.
Berkali kali aku memencet klakson bahkan sesekali mengumpat kasar, sampai tiba tiba ada peluang untuk bisa mendahului tiga mobil didepan. Aku segera membanting habis setir ke kiri dan melesak masuk ke halaman parkir kosong didepan pertokoan menambah tenaga kendaraan lalu kembali menyusup masuk ke jalan dengan membanting setir ke kanan. Setidaknya kendaraan didepanku tidak melaju lambat seperti siput. Tidak semacet dibelakang dengan tiga mobil sialan tadi.
Fuhhh, untung lah aku segera mempercepat laju kendaraannya menuju rumah sakit dimana Alex sedang dirawat sekarang. Dadaku bergemuruh, terbesit ketakutan yang membuatku sepanik sekarang. Tanganku yang daritadi membanting stir juga terasa berkeringat.
***
Sampai didepan Rumah sakit, suara mobil yang direm mencicit, segumpal debu mengambang rendah sebatas lingkaran luar ban. Mobil berhenti tepat diparkiran Rumah sakit.
Aku buru buru turun dari mobil, membanting pintu mobil lalu berlari masuk ke dalam Rumah sakit. Mencari ruang yang tertera dilayar hp, tempat dimana Alex berada juga mencari batang hidung Zaki, temanku.
"Neo! I'm here!!"
Teriakan terdengar di arah jam tiga, aku menoleh menemukan cewek berpenampilan tomboy, tank top dengan atasan kemeja motif kotak kotak terbuka, dan jeans-nya melambaikan tangan kepadaku yang tak lain adalah Zaki.
Terlihat jejak jejak airmata di pipi Zaki, matanya juga membengkak, menandakan Zaki sudah lama menangis.
"Zaki..! Jelasinn! tell me.. "
"Alex, Ne.. Alex.. kecelakaan..."
"Kenapa bisa sampai kecelakaan!"
"Itu, waktu gue manggil dia buat cepet cepet datang mau.. ngerayain ultah lo.. Na.. tapi.. dia kecelakaan dijalan.. "
Deg,
Jantungku seolah-olah berhenti berdetak, kaget mendengar ucapan Zaki. Seolah berhenti bernafas aku terdiam cukup lama dengan wajah yang sulit dijelaskan.
Ulang tahun? Aku bahkan tidak ingat bahwa sekarang hari ulang tahunku.
"Zaki.. dia bakal baik baik saja kan.. Alex.. dia bakal fine aja kan.." ucapku panik, yang dibalas kebisuan Zaki.
Baru saja, aku bahagia bisa menjalin hubungan dengan Alex. Sudah hampir 3 bulan. Aku harap hubungannya semakin serius dan baik baik saja kedepannya. Sungguh aku sudah sangat mencintai Alex. Tapi apa sekarang?
Pikiranku sekarang kalut, entah kenapa dadaku sekarang terasa sangat sakit, menyesakan. Seakan-akan sebentar lagi akan terjadi sesuatu.
Dan aku tidak menginginkan sesuatu itu.
Derap langkah meramaikan koridor ruang tunggu yang ditempati keduanya yang tengah meresah. Laki laki berwajah tegas yang sudah memakan usia dan wanita paruh baya memasangkan wajah khawatir mereka, dibelakang mereka juga ada Verza, adik Alex dan Raya teman nya yang memasang wajah pucat panik.
"Neoo.. neoo.. bagaimanaa dengann Alex.. dia baik baik ajaa kan... "
Wanita paruh baya itu mengguncang bahuku. Lalu memelukku aku pun membalas pelukan wanita itu, ibu Alex.
Punggungnya yang ringkih bergetar, takut kehilangan anak pertamanya yang tengah berbaring didalam sana. Sampai pintu ruangan dibuka, dokter berpakaian serba putih keluar melepas kaus tangan dan masker yang menutup mulut dan hidungnya.
"Dokterrr bagaimana keadaan anak saya dok... " tanya ayah Alex
"Maaf..."
Kata itu membuat semua yang ada di ruang tunggu itu membisu, diam ditempat siap mencerna kalimat dokter yang memasang wajah menyesal melanjutkan perkataannya.
Lalu Ibu Alex , ayah, dan Verza nampak berdebat tidak mengerti apa yang dokter katakan. Diikuti dengan Raya dan juga Zaki yang tidak percaya dengan apa yang mereka pikirkan. Sedangkan aku? Aku masih membisu. Berharap dengan kebisuanku. Tidak akan terlontar sesuatu yang buruk dari mulut si dokter.
"Maaf..."
"Tapi saya tidak bisa menyelamatkannya bu.. pak.. saya sudah berusaha semaksimal mungkin"
"Tapi putra anda tidak bisa diselamatkan"
"Dia meninggal."
Dia meninggal...
Meninggal...
Tak tau kenapa, setelah itu semua gelap, yang terakhir kali ku dengar teriakan histeris dari ibu Alex, dan Raya.
Lalu ucapan dokter yang terus terulang seperti kaset rusak, terngiang ngiang dibenaknya.
Sampai semua gelap.
***
Gimana?
Lanjut ga ya..
S.c.u.a♡
YOU ARE READING
My Prince Ghost
RomancePernah pacaran, lalu ditinggal pergi pacar. Bukan, bukan diputuskan tapi ditinggal mati.
