Liam meringis mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras itu dan ia yakin semua anggota pack-nya dapat mendengarnya.
Ia menyeringai karena tahu mate-nya merupakan wanita yang bersemangat dan ia sangat tertantang untuk menakhlukkan wanita itu. Setelah merasakan Venus berada aman di dalam rumah ia menghubungi beta-nya melalui mindlink "Minta penjagaan di sekitar pack house diperketat, aku tidak ingin ada para rogue itu berhasil masuk dan melukai mate-ku."
"Oke. Oh ngomong-ngomong mate-mu merupakan wanita yang sangat aktif berhati-hatilah." Michael memperingatkan melalui mindlink.
Liam hanya mendengus meremehkan perkataan beta-nya itu lalu mencari Venus dengan mengikuti aroma mawar dan teh yang melekat pada wanita itu yang berada di dapur. Ia menuju dapur untuk menemani wanita itu makan lalu ia akan membawa wanita itu kembali ke kamarnya.
"Venus" Panggil Liam dan tanpa sempat mengelak ia melihat wanita itu melempar gelas ke arahnya dan mengenai keningnya.
"Oh My..." Ucap Venus pelan terlalu kaget karena ternyata gelas yang dilemparnya mengenai pria itu, tadinya ia mengira pria itu dapat mengelak dari lemparannya.
"Kau. Berani. Melemparku!?" Raung pria itu dengan marah dan mengambil satu langkah besar ke arahnya.
"Li...Liam, matamu..." Ucap Venus kaget karena melihat warna matanya berubah dari berwarna coklat keemasan menjadi hitam pekat.
Pria itu seakan mendengar ucapannya dan lalu menutup matanya sebentar seakan menenangkan diri lalu membuka matanya lagi sehingga Venus dapat melihat warna matanya yang kembali berwarna coklat keemasan yang indah.
"Matamu tadi..." Mata Venus masih terbelalak menatap pria itu, ia menelan ludah dengan gugup.
Liam hanya mengangkat bahunya seakan kejadian itu merupakan hal biasa baginya lalu Venus baru melihat darah mengalir dari kening pria itu "Kening-mu..." ia secara refleks menuju pria itu dan menghapus darah yang mengalir itu.
"Tidak apa-apa." Kata Liam menyingkirkan tangan wanita itu dari keningnya, baginya itu hanya luka kecil yang kurang dari satu hari akan sembuh sendiri.
"Tidak, tidak biar kuobati." Kata Venus, sebelah tangannya menangkup wajah pria itu dan sebelah lagi menyingkirkan rambut Liam yang jatuh ke dahinya untuk melihat seberapa parah luka pria itu yang untungnya tidak terlalu parah.
Liam terdiam yang merasakan sentuhan tangan wanita itu, tubuhnya dengan rakus ingin merasakan lebih sentuhan wanita itu sedangkan serigalanya berusaha mengambil alih tubuhnya untuk menandai wanita itu sebagai miliknya.
"Liam?" Venus melambaikan tangan di depan wajah pria itu.
"Apa?" Tanya Liam.
"Aku bertanya di mana kotak obat." Kata Venus dengan nada seperti orang yang telah mengulang kalimat yang sama berkali-kali.
"Oh" Dengan wajah yang pasti terlihat bodoh ia menunjuk lemari paling kiri di dapur itu dan Venus berjalan ke arah yah ditunjukkannya sambil tertawa kecil yang membuatnya tanpa sadar ikut tersenyum.
Venus meletakkan kotak obat yang ditemukannya di meja makan dan menarik pria itu untuk duduk agar ia dapat mengobati pria itu. "Tahan sebentar oke, ini akan sedikit pedih." Ucapnya sebelum menuangkan antiseptic sambil meringis seakan ia yang terluka.
Saat Venus selesai menuangkan antiseptic itu ia melihat ke arah Liam yang tidak menampilkan ekspresi kesakitan "Kau tidak merasakan sakit?" tanyanya.
"Tidak."
Memutar matanya karena menganggap pria itu hanya sok jantan ia kembali memeriksa luka pria itu yang sudah mulai menutup dengan kaget "Bagaimana bisa lukamu sudah membaik hanya dalam waktu kurang dari satu jam?!"
