Wangi Itu?

52 15 67
                                        

Pagi ini cerah. Bahkan sangat, tapi tidak dengan wanita ini

Matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya. Seorang gadis berperawakan tomboy turun dari kamarnya. Seperti biasa, dia tampil dengan tampang cuek. Sejak mengenal kesakitan dia jadi seperti itu.

"Bella," panggil seorang wanita.

Bella, anak yang pintar, tomboy, dan cuek. Baginya pria itu tidak berarti, sejak kesakitan menyergapnya. Dia yang punya masa lalu kelam, menjadikannya begitu arogan pada setiap pria di sekitarnya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, sekarang yang ia pikirkan hanyalah sekolah, sekolah, dan sekolah. Walaupun kesakitan sering menyergapnya sesekali yang berakhir dengan ingatan masa lalu.

"Iya, ma?" sahut nya kepada seorang wanita paruh baya yang berdiri disamping tangga.

"Sudah siap semua, nak?"

"Sudah, ma."

Ya, hari ini adalah hari dimana Bella akan masuk Sekolah Menengah Atas. Dia akan masuk di sekolah "Synlote" sekolah yang selama ini diimpi-impikannya. Baginya menempuh pelajaran sejauh ini sangatlah berarti, dibandingkan dengan tentang dia. Dia yang membawa semua kebahagiaan, dan meninggalkan luka.

~Sekolah Synlote~

Mobil Bella melaju dengan mulusnya. Ia pun segera turun dari mobilnya. Menghirup udara pagi, serta merasakan dinginnya pagi. Perlahan tapi pasti ia menanjakan kaki nya ke halaman sekolah.

Ia berjalan dengan santai, melihat keadaan yang ada di sekitar. Saking asyiknya dia melihat sekitar, ia tidak tahu bahwa ada seorang didepannya.

Tiba... Tiba... Brukk....

"Aduh," rintih Bella karena tertabrak sesuatu yang membuat dirinya jatuh kelantai. Ingin ia memarahi orang yang menabraknya. Tapi... Ia tahu ini bukan waktunya mencari masalah.

"Maaf, gue gak sengaja." suara berat namun, lembut seorang pria yang menabrak Bella.

Bella pun, menengadah keatas untuk melihat orang yang telah menabraknya. Setelah itu ia bangun.

"Iya, gak papa," jawabnya santai

Setelah itu ia kembali berjalan. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa, gadis itu berlalu pergi meninggalkan pria itu yang masih mematung.

Pria itu tampan, keren, kulitnya yang putih, juga dengan rambut yang kecoklatan, serta mata coklat memikat, bak turis. Siapa wanita yang tidak terpikat? Hanya Bella!

"Cuek banget tuh cewek, gak biasanya ada orang yang liat gue diem aja." decak pria itu dalam hati

~Kelas~

Akhirnya, sampai juga Bella ke kelas barunya. Bella pun segera berjalan ke arah pojok tempat duduk yang sudah terdapat seorang wanita memakai kacamata, juga dengan novel yang ada digenggamnya.

"Hai! Boleh gue duduk disini?" tanya Bella hati-hati.

"Mmm..., boleh kok. Duduk aja."
Ucap perempuan itu dengan ramahnya.

"Btw, kenalin nama gue Bella Stefly Bront," Ia duduk, sambil mengulurkan tangan.

"Kenalin, gue Apriel Sand Moraelas," berjabat tangan.

Kelas masih sangat riuh. Tiba-tiba... Seorang wanita datang memasuki kelas dengan sebuah buku ditangan nya.

"Pagi, anak-anak," sapa wanita itu tegas.

"Pagi, bu," jawab murid-murid serentak

"Baik. Nama ibu, ibu Stella Dollomki. Saya adalah wali kelas kalian. Sekarang kita akan memulai pemilihan pengurus kelas," sambil membuka daftar nama siswa.

"Bella Stefly Bront, kamu jadi ketua kelas. John Pieter Stofly kamu jadi wakilnya. Apriel Sand Moraelas kamu jadi sekretaris dan...."

Setelah membacakan beberapa nama sebagai pengurus kelas, ia pun segera meminta kepada nama-nama tersebut untuk maju kedepan kelas.

