Sudah

14 0 0
                                        

Lari..lari..dan lari

Kebiasaan yang dilakukan oleh Tika. Ketika memulai rutinitas, di kala berjalan cepat tidak lagi bisa diandalkan. Lia memilih berjalan cepat. Mahasiswa lain memakai fasilitas yang disediakan meskipun harus terlambat. Tika dan Lia lebih menikmati keringat pagi dengan berjalan kaki menaiki tangga demi tangga lantai satu sampai lantai lima demikian seterusnya, bergantung permintaan dosen mau di lantai, ruang mana membuka mata kuliahnya.

Tika berlari kencang dengan rambut lurusnya, yang telah ia putuskan untuk diluruskan dan berteman catok rambut. Lia berjalan cepat dengan rambut ikalnya yang terikat rapi, bersahabat dengan parfum rambut. Dua pribadi yang mempunyai kebiasaan unik soal perawatan rambut.

"Hai..Tika, nanti kita bertemu di ekskul PMK ya." , ucap Lia
"Ya..Lia, kita berjumpa ya." , balas Tika

Melewati proses kuliah masing-masing. Sejak pagi hingga siang. Tika dan Lia menyelesaikan setiap mata kuliah dengan kuat di hari itu, yang terpenting mempunyai banyak stok sepatu. Sebab keduanya menikmati senam kaki.

"Ayo..Lia kita PMK." , ucap Tika

"Yes..wokay." , jawab Lia

Mengawali perjumpaan dengan seluruh mahasiswa lain. Mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tika dan Lia menjadi semakin akrab. Mereka memutuskan untuk saling berkunjung, lebih tepatnya menginap secara bergantian. Memasak bergantian, dan menikmati hobi bersamaan yaitu berenang, kuliner, dan jalan-jalan bersama.

Hari Senin

"Say, aku ke kosmu ya, tidur tempatmu." , ucap Lia

"Oke say, kutunggu ya." , balas Tika

Sebuah kos yang tergolong elit saat itu karena tiap bulan Rp 400.000. Satu kamar dua kasur empuk, dengan fasilitas televisi untuk bersama, ada dapur, air minum, dan lemari yang cukup besar di tiap kamar. Berdiri tepat di samping tanah kosong lengkap dengan sumur tuanya.

Malam tahun baru 2008
Tika dan Lia habiskan berdua di lantai dua. Posisi yang cukup strategis untuk menyaksikan pesta kembang api dari tengah kota. Membeli bakso pedas asin, memasak nasi, memasak sayur tumis sawi, dan menggoreng ikan teri khas Kalimantan pemberian saudara Tika menjadi pelengkap syahdu pergantian kedewasaan mereka.

Satu persatu harapan diucapkan, dibakar dalam api kecil yang disiapkan. Bernyanyi, berpelukan, menyampaikan keinginan yang diminta dari sahabat. Mereka berdua menangis bersama, menulis, saling menceritakan teman dekat yang berhasil membuat pipi merona. Hingga pagi menjelang, tak ada lagi sorot lampu, tak ada lagi kembang api yang terpancar ke angkasa. Ribut kendaraan, klakson mobil tak lagi terdengar. Mereka memutuskan untuk turun ke lantai satu. Membersihkan diri supaya bisa langsung beristirahat.

"Say, ayo tidur, selamat bobok ya, love you." , ucap Tika

"Hu.um sayangku, love you too, btw itu gorden nggak kamu tutup, yakin nggak apa-apa?" , cakap Lia

"Iya say, nggak apa-apa, aman kok, kan sudah kita gembok." , balas Tika

"Emm..sini say, aku mau tunjukkan sesuatu ke kamu, tetapi aku pastikan dulu bukan mataku yang kotor, sebentar." , ucap Lia sambil mengusap berkali-kali matanya

"Itu kain putih kok panjang banget ya, kaki siapa pagi begini, lah kok ada tali tambangnya juga, kok berani melambai-lambai dari lantai dua, kan bahaya kalau jatuh, luka, cidera, repot orang tuanya." , ucap Lia dalam hati

"Sebentar say, aku pastikan dulu, aku intip dulu dari jendel." , ucap Lia

"Mampus, mateng, apa itu, wah..asem benar ya." , ucap Lia

"Kenapa say, say..pastiin lagi ya, biar aku yang lihat." , balas Tika

"Kalau sudah tutup gordennya ya say, aku berdoa dulu." , ucap Lia

SudahWhere stories live. Discover now