antara cinta dan derita

109 6 2
                                        

Perkenalkan namaku Syahdan, aku lahir di Tarakan 02 februari 2002, sekarang aku duduk di bangku SMA. Aku ingin mengisahkan tentang kisah hidupku. Dimana aku bersaksi atas penderitaan, dan derita bersaksi atas ketidakberdayaanku.
       Waktu itu aku duduk dibangku SD (sekolah dasar), aku dan keluargaku memutuskan pindah ke Berau, karena tuntutan pekerjaan ayahku. Saat itu aku tidak ingin pindah, namun keputusan keluargaku tak mampu tergoyahkan.
       Setelah sampai di Berau, aku tinggal di Teluk Bayur. Dan aku bersekolah di SDN004 Berau. Saat pertama kali kulangkahkan kakiku untuk masuk kedalam kelas, aku merasa canggung karena ada seorang gadis yang menatapku dengan tatapan mengandung arti.
       Namanya Jumarni, dia berumur 9 tahun. Dia adalah seorang gadis yang romantis dan penyayang, apapun yang ia lakukan aku selalu memperhatikannya.
       Dan aku pun mulai memperkenalkan diriku, setelah aku memperkenalkan diriku aku duduk paling pojok belakang sebelah kiri. Setelah jam pelajaran selesai, gadis yang mampu mengoyahkan keyakinanku tentang buruknya lingkungan baru, ia datang menghampiriku dengan senyuman manis dipipinya, ia bertanya "hai, siapa namamu?". Aku pun menjawab " aku syahdan, kau?". Ia pun menjawab "aku Jumarni, salam kenal". Saat itulah kisah kami dimulai
       Saat itu aku dan Jumarni masih memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, karena perbedaan logat dan bahasa. Akan tetapi, hal itu tak mampu mengoyahkan persahabatan kami.
       Waktu itu kami belum mengenal satu sama lain, aku bertanya tentang sesuatu yang membuat ia menangis "Jum siapa nama ayah dan ibumu?". Ia pun menangis terseduh-seduh seakan dunianya hanya diliputi kesedihan.
       Ia pun menjawab, "ibuku sudah meninggal dan ayahku hanya sibuk dengan urusannya".(jawabnya sambil terseduh-seduh).

       Setelah aku mendengar hal itu, aku pun mengucap janji "aku berjanji atas diriku untuk kita, bahwa aku tidak akan membiarkan siapapun menghapus senyumanmu yang berkibar diatas derita mu, barang siapa yang berani melakukan hal itu, aku tidak segan-segan untuk memukulinya". Ia pun mulai tersenyum. Dan saat itu aku tersadar bahwa aku jatuh hati padanya.
       Malam minggu kami yang pertama sebagai seorang sahabat, kami memutuskan untuk berjalan-jalan. Ia membawaku ketepian, tepian adalah salah satu tempat menarik di Berau. Tepian adalah sebuah sungai dan diseberang sungai terdapat kerlap-kerlip lampu yang menghiasi gelapnya malam.
       Dan saat kami di Tepian, aku ingin mengatakan sesuatu tentang perasaan ku terhadapnya. Namun, dia berkata "Dan kau maukah jadi pendampingku?". Aku terkejut karena aku ingin mengatakan hal yang sama. Aku pun menjawab "kenapa kau mau sama aku?". Ia menjawab "karena cuman kau yang membuatku yakin akan diriku sendiri". Aku menjawab "iya aku mau jadi pendampingmu". Disaat itu terjadi, aku tersadar kalau kami saling mencintai.
       Setelah beberapa bulan kami berpacaran, aku melihat ada seorang pria yang menganggu gadisku, tanpa ada keraguan yang terlihat dimataku dan keyakinan pun mengiringi langkahku.
       Tanganku bergetar mengayunkan pukulanku kewajahnya. Setelah kami berkelahi, Jumarni mendatangiku dengar tatapan penuh ragu ia berkata "Dan jangan selalu meyelesaikan perkara dengan kekerasaan karena itu bukanlah sesuatu yang baik". Aku hanya berkata "dia menerpamu dengan kesedihan, aku tidak mungkin mengikari janjiku atas nama kita, semua ini semata-mata karena aku tidak mau kau tersakiti".
       Setahun kami berpacaran, kami memutuskan untuk merayakan aniversary kami yang pertama, ditempat pertama kalinya kami saling mengutarakan perasaan. Saat itu aku diberi sebuah kalung bertuliskan namanya, ia mengalungkan rantai tersebut dileherku sambil berkata "Dan suatu saat nanti kalung ini akan menyiksamu atas kenangan yang terjadi diantara kita".
       Aku pun memberi sebuah boneka untuknya, aku berkata "peluk boneka ini, disaat kau rindukan kehangatan dariku". Aku terkejut, saat dia membuang boneka yang kuberikan kesungai.
     
