Keesokan hari, Aimee menemaniku menuju Amuzilo yang ada di Arrondisement 6. Kami menaiki Metro dari Metro Alma Marceau di Avenue Montaigne dan turun di Metro Odéon.
Karena Amuzilo buka jam 11 siang, maka aku dan Aimee masih sempat sarapan bersama di salah satu café di dekat apartemen Aimee yang terletak di arrondissement yang sama denganku, jam 9 pagi ini.
Amuzilo terletak di Rue Dauphine-- jalan ini terletak di Saint-Germain-des-Prés di arrondissement 6. Setelah turun dari Metro Odéon, aku dan Aimee memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju Amuzilo.
Beruntung, kemarin, Andree, Arnaud, dan Amaury tidak mengajakku ke bar terdekat saat malam. Mereka--termasuk Aimee, memberiku waktu istirahat dengan pulang saat sore menjelang. Mereka mengerti aku perlu istirahat setelah flight belasan jam. Pagi hari saat bangun tidur tadi, aku merasa lebih segar.
"Sam, siapa nama keponakan barumu? Kamu belum cerita kemarin?" Tanya Aimee di antara derap langkah kami.
"Sebenarnya aku ingin menamakannya sunflower, tapi adikku hanya mengizinkan itu sebagai nama panggilan saja. Adikku memberi nama Renata, tentu saja dengan sederet nama panjang khas di keluargaku," jawabku sambil tertawa. Aimee tersenyum dan tertawa kecil.
"C'est un tournesol*," kata Aimee sambil memperagakan menggendong bayi. Aku tertawa geli melihatnya.
(*It's a sunflower)
"Tapi, sunflower punya filosofi menarik, sih."
"Apa itu?" Tanyaku.
"Bunga matahari selalu setia dalam mengikuti arah matahari, meskipun panas matahari bisa melukai kelopaknya. Kelopak kuningnya memancarkan sesuatu yang semarak. Bunga ini juga memiliki filosofi yang dalam karena mampu berdiri kuat, tangguh, lurus, namun sekaligus terlihat elegan. Sangat dalam dan indah, bukan?"
Aku termenung untuk sepersekian detik. Di antara derap langkahku di Paris, tiba-tiba aku rindu rumah.
"Sangat indah, Aimee. Terima kasih sudah berbagi denganku."
Aimee tersenyum dan mengangguk.
"Ah! Itu dia, Amuzilo," seru Aimee saat kami tiba di dekat sebuah toko dengan cat warna ungu yang sangat menarik perhatian.
Memasuki Amuzilo, deretan etalase dengan beragam mainan-mainan, menyambut kami.
"Bonjour," baik aku maupun Aimee mengucapkan selamat pagi, saat membuka pintu toko dan memasukinya. Di Paris, wajib mengucapkan salam---Bonjour/Bonsoire tergantung kapan waktunya, ketika kita memasuki sebuah toko/café, dsb. Kalau nggak, jangan harap penjaga toko akan menghargai kita.
"Bonjour, madam, monsieur. Selamat datang. Silahkan melihat-lihat. Hari ini kami punya diskon 10% untuk produk tertentu," ucapan seorang pramuniaga laki-laki, menyambut kami.
"Merci beaucoup," jawab aku dan Aimee sambil tersenyum.
Pramuniaga itupun pergi dan aku mulai melihat beberapa etalase yang memajang mainan-mainan yang terlihat lucu dan menarik; penuh warna dan bentuk, Amuzilo jelas sebuah tempat yang cocok untuk anak-anak berkunjung di akhir pekan.
"Sam, itu beberapa kotak musik dengan bentuk carousel," suara Aimee membuyarkan lamunanku. Aku mengikuti arah yang ditunjuk Aimee, ke sebuah sudut etalase.
Ada deretan kotak musik carousel di rak di sudut tersebut. Aku menelisik satu-satu, memutarnya untuk mendengarkan lagu apa yang akan muncul, bagaimana kuda-kudanya berputar, atau bahkan corak warna apa yang melekat.
Sampai kotak musik yang terakhir, aku belum merasa puas.
"Bagaimana?" Tanya Aimee.
"Entahlah," kataku ragu.
YOU ARE READING
Serendipity
RomanceArsamuel adalah seorang Arsitek yang memutuskan untuk mengunjungi Paris menemui teman-teman lamanya sekaligus merefresh pikirannya dari perpisahan dengan mantan kekasihnya. Di Paris, dia bertemu Céline, tanpa sengaja saat mencari sebuah vintage caro...
