Setelah lima bulan berlalu, kini kembali teringat dalam otakku sebuah kenangan masa lalu yang merasuki jiwa dan menenggelamkan segala pikiran yang ada.
Hari ini di mana mentari begitu cerah menyinari suasana hati, aku berjalan di sebuah taman tempat di mana kita pernah berjalan berdua.
Terdapat sebuah gubuk kecil beralas ubin di tengah taman, aku duduk sembari menikmati makanan yang aku beli tadi. Aku melihat begitu banyak anak kecil yang sedang bermain di taman ini, ada yang bermain jungkat-jungkit, perosotan, dan ada yang sedang bermain ayunan.
Ah.. aku jadi teringat satu hari dimana kita pernah bermain di taman ini, aku juga teringat saat kita bermain ayunan dan berlomba 'siapa yang berayun lebih tinggi? Dia yang menang'. Aku berayun dengan begitu tinggi, tak mau kalah kamu pun berayun dengan sangat tinggi sembari menutup matamu. Akhirnya aku kalah atau lebih tepatnya aku mengalah. Terlebih lagi mengingat ketika aku mengayun mu dengan begitu kencang, melihat raut wajah ketakutan mu yang begitu lucu membuat ku tak bisa menahan gelak tawa.
Setelah menghabiskan makanan dan melihat anak kecil yang sedang bermain, aku kembali melanjutkan perjalanan menelusuri taman, tak lama aku terhenti pada sebuah jembatan kecil yang menghubungkan jalan yang tadi dengan jalan yang lain. Kini aku kembali teringat saat kamu mengajak ku untuk berlomba lari menuju ke jembatan ini.
"siapa yang sampai ke jembatan itu terlebih dahulu dia yang menang, dan yang kalah harus menggendong yang menang, oke?" ujar mu, Menantang ku untuk berlomba lari.
"ayo siapa takut, kamu pasti kalah, sudah jelas aku ini lebih kuat dari kamu. Mana mungkin kamu bisa menang melawan aku." ujar ku dengan sedikit menyombongkan diri.
"oke, kalau begitu kita buktikan siapa yang akan lebih dulu sampai." katamu sambil mendongakkan kepala seakan memang kamu yang akan menang.
"oke kita mulai." kata ku sambil tersenyum.
Kita mulai berlomba, dan benar aku kalah. Maksudku, apa iya, ada pria yang tidak ingin mengalah demi melihat wanitanya bahagia? Aku yakin pasti mereka akan mengalah. Begitu pun dengan ku, aku mengalah -lagi- untuk nya.
"yeay aku menang, makanya jadi orang jangan sombong dulu kalah kan tuh." ujar mu sambil menggebuk kecil lengan ku.
"oke kamu menang, tapi lain kali aku pasti yang akan menang."
"ah mana mungkin, kamu pasti kalah lagi. Mana ada orang sombong yang menang?."
"iya emang gaada orang sombong yang menang, tpi orang menang terus sombong ada." Jawab ku sambil tertawa kecil.
"bener juga kamu hehe.. yasudah karena kamu kalah, sekarang kamu gendong aku sampai ke depan."
"astaga, kamu makan apa sih? Berat banget, kamu kebanyakan dosa kayanya nih." ujar ku sambil menggendong kamu
"ihh.. kurang ajar." Sembari melayangkan tangan ke kepala ku.
"hehe canda.. oke kita meluncur."Aku menggendong mu sambil berlari, dan lagi-lagi terlihat raut wajah kebahagiaan terpancarkan dalam diri mu, kebahagiaan kita.
aku melanjutkan perjalananku menuju depan taman. Begitu banyak bunga bermekaran di sepanjang jalan, aku terhenti pada suatu bunga yang membuat ku teringat akan sesuatu. Tapi aku iya aku mengingat nya?? Ah iya aku teringat akan suatu hal. Teringat akan dirimu, iya kamu yang dulu pernah singgah di hatiku dan kini entah berada di mana aku tak tahu. Aku ingat saat itu kita sedang duduk dibawah pohon, bercanda ria, tertawa bahkan bernyanyi bersama. Kita menyanyikan lagu Bukti yang mungkin memang saat itu adalah waktu yang tepat dimana aku dan kamu telah menjalankan hubungan selama dua tahun. Ya.. memang bukan lah waktu yang singkat untuk menjalin suatu hubungan, seperti yang kebanyakan orang bilang 'kalau memang bukan jodoh, selama apapun kita menjalin hubungan, pasti akan berakhir' dan mungkin itu yang ku rasakan sekarang, di mana aku dan kamu harus berpisah. Aku memetik sebatang bunga dan aku selipkan diantara telinga mu.
"kamu begitu cantik kalau memakai ini." godaku.
"dasar gombal." kamu tersipu malu.
Aku bangkit dari bangku taman dengan membawa bunga yang ku petik tadi dan kembali melanjutkan perjalanan.
Dalam setiap langkah ku berjalan mengikuti arah bayang yang semakin lama semakin pudar, cerah nya langit berganti menjadi gelap bertanda akan kesedihan dari atas langit, tak lama kini langit mulai menangis menjatuhkan setetes air yang di ikuti oleh setetes air lain; Terkadang hujan seakan menandakan kesedihan bagi sebagian orang begitu pun dengan aku. Dulu aku sangat menyukai hujan, aku bisa mengekspresikan segala kebahagiaan ku saat hujan. Dan kesukaan ku akan hujan bertambah ketika aku mengenal kamu. Kamu suka hujan aku pun suka hujan, bagaikan dua orang yang memang diciptakan berpasangan saat turun nya hujan. Aku teringat pula saat kita bermain di bawah rintik hujan, disaat orang-orang pergi mencari tempat untuk berteduh, kita justru menikmati hujan bersama.
Tapi sekarang semua kebahagiaan itu musnah. setiap kali hujan turun hanya kesedihan yang menyelimuti diriku, di mana kamu pergi membawa kebahagian dan mulai saat itu aku benci hujan.
Apa iya aku bisa mengharapkan itu kembali? Ah itu mustahil, melihat kini kamu mendapatkan kebahagiaan yang baru, mendapatkan dia yang lebih memiliki segalanya dibanding aku.
Setelah kamu pergi, kamu harus tahu bahwa aku tetaplah menjadi orang yang terlihat sangat bahagia. Ku perlihatkan kepada semua orang bahkan pada dunia aku adalah orang yang paling kuat. Yang tidak mereka ketahui; di sisi-sisi sepi hariku, semua kenangan yang pernah kita lalui datang menyiksa diri. Hari demi hari kulalui dengan sangat sulit. Ternyata cinta yang katanya begitu sederhana, bisa membuat hidupku begitu rumit. Aku berbincang pada diriku sendiri. Menguatkan hati berkali-kali. Berharap kamu datang untuk menenangkanku. Hanya saja, kamu tidak pernah datang.
Kini, hidup ku sudah baik kembali. Percayalah, senyuman yang ada di bibirku ini bukan lagi senyuman penguat diri. Aku sudah kuat kembali. Jika suatu hari kamu merindukanku. Coba tenangkan dirimu sendiri; tanamkan dalam dirimu bahwa dihari lalu kamu lah yang memilih pergi. Sadarkan dirimu tidak perlu membuatku merasa bersalah untuk menerima mu kembali.
Dengan basah kuyup, terguyur hujan yang turun bersama sebuah kenangan. Aku berjalan pulang.
***