Sembari berjalan Bella menangkap satu sosok yang tidak asing baginya. Ya, ia ingat pria itu! Pria, yang ditabraknya sewaktu berjalan di koridor! Ya, dia ingat itu!

"Cewek itu lagi," Gumam pria itu.

****

Setelah kemahampaan mulai hilang kau datang menanggalkan sejuta kepahitan. ~Bella

Sejak istirahat, Bella hanya diam di kantin menemani teman barunya makan. Ia hanya melihat temannya asyik berkutat dengan makanannya,  sambil sesekali Bella mengalihkan pandangan. Anehnya, pandangan itu selalu menangkap sosok, John. Ihh... Anehnya!

Harus gak sih gue kembali sama yang namanya cinta? Harus gak?! Gue gak bisa kek gini terus! Lama kelamaan gue bisa mati. Cuman, karena cinta kek gini gue jadi cewe yang lemah! Gak! Gak bisa! Gue gak bisa kek gini terus. Dia aja belum tentu mikirin gue, ngapain gue mikirin dia. Gadis itu terus bergulat dengan pikiran juga hatinya. Entah, mengapa..., John mengingatkan Bella kepada orang yang pernah mengisi hari-harinya.

Apriel yang sedari tadi melihat tingkah aneh Bella pun buka suara.

"Bel..., Lo gak apa-apa?" tanya nya cemas.

"Iya, gue gak apa-apa kok. Cuman gue lagi gak mood aja hari ini," jawabnya santai.

~Pulang Sekolah~

Bella menunggu jemputannya digerbang sekolah. Sedangkan, Apriel sudah pulang sedari tadi.

Sambil duduk di dekat pintu gerbang, ia memejamkan mata, menikmati angin yang menerpa wajahnya.

Ia tidak sadar, jika di depannya telah berdiri seorang pria yang menabrak nya di koridor tadi.

"Hai," sapanya. Aduh jarang sekali lohh! John menyapa seorang wanita terlebih dahulu.

Bella yang menyadari hal itu langsung salah tingkah, menggaruk tekuknya yang tak gatal. "Ehh, lo. Ada apa? Hai juga," jawabnya kikuk.

"Mm..., nama lo...mm Bella, 'kan?" Nah!

"Iya, kenapa memangnya?" jawab nya santai.

"Gak apa-apa kok. Gue cuman mau bilangin besok ada rapat pengurus kelas, jadi gue harap lo bisa dateng." Detak jantung itu!

"Ohh... Itu. Oke besok, kan? Gue bisa!"

"Oke. Mm..., btw lo belum pulang?"

"Belum dijemput nih..."

"Mau pulang bareng?" aduh. Ada apa dengan, John? Baru kali ini dia mengajak seorang wanita pulang bersama. Biasanya para gadis yang mengajaknya pulang bersama mereka.

"Hm, gimana ya? Gue--"

Bunyi telepon. Membuat Bella melihat layar kotak miliknya,  atau kita bisa menyebutnya ponsel.

"Halo,"

"... ... ...,"  suara orang di seberang sana.

"Iya, iya, iya. Aku pulang sendiri aja, gak apa-apa kok." Jawab Bella singkat, dan menutup layar ponsel nya.

John, yang mendengar hal itu memiliki kesempatan untuk pulang bareng Bella. Hihihi.

"Bel, mau pulang bareng gue gak?"
tanya nya pantang menyerah.

"Ya udah, deh," jawab Bella pasrah.

Bella pun, segera menaiki motor besar milik, John.

Di perjalanan semilir angin terus menerpa wajah Bella, juga dengan rambut terurai kecoklatan miliknya. Tapi..., karena angin itu Bella bersandar pada punggung John.

Wangi ini? Mengingatkan ku pada seseorang. Seseorang yang datang dengan sejuta harapan, dan pergi dengan sejuta luka yang bertebaran. Tanpa sadar, cairan bening yang ia tahan selama ini tumpah, tak kuasa mengingat masa lalu yang begitu pahit. Sangat pahit.

Ketika cinta telah diuji oleh kesabaran, perjuangan, dan kesengsaraan.
Haruskah masa lalu itu kembali? Haruskah? ~Bella

Kamu itu wanita yang berbeda yang pernah aku temui, berbeda dari yang lain. Aku suka tingkah kamu! ~John

The InjuriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang