S A T U

17 0 0
                                        

"kamu akan tahu. Pertanyaan mu akan segera terjawab. Cukup sentuh dirinya dalam bayangan itu."

Aku mencoba melakukan apa yang dikatakannya, Seseorang yang berada disampingku. Aku tidak tahu siapa dia. Tudung hitam yang menutupi wajah dan tubuhnya membuatku kesulitan mengenalinya. Memang aku tidak kenal, tapi suaranya terdengar tak asing lagi ditelinga.

"kamu akan tahu. Pertanyaan mu akan segera terjawab. Cukup sentuh dirinya dalam bayangan itu." Ulangnya.

Perlahan tanganku terangkat untuk menyentuh cermin ini. Bayangan yang ada didalam cermin masih menatapku dengan pandangan yang membuatku semakin takut ketika jemariku semakin dekat menyentuhnya. Sampai akhirnya,

Splaaashh..

Sebuah cahaya telah keluar. Terpancar dengan dahsyat. Membuat pandanganku mengabur. Setelahnya, aku tidak bisa ingat apapun yang terjadi.

"Evelyn bangun! Evelyn!"

Suara yang tak asing mengusik pendengaranku. Bagian tubuhku seakan ada yang menyentuhnya hingga aku merasa terganggu. Perlahan kedua mataku terbuka. Mengerjap beberapa saat untuk menghalau sinar matahari yang menelusup melewati celah gorden.

"Evelyn, cepatlah bangun. Sudah jam berapa ini. Kamu harus mandi lalu berangkat sekolah. Ayo cepat!"

Itu ibuku. Namanya Sarah. Dia selalu saja mau repot-repot membangunkan ku di pagi hari. Sungguh dia ibu yang baik, bukan?

"Evelyn, jangan diam saja. Astaga kau ini!" Dengan sangat keras dia memukul paha mulusku yang tak terbalut selimut. Kain hangat dan tebal itu pasti sudah tersingkirkan entah kemana. Jika saja kalian tahu bagaimana sikap tidurku. Sayangnya, tidak ya.

"Ibuku sayang, tidak bisakah ibu tidak memukul pahaku. Lihatlah Bu, paha putrimu memerah. Apa ibu mau dituntut telah melakukan kekerasan pada anak." Ibu menatapku jengah. Sementara aku masih memasang tampang kesal dan tentu saja ngantuk. Hampir setiap pagi, ibu melakukan ini.

"Evelyn, kau masih akan berada di kasur dan berbicara tidak penting atau pergi ke kamar mandi sekarang!" Katanya tegas.

Oke. Jika ibu sudah berbicara tanpa titik, panjang begitu berarti amarahnya sedang naik. Tanpa basa-basi lagi aku segera lari ke kamar mandi. Menutup pintu dengan keras. Mandi dengan cepat lalu bersiap pergi ke sekolah. Karena hari ini aku tidak boleh datang terlambat.

Ngomong-ngomong, aku jadi teringat dengan mimpi semalam. Sudah beberapa kali aku bermimpi hal yang serupa. Mimpi dimana aku merasa bahwa itu bukan mimpi. Kejadian yang nyata. Tapi aku sendiri tidak tahu. Aku berharap, mimpi yang agak, cukup, mungkin seram itu tidak hadir lagi dalam lelap ku nanti malam. Ya, semoga saja.

"Evelyn, cepat! Kau hampir terlambat." Terdengar teriakan suara ibu dari luar.

"Iya ibu, sebentar lagi." Jawabku tak kalah keras dari teriakannya. Sebaiknya kupercepat sebelum nyonya besar memarahiku, lagi.

❤The White Queen❤

The White Queen.Where stories live. Discover now