       Dia langsung memelukku setelah membuang boneka yang telah aku berikan, ia mulai berkata "kau harus tau tentang sesuatu hal, tidak ada yang mampu mengantikan dirimu sekecil apapun bentuknya, karena bagiku kaulah yang terbaik".
       Malam itu dia memintaku untuk mengatakan sesuatu kepadanya, ia memintaku untuk mengatakan "I love You", namun bibir ini kaku tak mampu mengatakannya. Aku hanya diam dan tersenyum, ia berkata kepadaku dengan tatapan penuh penyelesalan "Dan hentikanlah bibirmu itu yang selalu berbisik tentang keindahan masa depan, karena hanyalah dusta yang terdengar". Aku hanya tersenyum menanggapi hal tersebut.
       Dua hari setelah hal itu terjadi, dia tidak pernah masuk sekolah, bahkan dia tidak pernah bermain kerumahku lagi. Selama sebulan hal itu berlangsung secara terus menerus, akhirnya aku memutuskan untuk mengunjungi rumahnya.
       Aku bertemu ayahnya untuk pertama kalinya, aku berkata "Om Jumarninya ada?", ayahnya menatapku dengan mata bersinar menatapku dengan rasa kagum, ayahnya berkata "Jumarni pindah ketempat pamannya".
      Aku pergi dengan kesedihan yang mendampingi bayanganku, aku hanya bisa bersedih atas apa yang telah terjadi, kini aku tersadar bahwa semua hanyalah dusta tentang angin yang berhembus mengucap seribu kata cinta.
       Aku mulai menjalani hari-hariku, seolah tak ada apapun yang terjadi. Seminggu kemudian, aku melihat ada mobil ambulans yang terpakir dihalaman rumah Jumarni. Aku pun berlari seolah kakiku tak terpaku dibumi lagi, aku melihat dari pintu rumahnya, tubuhnya yang tak mampu berdiri, senyumannya yang kaku, dan tubuhnya terbalut oleh seutas kain putih.
       Air mataku pun bercucuran dan tak terasa oleh kulitku, aku masuk kedalam rumahnya memeluk raganya untuk terakhir kalinya. Ayahnya pun memelukku seolah dia tau banyak akan hal yang telah terjadi diantara kami, namun aku tak menghiraukan hal tersebut.
      

     
       Setelah tubuhnya terhimpit bumi, ayahnya datang menghampiri dan merangukulku, ia berkata "aku tau banyak tentangmu, Jumarni selalu bercerita tentangmu, aku minta maaf karena telah merahasiakan hal ini, ia mengurung diri selama kalian tidak bertemu, dengan harapan kau tidak tersakiti atas derita yang ia alami. Ia menyuruhku tidak bercerita apapun terhadapmu, kau harus tau putriku sangat menyanyangimu". Aku hanya termenung menatap mawar yang menghiasi peristirahatannya.
       Sampai saat ini, disaat angin berhembus hanya kenangan bersamanya yang teringat. Hanya ada satu penyesalan dalam hidupku, saat ia memintaku untuk mengatakan "I LoveYou". Kini tubuhnya terkubur dengan rasa cintanya terhadapku, dan kini aku menderita atas cintaku terhadapnya. Biarlah cinta ini tetap menjadi derita, agar aku dapat mengenangnya didalam senyumku.
       Kini hanyalah sebuah harapan yang harus aku gapai, tentang menjalani hari akhirku bersamanya, izinkanlah kami tetap menyimpan rasa ini meskipun menjadi sebuah penyiksaan. Tuhan, aku memohon atas nama cinta kami, jangan kau memudarkan rasa cintaku yang telah terbalut derita meski hanya setitik rasa itu, meskipun jiwa ini menginginkannya. Kini jiwaku tak dapat mengabdi terhadap hatiku, karena hati lebih memilih derita dibandingkan cinta.
       Atas nama cinta kita, izinkan aku mengisahkan cerita cinta kita kedalam sebuah karya tulis. Agar kisah cinta kita dapat terdengar hingga keujung dunia, meski mataku buta dan memancarkan kenangan dimasa lalu, setidaknya masih dapat terdengar. Jika ada orang yang tak dapat mendengarkan kisah ini, maka izinkahlah aku untuk mengisahkan kisah ini kedalam sebuah film,agar orang yang tak mampu melihat dan mendengar,dapat menjadi saksi atas kisah dua anak yang saling mencintai.
       Jumarni kisah cinta kita belum berakhir, cinta kita belum sempurna. Aku disini, dipulau ini. Ditempat dimana kau menghembuskan nafas terakhirmu, dan ketika angin berhembus seolah yang terdengar adalah desahan nafasmu. Hingga saat ini aku masih merasakan kehadiranmu.

Antara Cinta dan DeritaStories to obsess over. Discover now