satu.

60 13 2
                                        

"ok, kalo gitu gue duluan. " kataku yg lebih dulu meninggalkannya bersama ke empat teman ku.

Aku sengaja lebih dulu pergi, memutar badanku dan pergi meninggalkannya. Walau aku tau dia masih melihat kepergianku.

Dalam diam aku terus membujuk diriku sendiri.

"Jangan sekarang, pliease. Jangan sekarang." kataku dalam hati sambil mengeraskan rahangku menahan isak tangis. Kemudin sesekali aku mengangkat kepalaku seakan melihat langit-langit pusat perbelanjaan itu yang padahal aku sedang berusaha menahan air mata agar tak tumpah.

Aku yakin keempat temanku itu menyadari aku yang jadi sangat diam. Karena menjadi pendiam memang sangat bukan aku.
Dan salah satu dari mereka pasti akan bertanya.

"Aku mohon, jangan ada yg ngeliat ke aku saat ini. Jangan. " pintaku dengan serak menahan tangis.

"Dan jangan ada yg menengok kebelakang. Please... " sekarang ku katangan dengan sungguh memohon.

Aku tau semua temanku bingung. Tapi aku percaya mereka paham. Walau tak harus mengerti

Setelah cukup jauh dari tempat berpisah tadi. Langsung saja salah satu temanku bertanya.

"Bu As, kamu kenapa. " kata Bu Dina sambil memegang pundak kananku.

Ya. Benar sekali apa yang aku fikirkan. Mulailah pertanyaan itu.

Aku tak langsung menjawab. Aku bingung. Masih berusaha menahan tangis dan perasaan yang.. Sebenarnya aku sendiri tak mengerti.

Tapi aneh, ada rasa sakit juga saat ini.

Masih sambil terus berjalan ke parkiran motor. Mereka baik sekali tak memaksaku untuk bercerita tapi mereka juga setia menungguku untuk berkata.

"Dia temen aku bu." jawabku enteng.
Aku tertawa dalam hati. Miris. Karena sebenarnya dia bukan hanya sekedar teman biasa.

"Kalian uda pernah aku ceritain kan, waktu itu?" aku yg berkata untuk ketiga temanku.

Memang aku pernah menceritakan sekilas tentang seseorang yang sampai saat ini, entahlah. Mungkin special. Pada ketiga teman kerjaku, keculi Bu Dina karena waktu itu dia gak ikut ritual bulanan kaum perempuan belanja bulanan habis gajian. Waktu itu juga ditempat yang sama. Di pusat perbelanjaan ini yang dekat dengan sekolah kami.
Aku, dan keempat temanku adalah guru di salah satu sekolah menengah pertama. Dua diantaranya guru, dan dua lagi staff tata usaha. Tapi mereka semua lebih muda dariku. Maka itu, terkadang salah satu staff T.U memanggilku kakak.

"Kamu yakin cuma teman? ". Kata Bu Dina lagi yaang aku yakin dia semakin penasaran. Tapi aku gak marah, aku tau dia tipe orang yang sngat mudah penasaran.

Aku lagi-lagi tersenyum untuk menjawab. Tidak benar-benar tersenyum. Lebih tepatnya sedikit tertawa miris mengingat laki-laki yang barusan tak sengaja bertemu.

Ah, dia.
Dia yang masih sama. Sama orangnya, sama sifatnya, ternyata masih juga sama "rasanya".

Rasa di masing-masing hati kami.
Dan akupun kembali memejamkan mata mengenangnya.

Sambil kupejamkan mataku dan aku berkata dalam hati.

Perih.

****

Baca selanjutnya yaaa

Mr.  LateDes histoires addictives. Découvrez maintenant